8.10.07

Keluarga Pinochet ditahan karena korupsi, lalu bagaimana Suharto?

 
----- Original Message -----
From: Umar Said
Sent: Monday, October 08, 2007 4:23 AM
Subject: [mediacare] Keluarga Pinochet ditahan karena korupsi, lalu bagaimana Suharto?

Tulisan ini juga disajikan dalam website

http://kontak.club.fr/index.htm)

 

Catatan A. Umar Said

 

                                Keluarga Pinochet ditahan karena korupsi,

                                lalu bagaimana dengan Suharto ?

Seperti halnya berita tentang dikategorikannya Suharto oleh PBB dan Bank Dunia sebagai koruptor terbesar di dunia yang telah menarik perhatian  banyak orang, maka juga berita yang disiarkan secara luas tentang perintah penahanan terhadap janda Jenderal Pinochet (mantan pimpinan tertinggi militer dan presiden Cili) beserta 5 anak-anaknya dan 17 pembantu (militer dan sipil) terdekatnya karena tuduhan korupsi, merupakan satu berita lainnya yang bisa menarik banyak perhatian internasional.

Berita tentang tindakan terhadap istri dan anak-anak Pinochet tersebut disiarkan mulai tanggal 4 Oktober 2007 oleh kantor-kantor berita internasional dan nasional yang besar-besar, seperti United Press, Associated Press, Reuter, AFP, Kyodo, dan juga radio-radio berbagai negeri. Boleh dikatakan banyak suratkabar di dunia juga menyiarkan berita yang termasuk menarik ini.

Oleh karena pentingnya masalah perintah penahanan terhadap keluarga mantan diktator Cili beserta sejumlah besar pembantu-pembantunya, dan kaitannya dengan kasus korupsi besar-besaran jenderal Pinochet, maka berikut ini disajikan rangkuman berita-berita dari berbagai sumber mengenai persoalan-persoalan itu. 

Mungkin sekali banyak orang di Indonesia ketika membaca berita tentang tindakan hukum terhadap keluarga mantan diktator Pinochet ini akan teringat kepada kasus korupsi besar-besaran yang dilakukan oleh keluarga Suharto, seperti yang disajikan dalam laporan majalah TIME atau tulisan George Aditjondro.

Karenanya, berita tentang tindakan terhadap janda Pinochet dan 5 anak-anaknya beserta sejumlah besar pembantu-pembantunya itu akan membangkitkan kemarahan banyak orang di Indonesia (dan juga di luarnegeri) mengenai kasus korupsi Suharto. Dan wajar sekalilah kiranya kalau ada orang-orang di antara mereka  yang  bertanya, bahkan diiringi pula dengan protes : « Kalau kejahatan-kejahatan Pinochet (yang jauh sekali lebih kecil dari kejahatan-kejahatan Suharto !!!)  bisa ditindak secara hukum, mengapa kejahatan-kejahatan Suharto tidak ? »

Mengenai persoalan sekitar kasus Pinochet dan Suharto, yang mungkin sekali menjadi perhatian banyak orang ini, sekarang  sedang dipersiapkan adanya sebuah rubrik  khusus dalam website http://kontak.club.fr/index.htm yang merupakan kumpulan  berita, tulisan atau bahan-bahan mengenai persoalan ini, dihubungkan dengan gugatan Suharto terhadap Time dan juga dengan disiarkannya oleh PBB dan Bank Dunia bahwa Suharto adalah pencuri nomor satu di dunia.  Yang berikut ini adalah rangkuman berita terbaru dari berbagai sumber yang berkaitan dengan tindakan pengadilan Cili terhadap keluarga Pinochet itu :

Rangkuman berita dari berbagai sumber

Dari Santiago (Cili) berbagai kantor berita internasional dan TV  melaporkan bahwa janda Pinochet beserta  5 anak-anaknya adalah termasuk di antara 23 orang yang baru-baru ini telah ditindak karena telah terlibat dalam korupsi yang dilakukan oleh mantan presiden Cili Augusto Pinochet. Sebagian besar di antara mereka itu, antara lain Lucia Hiriart (janda Pinochet) dan anak-anaknya telah ditahan. Bahkan, istri mendiang Pinochet, Lucia Hiriart, telah dimasukkan dalam rumahsakit militer Santiago sebagai tahanan karena menderita tekanan darah tinggi. Kemudian diberitakan bahwa ia dikeluarkan dari tahanan, berhubung umurnya yang sudah lanjut  (84 tahun). Pengacaranya,  sedang mengajukan naik banding.

