2.4.98

Wawancara Emha Ainun Nadjib : "Mengapa Tidak Wiridan di Depan Istana Saja"

Jika mahasiswa mau berdialog dengan pemerintah, maka mahasiswa harus punya titik tembak kontekstual dan sasaran yang jelas. "Dialog itu jangan membicarakan masalah yang global, karena mubazir dan tidak ada gunanya." Hal itu dikemukakan budayawan Emha Ainun Nadjib, ketika memberikan ceramah dalam acara Sarasehan Sosial Budaya, di auditorium FISIP UI, Depok, hari Rabu, 1 April 1998 lalu.
Mahasiswa harus bisa mengkerucutkan masalah, misalnya saja hanya pada persoalan kekayaan pejabat atau meminta agar diatur persentase sumbangan para konglomerat untuk mengatasi dampak krisis yang sudah berimbas ke masyarakat bawah. Ketika ditanya tentang target yang ditetapkan oleh mahasiswa agar Pak Harto melakukan lengser keprabon, Cak Nun mengatakan mahasiswa jangan over target. Hanya aksi satu minggu, sudah beranggapan bisa menjatuhkan kekuasaan presiden Soeharto, ungkap Cak Nun.
Apa saja yang perlu dilakukan mahasiswa jika dialog itu jadi? Berikut bincang-bincang dengan Emha Ainun Nadjib, yang ditemui oleh Edy Budiyarso dari TEMPO Interaktif seusai acara Sarasehan Sosial Budaya di Fisip UI, Depok, hari Rabu 1 April 1998 lalu. Berikut petikannya:
Bagaimana Anda melihat pilihan mahasiswa untuk tetap melakukan aksi daripada dialog dengan pimpinan ABRI dan Presiden?
Mahasiswa itu jangan over target. Jangan hanya berdemonstrasi di UI selama satu minggu, lantas berharap bisa menggulingkan Presiden Soeharto. Target minimal aksi mahasiswa sekarang ini adalah sebagai pemanasan. Target paling banter adalah membangun jaringan, baik dengan kalangan mahasiswa lain di berbagai kampus, maupun dengan segmen masyarakat yang lain, misalnya dengan para santri. Karena santri lebih berani dibandingkan para mahasiswa.
Seperti yang dulu terjadi di Jawa Timur ketika aksi SDSB. Banyak santri yang melakukan unjuk rasa dan merusak toko-toko yang menjual kupon SDSB. Kiai diminta oleh aparat setempat untuk membubarkan massa santri. Lantas kiai pidato di atas mobil meminta para santri pulang ke pesantren. Sambil pulang santri membakar gereja, dan ketika ditanya kembali oleh Kiai, kenapa membakar gereja, para santri menjawab karena Pak Kiai tidak melarang membakar gereja.
Menurut Anda apakah efektif dialog antara presiden dan mahasiswa di dalam situasi yang sangat feodalistik?

Walaupun secara prinsip dan aspiratif saya mendukung inisiatif dialog itu, tetapi menurut hitung-hitungan ilmu silat atau ilmu perang, dialog dengan Presiden Soeharto itu paling efektif hanya 30 persen saja. Tujuh puluh persen lebihnya kontra-produktif.
Mengapa?

Dialog itu hanya akan efektif jika pembicaraan dalam dialog itu dibatasi. Jangan sampai dialog itu hanya akan membicarakan masalah global seperti ketidakadilan. Dialog itu harus mengkerucut, misalnya soal pendataan kekayaan pejabat. Mengapa tidak ada peraturan pemerintah yang membahas prosentase sumbangan orang yang paling kaya di Indonesia untuk mengatasi masalah krisis moneter ini.

Jangan sampai rakyat diminta gelang emas. Jika mau dikembangkan pada persoalan politik, juga harus menukik. Misalnya, mempertanyakan MPR yang ada sekarang ini yang hanya merupakan MPR semu. Jadi jangan sampai ngomong panjang lebar. Kalau itu terjadi menurut saya efektifitasnya 30 persen.
Apakah sekarang ini saat yang tepat bagi mahasiswa untuk berdialog dengan presiden?

Menurut saya momentumnya tidak tepat. Seharusnya dialog itu dilaksanakan sebelum Sidang Umum MPR. Syukur-syukur sebelum pemilu. Kedua, apa yang bisa diharapkan dari dialog dan himbauan-himbauan pemerintah. Posisi Pak Harto dan pemerintah, walaupun dipaksa oleh Tuhan, oleh krisis ekonomi, oleh kebakaran hutan, diadzab dengan banyak kecelakaan, toh mereka masih berusaha mengelak.
Apalagi sekedar himbauan-himbauan yang dilakukan mahasiswa, mereka tidak akan terketuk hatinya. Menurut saya, kalau itu terjadi, mahasiswa hanya akan dieliminir. Mahasiswa diberi oli, sudah dikasih waktu untuk berdialog, lantas dianggap selesai. Sehingga, pada akhirnya mahasiswa merasa sudah berkeringat, sudah berteriak-teriak, tetapi mereka tidak mendapatkan apa-apa.
Apakah tujuannya memberi kesan seolah ada dialog dan ada demokrasi?

