15.12.07

Dugaan Tommy Buyback PT Timor Semakin Kuat

Dugaan Tommy Buyback PT Timor Semakin Kuat

http://jawapos.com/index.php?act=detail_c&id=317271
Sabtu, 15 Des 2007,
Dugaan Tommy Buyback PT Timor Semakin Kuat

Kejagung Pegang 33 Dokumen Transaksi
JAKARTA - Kejaksaan Agung (Kejagung) semakin mantap menggugat Tommy
Soeharto untuk membatalkan dugaan buyback PT Timor Putra Nasional
(PT Timor). Mereka telah memegang sedikitnya 33 dokumen yang
menguatkan adanya rekayasa pembelian aset tersebut di BPPN oleh PT
Bella Vista Pratama (PT Vista).

Dari dokumen yang dipegang Gedung Bundar -sebutan Kejagung- itu,
terlihat jelas ada hubungan PT Humpuss dengan PT Vista. Sejumlah
dana telah ditransfer dari Humpuss yang bermuara ke PT Vista.

Direktur Perdata Kejagung Yoseph Suardi Sabda menjelaskan, dokumen-
dokumen tersebut diserahkan menteri keuangan (Menkeu) kepada
kejaksaan beberapa hari lalu. "Semua mencapai 33 dokumen. Ini
sebagian saja," kata Yoseph sambil menunjukkan dokumen tersebut di
ruang kerjanya, gedung JAM Perdata dan Tata Usaha Negara (Datun),
kemarin.

Meski telah menerima "amunisi", kejaksaan masih menunggu penerbitan
surat kuasa khusus (SKK) dari Menkeu.

Menurut rilis KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), kasus tersebut
bermula dari PT Timor yang tak mampu membayar utang Rp 4,576 triliun
ke BBD. Lantas, masalah itu diambil alih BPPN dengan menyita PT
Timor. Nah, kemudian PT Vista membeli aset PT Timor di BPPN dengan
harga supermurah Rp 512 miliar, atau 11 persen dari nilai seharusnya
Rp 4,576 triliun. Jadi, negara dirugikan sekitar Rp 4 triliun. Yang
menjadi persoalan, ditemukan indikasi bahwa uang yang digunakan PT
Vista untuk transaksi itu berasal dari Grup Humpuss, milik Tommy.

Bukti adanya buyback itu, menurut Yoseph, adalah dokumen-dokumen
yang berupa sejumlah surat perintah pembayaran uang (single
credit). "Kebanyakan berisi bukti transfer dari PT Timor. Sebagian
lagi ada (bukti transfer) dari Humpuss, baik langsung maupun melalui
perantara," ujar jaksa berkaca mata minus itu.

Yoseph lantas menunjukkan salah satu surat perintah transfer dari PT
Timor ke PT Vista melalui RTGS (real time gross settlement) Bank
Mandiri pada 3 November 2003 untuk dua kali pengiriman, yakni Rp 7,8
miliar dan Rp 875 juta.

Sebelumnya, pada 10 April 2003, Tommy melalui Humpuss pernah
memerintahkan transfer USD 8,327 juta ke PT Mandala Buana Bhakti
(Mabua) melalui Bank BNI cabang Menteng, Jalan Menteng no 76,
Jakarta Pusat. Dalam surat yang ditujukan kepada Kepala Kantor BNI
Cabang Menteng Gaguk Hartadi itu, transfer melalui perintah mendebit
pada rekening giro Humpuss no AC#094.0.00229662.002 per tanggal
sesuai surat. Nilainya, USD 8,327,968.33 (full amount). Sesuai surat
tersebut, uang ditransfer ke PT Mandala Buana Bhakti dengan nomor
rekening AC#908.02.003.00.1 pada Bank Niaga cabang Gadjah Mada,
Jalan Gadjah Mada no 18, Jakarta Pusat.

Menurut Yoseph, perintah transfer tersebut untuk mengganti uang PT
Mandala Buana Bhakti yang menyetor dana Rp 53 miliar ke BPPN atas
nama PT Vista pada 8 April 2003, atau dua hari sebelum Humpuss
menggantinya. PT Mandala Buana Bhakti mengirimkan uang ke BPPN
melalui Bank Niaga. "PT Vista, rencananya, memang mengikuti tender
aset PT Timor di BPPN," jelas Yoseph.

Menurut Yoseph, selain telah diterima kejaksaan, KPK memiliki 33
dokumen tersebut. "KPK pasti sudah menyita semua dokumen asli,"
jelas jaksa yang segera memasuki masa pensiun itu.

Dia menegaskan, melalui 33 dokumen tersebut, kejaksaan -sambil
menunggu SKK Menkeu- bakal menyusun draf gugatan kepada Tommy dan
pihak terkait. "Kami tak perlu menyomasi Humpuss atau Tommy. Saya
kira, pemberitahuan gugatan sudah dapat dianggap somasi," jelas
Yoseph.

Dia menambahkan, kejaksaan tidak akan menempuh jalur gugatan di
badan arbitrase, tetapi langsung kepada pendaftaran gugatan di
pengadilan. Sebab, kasusnya menyangkut kepentingan umum. Sebelumnya,
di salah satu klausul perjanjian jual beli piutang (PJBP) BPPN dan
PT Vista terungkap, jika ada perselisihan pembelian, para pihak yang
terlibat harus menyelesaikan melalui BANI (Badan Arbitrase Nasional
Indonesia).

Menurut Yoseph, melalui gugatan, diharapkan perjanjian pembelian
aset PT Timor oleh PT Vista bisa batal. "Dengan pembatalan tersebut,
utang pemerintah masih ada pada PT Timor," tegas Yoseph. Dan, hutang
tersebut harus diselesaikan sesuai komitmen Tommy yang siap dengan
jaminan pribadinya (personal guarantee).

Dia lantas menunjukkan surat berisi jaminan pribadi yang diteken
Tommy saat mengajukan utang USD 260 juta ke Bank Bumi Daya (BBD,
kini Bank Mandiri) pada 21 September 1998. Dalam surat tersebut,
Tommy siap menjaminkan pribadinya jika penyelesaian utang melalui
penyerahan aset dianggap kurang. "Dia menjamin, kalau tidak bayar
aset, dia akan (tetap) bayar meski hanya sampai Rp 2 triliun. Nah,
komitmen ini akan kami kejar," tegasnya.

Yoseph tidak tahu dari mana Tommy bakal menyerahkan jaminan pribadi
untuk menutupi utang USD 260 juta ke BBD. "Bisa jadi berbentuk aset
pribadi Tommy, termasuk uang di Guernsey kali," ujarnya.

Ditanya siapa yang memiliki PT Vista, Yoseph menyatakan telah
mengantongi nama-namanya. Di antaranya, Taufik Suryadarma dan M.
Hatono Fauzan. Rinciannya, Taufik mempunyai saham PT Vista 300 ribu
lembar, sedangkan Fauzan memiliki 500 ribu lembar saham. Dari
informasi yang dimiliki kejaksaan, PT Vista bergerak di bidang
realestate dan agrobisnis. "Ini juga janggal, perusahaan di luar
bisnis inti dapat membeli aset perusahaan otomotif," tuturnya.

Hingga tadi malam, Dirut Grup Humpuss Eko Putro Sanjojo belum bisa
dikonfirmasi. Namun, beberapa kali wartawan koran ini menghubungi,
Eko Putro menegaskan, Humpuss tidak berkaitan dengan PT Vista.
(agm/tof)

Sphere: Related Content

No comments: