19.12.07

Kasus uang haram Tommy Suharto

(Tulisan ini juga disajikan di website

http://kontak.club.fr/index.htm)

Kasus uang haram Tommy Suharto :

Putar-putar Duit Timor

Mengingat pentingnya persoalan uang haram Tommy Suharto, yang meliputi
jumlah triliunan Rupiah dan kelihatan makin berbelit-belit sekali urusannya,
maka berikut ini disajikan laporan majalah Tempo edisi 23 Desember 2007.
Dengan membaca tulisan ini, walaupun sepintas lalu dan hanya
sepotong-sepotong saja, para pembaca dapat memperoleh gambaran betapa
"hebatnya" dan luasnya jaring-jaringan "bisnis"-nya. "Bisnis" Tommy Suharto
adalah -- pada intinya -- praktek-praktek yang meliputi : korupsi,
kolusi, main suap, main gertak, main desak, main tipu, yang dilakukan dengan
berbagai cara dan bentuk, dengan dibantu oleh para kakitangannya yang
terdapat dimana-mana)

. Praktek-praktek "bisnis" kotor inilah yang
memungkinkan Tommy Suharto menumpuk kekayaan yang begitu besar dalam waktu
singkat.. Tentang berbagai macam kasus Tommy Suharto harap simak : "Kumpulan
berita soal harta haram Tommy Suharto".

1.. Umar Said

=== ===

Tulisan dalam majalah Tempo 23 Desember 2007 tersebut adalah sebagai berikut
:

"Bukti-bukti Tommy Soeharto di balik perusahaan pembeli aset Timor

semakin kuat. Transaksi Rp 4,5 triliun itu bisa dibatalkan.

DOKUMEN setebal 10 sentimeter itu dibentangkan di atas meja. Isinya

pelbagai berkas yang berhubungan dengan perjanjian jual-beli hak

tagih piutang pemerintah atas PT Timor Putra Nasional milik Hutomo

Mandala Putra. Di antaranya bukti transfer duit dari Timor ke PT

Vista Bella Pratama, pembeli hak tagih senilai Rp 4,5 triliun itu.

"Ini menunjukkan adanya hubungan antara Vista Bella dan Timor serta

PT Humpuss," kata Yoseph Suardi Sabda, Direktur Perdata Kejaksaan

Agung, Jumat pekan lalu. PT Humpuss adalah kelompok usaha milik

Hutomo alias Tommy Soeharto.

Bukti-bukti keterkaitan antara Tommy dan Vista Bella kini gencar

diburu penyidik Kejaksaan Agung dan Komisi Pemberantasan Korupsi.

Soalnya, hak tagih piutang Rp 4,5 triliun itu dijual dengan harga Rp

512 miliar saja. Pemerintah berharap bisa membatalkan perjanjian

jual-beli piutang antara Badan Penyehatan Perbankan Nasional dan

Vista Bella yang diteken pada 15 April 2003 ini.

Transfer duit dari Timor ke Vista itu dilakukan pada November 2003.

Buktinya adalah dua surat perintah bayar tertanggal 3 November dari

Timor kepada Bank Mandiri untuk dikirim ke Vista Bella. Ada pula

transfer dana dari Humpuss kepada Vista Bella yang dilakukan melalui

perusahaan lain, yaitu PT Mandala Buana Bhakti. Mandala Buana, juga

milik Tommy, berkantor di Gedung Granadi, Kuningan, Jakarta Selatan,

tempat sejumlah yayasan mantan presiden Soeharto berkantor.

Menurut Yoseph, pada 10 April 2003 Humpuss mengirim surat ke Bank

Negara Indonesia Cabang Menteng untuk mentransfer dana ke Mandala

Buana. Besarnya US$ 8 juta atau sekitar Rp 72 miliar. Surat itu

ditandatangani Direktur Utama Humpuss Rulyani Basyir.

Dua hari sebelum transfer itu, Mandala ternyata telah memindahkan

duit lain. Perusahaan itu memerintahkan Bank Niaga membayarkan Rp 53

miliar ke BPPN. Nah, yang jadi soal, pembayaran ini dilakukan untuk

kepentingan Vista Bella. "Jadi dibayar dulu oleh Mandala, baru

diganti," Yoseph menjelaskan.

Kepada Tempo, Taufik Surya Darma, Direktur Vista Bella, tak menampik

adanya aliran duit dari Timor ke perusahaannya. Namun, menurut dia,

duit itu tidak ada kaitannya dengan transaksi pembelian hak tagih

yang sudah selesai tujuh bulan sebelumnya. "Lagi pula duit itu

masuk ke rekening Vista Bella untuk diteruskan ke pihak lain,"

katanya (lihat "Nggak Mungkin Saya yang Main").

Menurut akta pembentukannya, Vista Bella dibentuk pada April 2002

oleh Mohammad Hartono Fauzan dan Nyonya Chatarina Widayanti. Di situ

tertulis, Vista dibuat sebagai usaha di bidang perdagangan,

pemborongan dan kontraktor umum, usaha real estate, industri mebel,

makanan dan minuman, serta peternakan dan pertanian.