Ya, cuma itu.
Bagaimana Anda melihat tuntutan mahasiswa yang meminta Pak Harto untuk turun?

Kalau tuntutan mahasiswa untuk menurunkan Pak Harto, maka yang harus dipersiapkan mahasiswa adalah pasukan lingkar kedua. Yaitu harus menyertakan rakyat. Karena people power itu tidak harus mahasiswa berteriak-teriak di jalan. Tetapi, bisa dilakukan di setiap kota dengan jaringan yang baik dan dengan tekanan politik yang benar-benar efisien.
Misalkan saja, suruh mahasiswa dan santri bergabung, lantas duduk-duduk dan wiridan mengepung istana. Dengan wiridan, tentara relatif lebih takut untuk menembak, paling juga akan ditendang. Dan tidak perlu berbicara macam-macam agar menghemat tenaga. Selain itu perlu dipersiapkan juga dapur umum.
Jadi harus ada lapisan kedua yang benar-benar menjadi political pressure. Sebab jika mahasiswa datang dan langsung menekan Pak Harto, mahasiswa tidak memiliki akar. Padahal, jika mahasiswa punya akar, maka bila ia dibetot akarnya pun ikut terbawa juga.
Apakah dalam kondisi seperti sekarang ini, upaya seperti itu masih bisa dilakukan?

Masih bisa, jika kita mau kompak. Dan seperti juga di Hotel Radisson (kasus Arifin Panigoro), harus diakui bahwa yang kita lakukan memang mengganti kekuasaan. Walaupun, ini bukan soal pemberontakan, soal perlawanan atau kebencian, tapi soal memperbaiki bangsa. Dan Amien Rais pun seharusnya bicara seperti itu. Memang kita membicarakan soal kemungkinan penggantian kekuasaan, kan tinggal bilang seperti itu. Akhirnya, suara Amien Rais yang berubah, jika dulu rock and roll, sekarang menjadi keroncong.
Apakah Anda bersedia memimpin wiridan itu?

Saya bersedia dengan syarat, harus ada satu kesepakatan dengan segmen-segmen kaum aktivis. Agar kita tidak saling bunuh-bunuhan. Minimal harus ada satu pertemuan dan kita bisa urun pendapat.

Menurut Anda apakah mungkin tuntutan mahasiswa itu bisa tercapai?
Untuk saat seperti ini, rasanya tidak mungkin. Karena Pak Harto sendiri tidak bisa melepaskan diri dari keharusan sejarahnya. Jika Pak Harto berhenti di tengah jalan, berarti ia hanya melakukan tinggal glanggang colong playu [meninggalkan gelanggang pertarungan (pengecut)] dan itu tidak akan ia lakukan sebagai seorang raja jawa. Tinggal glanggang colong playu, maksudnya dalam situasi yang kacau Pak Harto tidak akan meninggalkan rakyat.
Bukankah ada raja Mataram yang meninggalkan istananya saat-saat genting, yaitu Amangkurat I?

Pak Harto ingin menjadi Sultan Agung. Selanjutnya, Pak Harto harus mengamankan aset-aset pribadinya. Hal itu terlihat, dengan diangkatnya Bob Hasan sebagai Menteri Perindustrian dan Mbak Tutut sebagai Menteri Sosial, agar sekurangnya ia bisa menjadi Robin Hood. Jadi Pak Harto pintar membuat perimbangan. Di sisi lain lumbungnya tetap dipertahankan, di pihak lain ia tetap mengambil lumbung orang.
Bagaimana Anda membayangkan dialog mahasiswa dengan presiden jika jadi?

Dialog itu akan ngelantur kemana-mana dan mubazir saja. Mahasiswa harus mengkerucutkan persoalan pada masalah seputar audit kekayaan dan harus dibuat aturannya. Jika tidak begitu, mahasiswa bisa bilang tidak paham dan tidak akan keluar dari dialog itu, sebelum persoalannya benar-benar jelas dan tuntas.

Ini bukan soal melawan, tetapi secara rasional seharusnya ada audit kekayaan dan peraturan, yang mengatur bantuan orang-orang kaya terhadap masyarakat yang terkena dampak krisis moneter ini. Ini batas akal mahasiswa. Kalau itu tidak dilakukan, mahasiswa akan pulang dengan linglung, tidak mengerti apa yang dialogkan.

Sphere: Related Content