Di antara mereka yang didakwa terlibat dalam korupsi yang dilakukan di bawah kekuasaan Pinochet ini terdapat 4 jenderal purnawirawan dan sejumlah petinggi militer bawahan lainnya, termasuk juga sekretaris kawakan Pinochet, Monica Ananias, dan pengacara Pinochet Ambrosio Rodriguez. Jaksa Carlos Cerda mengatakan ia telah memerintahkan penahanan mereka itu karena adanya indikasi yang kuat (solid) bahwa mereka berpartisipasi dalam penyelewengan pajak (misuse of fiscal funds) selama kediktatoran Pinochet antara 1973-1990. Indikasi-indikasi tersebut dijelaskan dalam  dokumen pengadilan (courts documents) yang setebal 2000 halaman. Di antara indikasi-indikasi tersebut terdapat persoalan  penyelewengan sebesar $ 27 juta yang disimpan dalam bank-bank di Cili dan di luarnegeri. Jaksa Carlos Cerda sedang mempertimbangkan apakah mereka itu akan ditahan terus atau dibebaskan untuk kemudian diajukan di depan pengadilan.

Menteri Kehakiman Cili, Carlos Maldonado mengatakan bahwa ia tidak akan memberikan perlakuan istimewa yang berbentuk apa pun (any form of privileged treatment) terhadap keluarga Pinochet yang ditahan. "Kita semua orang-orang Cili adalah setara (sederajat) di depan hukum. (We Chileans are all equal before the law)".

Jaksa Carlos Cerda juga bertugas untuk mengusut pengiriman secara sembunyi-sembunyi oleh Pinochet uang  sebanyak $ 25 juta dengan bantuan bank Riggs yang bermarkas di Washington. Kasus ini muncul ketika dalam 2004 Senat AS menemukan ratusan rekening atas nama Pinochet dan keluarganya dalam bank Riggs ini.

Pemerintah Cili menegaskan bahwa tindakan penahanan terhadap istri dan anak-anak Pinochet beserta 17 pembantu-pembantu terdekatnya adalah sepenuhnya berupa keputusan hukum (strictly judicial decision). "Pengadilan sudah memerintahkan penahanan ini (the courts have ordered the arrest). Pemerintah tidak memberikan keterangan lainnya", kata menteri dalamnegeri Cili Felipe Harboe. Sedangkan Presiden (wanita) Cili, Michele Bachelet, mengatakan tentang perintah penahanan ini "Kami menunggu putusan pengadilan dengan tenang. Tidak ada seorang pun di Cili yang berada di atas hukum".

Jenderal Pinochet, yang memerintah Cili antara 1973-1999 telah meninggal dalam bulan Desember tahun yang lalu ketika berumur 91 tahun. Waktu meninggal ia sedang menjalani tahanan rumah karena dituduh telah melakukan korupsi, penggelapan pajak dan pelanggaran HAM. Sampai meninggalnya ia tidak jadi diadili oleh pengadilan karena alasan kesehatan dan sudah  tua. Tetapi selama ia dalam tahanan sebagian harta yang dikumpulkannya lewat korupsi dapat dibekukan.

Pinochet wafat dengan meninggalkan istrinya Lucia Hiriart (sekarang umur 84 tahun)  dan 5 anaknya yang masing-masing bernama Augusto, Lucia, Marco Antonio, Jacqueline dan  Veronica. Kematiannya juga meninggalkan citra buruk bagi keluarga dan para pembantunya terdekat.  Para jaksa Cili yang mengusut perkaranya selalu mengatakan bahwa keluarga besar Pinochet telah terlibat dalam berbagai kejahatannya itu dan karenanya mereka harus diadili.