Taufik membeli perusahaan itu pada 12 Maret 2003. Sebulan kemudian,

Vista Bella membeli hak tagih atas Timor. Transaksi ini meliputi

seluruh hak tagih, manfaat, serta kepentingan lainnya berdasarkan

perjanjian kredit dan dokumen jaminan atas nama Timor. Jumlah utang

tertunggak Timor, menurut akta, antara lain 4,75 juta franc Swiss,

25,43 juta mark Jerman, Rp 910 miliar, dan US$ 331 juta. Semua

setara dengan Rp 4,5 triliun.

Taufik mengakui perusahaannya hanya dipakai pemodal asing, yaitu

Amazonas Finance dan Wedingley Capital. Alasannya, persyaratan

investor asing untuk membeli aset di BPPN jauh lebih

rumit. "Menurut perhitungan Amazonas, waktunya nggak cukup jika

tanpa bantuan kami," ujarnya.

Tak aneh, Vista Bella kembali mengalihkan hak tagih itu kepada

Amazonas, dua bulan setelah transaksi. Yang agak aneh, belakangan

Amazonas menjual lagi hak tagih itu. Pembelinya Global Auto

Technology yang berkongsi dengan Humphrey International Limited

membentuk PT Auto Car Industri Komponen. Perusahaan inilah yang kini

mengoperasikan pabrik Timor di kawasan Cikampek, Jawa Barat, itu.

Auto Car sendiri berkantor di Hanurata Graha, gedung perkantoran

delapan lantai di Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat. Di gedung yang

sama, ternyata berkantor sejumlah perusahaan dan organisasi milik

Tommy Soeharto dan Keluarga Cendana lainnya.

Menurut situs Internet perusahaan itu, Auto Car dipimpin Achmad Budi

Pramono sebagai direktur dan Nindito Sutarjadi sebagai komisaris.

Sumber Tempo menyebutkan Nindito dulu sering terlihat bersama-sama

dengan Oscar Gonzales, salah satu pemilik Amazonas Finance. Adapun

Oscar, yang berkewarganegaraan Venezuela, menurut sumber Tempo yang

mengetahui penyelidikan kasus ini, masuk ke Indonesia atas sponsor

PT Mandala Marmer, perusahaan milik Tommy.

Tempo belum berhasil memperoleh konfirmasi dari Nindito tentang

kedekatannya dengan Oscar. Meski terdengar nada tunggu, telepon

selulernya tak kunjung diangkat. Pesan pendek yang dikirim pun tak

dibalas. Tempo yang mengunjungi alamat kantor Auto Car di Hanurata

Graha juga tak berhasil menemui Nindito.

Komisi Pemberantasan Korupsi dan kejaksaan kini harus menyusun

mozaik jejak-jejak Tommy Soeharto pada transaksi pembelian hak tagih

atas PT Timor ini. Jika itu berhasil, transaksi senilai Rp 4,5

triliun tersebut otomatis dibatalkan. Menurut sumber, bukti yang

dikumpulkan Komisi Pemberantasan Korupsi sangat kuat. "Paling hanya

perlu melegalisasi sejumlah dokumen, yang kini masih berbentuk

fotokopi," tuturnya.

Komisi Pemberantasan Korupsi telah memeriksa Taufik Surya Darma dan

Oscar Gonzales. Oscar pun telah menunjuk pengacara dari Kantor Hotma

Sitompoel and Associates. "Dia ditangani oleh pengacara Andi

Simangunsong," kata Hotma. Kejaksaan kabarnya juga telah meminta

keterangan Alfian Sanjaya, yang dalam akta perubahan Vista Bella

disebut sebagai komisaris.

Hubungan antara Vista Bella dan Tommy memang diharamkan. Setidaknya

ada empat klausul dalam perjanjian itu yang melarang adanya

keterkaitan penjual dan pembeli. Misalnya, pada pasal 12.4a

disebutkan pembeli tidak memiliki kepentingan ekonomi secara

langsung, hubungan asosiasi, atau hubungan lainnya (termasuk

hubungan pribadi atau keluarga) dengan peminjam (Timor), karyawan,

direksi, komisaris, atau pemegang sahamnya.

Yoseph menjelaskan, jika transaksi dibatalkan, Timor diwajibkan

membayar utang-utangnya kepada sejumlah bank dulu. Pemerintah akan

terus menagih utang itu sesuai dengan surat sanggup Tommy Soeharto

kepada Bank Bumi Daya yang diteken pada 21 September 1998. Tommy

sebagai Komisaris Utama Timor dan Mujiono sebagai direktur utama

menyatakan sanggup membayar US$ 260 juta atau Rp 2 triliun lebih

sebagai jaminan pribadi.

Kendati begitu, pertarungan antara pemerintah dan Tommy tampaknya

tak akan sebentar. O.C. Kaligis, pengacara putra bungsu mantan

presiden Soeharto itu, menyatakan kliennya siap menghadapi tudingan

pemerintah. Kata Kaligis garang, "Pengalihan Timor ke BPPN lalu ke

Vista Bella itu tidak dilakukan di bawah tangan. Kenapa pemerintah

baru mengungkitnya sekarang?"

Budi Setyarso, Widi Nugroho, Rini Kustiani

* * *

Sphere: Related Content

No comments: