29.12.98

Soeharto Tumbang, lalu bangkit?

KALAU belum sampai dikubur, tidak perlu mukjizat untuk bisa bangkit lagi. Sekalipun dia bukan kucing yang konon punya sembilan nyawa. Soeharto memang sudah lanjut usianya, tetapi tamsil mengenai tumbangnya kekuasaannya jangan dilihat persis seperti robohnya pohon
tua dan lapuk. Sebagai faktor politik, sebetulnya Soeharto memang belum pernah mati. Inilah pangkal dari kekeliruan menafsir. Disangka riwayatnya tamat bersama tumbangnya kepresidenannya, sehingga ketika mantan presiden ini menggeliat sedikit, ada yang terperanjat dan berseru, dia bangkit kembali!

Ada baiknya kita membuat kalkulasi kembali dengan tenang. Mula-mula, hendaknya kita hitung dulu sekali lagi, siapa dan apa sesungguhnya Presiden Soeharto yang mengundurkan diri bulan Mei lalu. Yang terang, yang mengambil alih kedudukannya bukanlah seterunya yang memenangkan perkelahian melawannya. Singkatnya, Soeharto tidak dalam posisi dikalahkan penggantinya, sedangkan yang mengganti tidak merebut kekuasaan dari tangannya. Habibie adalah wakil presiden yang ditunjuknya, dibesarkan, dan dipeliharanya. Begitu juga Jenderal
Wiranto yang memegang kedudukan Panglima Angkatan Bersenjata. Tentu saja keduanya tidak berkemungkinan untuk jadi algojo yang akan menghabisi bekas pembinanya.

Modal Soeharto amat besar. Tatkala ia masih berkuasa penuh, pernah ada yang memperkirakan bahwa kemampuan keuangan dan ekonomi yang dikumpulkannya dan keluarganya cukup untuk membuat perekonomian Indonesia tergantung padanya. Kemampuan itu relatif tidak berkurang ketika Soeharto turun karena garis perbekalannya tidak langsung
dipotong. Tak ada tindakan segera untuk membekukan atau menyita kekayaannya. Dan sesudah mengundurkan diri, cukup banyak waktu baginya untuk mengonsolidasi dana tunainya.

Bukan cuma kekuatan basis keuangan saja modalnya. Para pejabat, sipil dan militer, hampir semua adalah binaannya atau berutang budi kepadanya. Banyak rahasia keterlibatan mereka di tangan Soeharto. Meskipun banyak yang menjauhi, tetapi secara mental hampir tak ada
yang berani melabrak Soeharto kalau berhadap-hadapan langsung. Jadi, walau sudah berkurang, pengaruh Soeharto masih dominan terhadap mereka yang menjalankan kekuasaan sekarang. Demikian juga terhadap banyak tokoh masyarakat lainnya, yang menjadi tokoh karena dikarbit di zaman Soeharto. Tanpa harus disuruh, mereka sudah merasa sungkan lebih dulu pada orang yang dituakan ini. Jadi, tidak berani menilai, apalagi menghakimi.

Lagi pula, sebenarnya Soeharto bukan tidak merencanakan jatuh dengan empuk sewaktu mengumumkan pengunduran dirinya. Ketika tekanan gerakan mahasiswa hampir memuncak, Soeharto mencoba menjinakkan dengan kabinet reformasi dan dewan reformasi. Setelah ternyata gagal, dia mencabut sumbu peledak sebelum meletus: ia mundur, Habibie meneruskan. Dengan itu dia mencegah kerusakan yang lebih parah yang harus dipikulnya.
Resminya dia jatuh, tetapi tidak tergilas. Karena, penerima wewenang dan penentu nasibnya selanjutnya adalah Habibie, bukan reformis mahasiswa dan kaum oposan lainnya. Dengan mundur, Soeharto bukan tidak kehilangan banyak, dan masih harus menyerahkan beberapa lagi. Tetapi dia tidak dihancurkan sehabis-habisnya. Itulah minimal yang ingin dicapainya sementara ini.

Tidak Menyerang, Tidak Menyerah

Kalau modalnya masih kuat, dan belum pernah tumbang benar, apa yang akan diperbuatnya? Memang, dari pandangan yang konfrontatif, kemungkinannya cuma kalah atau menang. Yang paling mungkin bagi Soeharto ialah mencoba mencari modus vivendi saja, cara hidup bersama
yang tidak saling mengganggu. Barangkali sementara ini dia tidak akan merasa perlu menyerang balik dan berkuasa lagi. Ibarat bermain catur, tujuannya adalah mencari posisi dengan kesudahan remis. Tetapi, sekalipun tidak mengarah pada kemenangan, dan bersedia mengorbankan banyak buah caturnya, sama sekali itu tidak berarti dia rela menyerah. Dalam bahasa konkret, Soeharto tidak rela diadili dan dijatuhi hukuman.

Jadi bagaimana? Semua tergantung pada imbangan kekuasaan. Tidak perlu dibuktikan lagi, pemegang kekuasaan yang sekarang tidak mungkin diharapkan memusuhi, apalagi memusnahkan Soeharto. Harus menunggu penguasa baru kalau begitu. Itu sebabnya banyak yang menanti pemilihan umum dengan harapan besar. Sesudah ada pemerintah baru yang
bersemangat baru, saat itulah persoalan-persoalan reformasi bisa diselesaikan dengan tuntas.

Tapi ini justru soal yang harus dipecahkan. Bagaimana memastikan bahwa pemenang pemilihan umum adalah golongan yang akan menempatkan Soeharto dan rezimnya di pihak yang bersalah dan harus dihukum? Sebab kesempatan pendukung Soeharto menang juga selalu ada. Melarang
pendukung Soeharto untuk ikut pemilihan umum? Bukan saja itu tidak ada dasar legalnya, tetapi penguasa sekarang juga tidak tegas sikap politiknya ke arah itu. Kita akan berputar-putar dalam lingkaran setan karena akhirnya yang diharapkan ialah ketegasan langsung terhadap
Soeharto. Bukankah justru itu yang tidak kita peroleh dengan Habibie di tampuk kekuasaan?

Akhirnya, memang harus diakui, cara praktis yang masih tersedia untuk menumbangkan rezim Soeharto hanyalah membawanya ke pengadilan, sebelum pemilihan umum. Kalau ada perlawanan dari yang bersangkutan, pemerintah harus bersikap tegas. Apabila pemerintah sendiri yang ragu-ragu, atau mencoba mengulur waktu, maka masyarakat harus mendesak
dengan sungguh-sungguh. Kalau itu gagal, maka benarlah, bangkitnya Soeharto tidak perlu dirisaukan karena dia memang belum pernah tumbang.


Majalah Tempo, 29 Desember 1998

Sphere: Related Content