Pinochet, salah seorang pimpinan militer di Amerika Latin menjadi  paling tersohor karena telah merebut kekuasaan dari presiden terpilih Salvador Allende yang berhaluan sosialis, dengan mendapat bantuan terang-terangan dari AS (lewat kegiatan-kegiatan CIA-nya). Setelah melakukan  coup d'etat, maka Pinochet telah memburu dan menghabisi kekuatan kiri yang mendukung presiden Allende, yang merupakan  kejahatan-kejahatan terhadap HAM secara besar-besaran dalam sejarah modern Cili.

Sekitar 3000 orang telah dibunuh oleh aparat militer (termasuk oleh intel Cili yang terkenal kejamnya), dan 28 000 orang telah ditahan secara sewenang-wenang dan disiksa, sedangkan ratusan ribu orang lainnya lari keluar negeri ke berbagai penjuru di dunia. Di antara orang yang pernah dipersekusi Pinochet adalah Michele Bachelet, wanita yang sekarang terpilih untuk menjabat sebagai presiden Cili. Ia sendiri pernah ditahan dan disiksa di rumah penjara,sedangkan ayahnya telah wafat di penjara sesudah mengalami siksaan berat.

Sementara itu didapat berita juga bahwa Perancis sedang menuntut  diadilinya in absentia 17 pembantu-pembantu Pinochet karena dituduh telah menghilangkan 4 warganegara Perancis dalam tahun 70-an. Di antara mereka yang dituntut diadili itu terdapat Manuel Contreras, pembangun polisi rahasia Cili, dan Paul Schaefer, yang memimpin Colonia Dignidad, suatu kamp besar  dimana banyak tahanan politik disekap selama kediktatoran Pinochet.

Banyak pelajaran dari Cili

Agaknya, dari rangkuman berita tentang tindakan terhadap keluarga Pinochet beserta 17 pembantu-pembantu terdekatnya tersebut di atas dapat ditemukan banyak hal-hal yang bisa menjadi bahan renungan kita bersama, kalau dikaitkan dengan berbagai persoalan di negeri kita, termasuk masalah besar bangsa yang berupa kejahatan-kejahatan Suharto beserta keluarganya (dan konco-konconya). Banyak persoalan yang berkaitan dengan kasus keluarga Pinochet yang bisa dijadikan pelajaran bagi dunia hukum dan peradilan di negeri kita. Dan banyak pula contoh yang bisa kita ambil dari pengalaman di Cili mengenai tindakan-tindakan yang perlu dilakukan terhadap para pelanggar HAM.

 Berikut ini adalah sekadar sejumlah pemikiran-pemikiran sebagai sumbangan untuk renungan bersama dalam usaha menelaah persoalan-persoalan tersebut di atas dari berbagai pendekatan :

Sebagai dua negara yang pernah sama-sama mengalami kediktatoran militer, Indonesia dan di Cili mempunyai sejumlah persamaan dalam berbagai hal.  Kediktatoran militer tersebut telah dijalankan di kedua negeri ini dengan ketat dan kejam sekali, dan telah menimbulkan berbagai ragam kejahatan yang berupa pelanggaran HAM dan perusakan kehidupan demokratik yang serius serta korupsi yang merajalela.  

Dua rejim militer ini,  yang dua-duanya sejak permulaan berdirinya mendapat bantuan atau dukungan AS (termasuk CIA-nya), telah menjalankan politik anti-komunis atau anti-kiri pada umumnya, dalam rangka Perang Dingin pada waktu itu. Artinya, untuk lebih jelas lagi, dalam jangka yang lama sekali rejim militer Pinochet dan rejim militer Suharto merupakan sekutu yang amat penting bagi kekuatan imperialisme AS

Kejahatan Suharto jauh lebih besar dari Pinochet

Tetapi, disamping adanya persamaan dalam berbagai hal antara dua rejim ini, terdapat juga perbedaan-perbedaan, yang menjelaskan lebih terang lagi berbagai aspek dua kediktatoran ini. Kalau Pinochet memegang kekuasaan dengan tangan besinya selama 17 tahun (1973-1999) maka Suharto telah menguasai secara mutlak rejim militernya selama 32 tahun, jadi hampir dua kali lebih lama. Karenanya,  ketika Pinochet selama 17 tahun dapat mengendalikan dan memupuk secara ketat aparat militernya, maka Suharto dalam skala yang jauh lebih besar - dan cara yang lebih kejam  ! - telah mengangkangi seluruh negara selama 32 tahun lewat diktatur militernya yang diberi nama Orde Baru.

Kalau Pinochet selama menjabat presiden dan panglima tertinggi melakukan korupsi dan berbagai penyelewengan lainnya sehingga menumpuk kekayaan sebanyak ratusan juta dollar AS, maka kekayaan haram Suharto ditaksir oleh berbagai badan internasional (antara lain oleh PBB, Bank Dunia, Transparency Internasonal)  sebesar antara 15 miliar dan 35 miliar dollar AS.

Berbagai dokumen  mencatat bahwa  pelanggaran HAM Pinochet meliputi 3000 orang dibunuh dan 28 000 orang ditahan sebagai tapol.  Dosa Pinochet dalam hal ini adalah jauh lebih kecil sekali dibandingkan dengan  kejahatan yang harus dipertanggungjawabkan Suharto yang  meliputi 3 juta orang yang dibunuh secara sewenang-wenang, ratusan ribu tapol yang ditahan bertahun-tahun di penjara-penjara dan kamp-kamp (termasuk 10 000 di Pulau Buru) dan puluhan juta orang lainnya sebagai korban Orde Baru.

Jadi, dalam beberapa hal, ada persamaannya antara Pinochet dan Suharto, tetapi banyak hal juga berbeda jauh sekali, umpamanya (antara lain)  mengenai besarnya jumlah kejahatan HAM atau hasil korupsi. Jelaslah kiranya bagi banyak orang bahwa apa yang telah dilakukan oleh Pinochet terhadap rakyat Cili adalah jahat dan serius sekali, tetapi apa yang dilakukan Suharto adalah ribuan kali lebih serius dan juga lebih jahat lagi, kalau dilihat dari berbagai segi.

Mengapa Pinochet bisa ditindak tapi Suharto tidak

Dengan mengingat itu semuanya, maka kita bisa bertanya-tanya : kalau Pinochet sudah bisa diusahakan untuk diadili (tetapi tidak jadi terlaksana karena keburu meninggal dalam tahanan rumah)  mengapa Suharto tidak (atau belum?) bisa diadili juga sampai sekarang, padahal skala berbagai kejahatannya adalah justru jauh lebih besar (!!!) dari pada berbagai  kejahatan Pinochet?

Menurut The Times (5 Oktober 2007) lebih dari  500 mantan perwira militer Cili sedang menghadapi penyelidikan dalam rangka dakwaan pelanggaran HAM dan keterlibatan dalam korupsi, termasuk di antaranya 50 jenderal pendukung Pinochet. Mengenai hal ini, jaksa Hugo Gutierez yang mengurusi kasus-kasus pelanggaran HAM di Cili mengatakan "Meninggalnya jenderal Pinochet hanya telah mengakhiri tanggungjawabnya terhadap berbagai kesalahan kriminalnya sendiri, tetapi tidak menghapus tanggungjawab para pembantunya dan  kakitangannya yang melakukan berbagai pelanggaran bersama-sama Pinochet".

Ketika membaca ditindaknya 500 mantan perwira militer dan 50 jenderal Cili tersebut di atas, barangkali tidak sedikit di antara kita yang ingat kepada banyaknya pelanggaran HAM yang sangat parah di Indonesia selama pemerintahan Orde Baru, dan yang karenanya juga mungkin  bertanya-tanya: "Kalau di Cili para pelaku kejahatan HAM dan korupsi bisa ditindak secara hukum; mengapa di Indonesia para pelanggar HAM ini tidak diapa-apakan? "

Bahan-bahan untuk renungan bersama

Yang berikut di bawah ini adalah sejumlah bahan-bahan untuk mencoba memberikan sekadar jawaban-jawaban terhadap pertanyaan tersebut di atas, sebagai sumbangan bagi  renungan  kita bersama :

Di Cili bisa diadakan penegakan hukum dan mengadili para pelaku pelanggaran HAM dan korupsi, berkat adanya kemauan politik (political will) yang jelas dari pemerintah yang berkuasa sekarang. Di Indonesia, justru kemauan politik untuk bertindak terhadap pelaku pelanggaran HAM (khususnya terhadap Suharto dan pembesar-pembesar militer pembantunya) inilah yang tidak ada.

Dengan jatuhnya Pinochet tidak sebagai presiden lagi, maka usaha mereformasi aparat birokrasi dan berbagai lembaga-lembaga penting yang tadinya dikuasai secara ketat oleh diktatur militer Pinochet bisa berangsur-angsur dilaksanakan, dan makin kelihatan nyata setelah presidennya dijabat oleh Michel Bachelet (eks-tapol Pinochet dan penganut faham sosialis). Sedangkan di Indonesia, setelah Suharto dipaksa turun dari jabatannya, boleh dikatakan reformasi tidak jalan sama sekali, sehingga sisa-sisa Orde Baru masih  tetap bercokol kuat di bidang eksekutif, legislatif, dan judikatif. Pemerintahan yang silih berganti sesudah Suharto jatuh adalah pada pokoknya (atau pada hakekatnya) adalah neo-Orde Baru.

Di Cili penegakan hukum bisa diusahakan dijalankan dan dihormati, dan karena itu kepercayaan rakyat kepada pemerintah bisa dipupuk. Di Indonesia sebaliknya, penegakan hukum hanya menjadi pemeo yang tidak artinya atau sebagai slogan yang tidak ada harganya sama sekali. (Contohnya, antara lain : kasus gugatan Suharto terhadap majalah TIME, berbagai kasus Tommy Suharto, kasus 7 yayasan Suharto, kasus pembunuhan Munir dll dll dll dll !!!).

Di Cili para korban diktatur militer Pinochet mendapat perlakuan yang layak dan juga pembelaaan dalam berbagai cara dan bentuk untuk menuntut keadilan. Di Indonesia, para korban Orde Baru (yang jumlahnya jutaan orang itu) masih tetap terus mengalami berbagai perlakuan yang tidak layak dari pemerintah dan dari sebagian kalangan  di masyarakat.

Di Cili keluarga mantan presiden Pinochet (istri beserta 5 anaknya) dapat ditindak (dalam tahanan)  karena dituduh terlibat korupsi yang dilakukan Pinochet, berkat adanya sistem hukum dan peradilan yang independen, bersih, dan berwibawa. Di Indonesia, banyak pengalaman (umpamanya : di Mahkamah Agung, Kejaksaan Agung)  menunjukkan betapa bobroknya moral para hakim dan jaksa kita (dan tokoh-tokoh dalam berbagai lembaga penting lainnya) dalam menghadapi kasus keluarga Suharto.

Di Cili banyak kesalahan-kesalahan diktatur militer Pinochet telah dikoreksi dan para pelaku berbagai kejahatan (politik,ekonomi, militer dan HAM) telah dan sedang terus ditindak. Tetapi di Indonesia kita saksikan masih diteruskannya  -sampai sekarang ! - berbagai politik salah semasa pemerintahan Orde Baru.

Berbagai fakta dan banyak pengalaman sudah menunjukkan dengan jelas bahwa berlainan dengan situasi di Cili, dimana perubahan besar sudah - dan sedang terus  - terjadi di bidang politik dan pemerintahan, maka di Indonesia tidak ada perubahan mendasar. Perubahan besar di Indonesia hanyalah mungkin terjadi kalau ada pergantian kekuasaan politik dari yang sekarang, yang masih didominasi  oleh orang-orang yang  sikap politik dan moralnya masih berbau Orde Baru

Lalu, bagaimana dengan kasus Suharto beserta keluarganya?

Paris, 8 Oktober 2007   

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Finance

It's Now Personal

Guides, news,

advice & more.

New business?

Get new customers.

List your web site

in Yahoo! Search.

Featured Y! Groups

and category pages.

There is something

for everyone.

.

__,_._,___


No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.488 / Virus Database: 269.14.4/1056 - Release Date: 07/10/2007 18:12

Sphere: Related Content

No comments: