14.1.08

34 Tahun Malari

 
----- Original Message -----
From: Sunny
Sent: Monday, January 14, 2008 7:28 AM
Subject: [mediacare] 34 Tahun Malari

 
 
34 Tahun Malari
Oleh Fathor Rahman M.D.


Memelihara Semangat Perlawanan Kaum Muda
Pada 15 Januari 1974 silam, Jakarta gaduh riuh. Berjuta orang turun ke jalan melakukan demonstrasi. Peristiwa itu yang sekarang kita kenal dengan sebutan tragedi Malari. Menurut banyak berita, tragedi itu telah menyebabkan sedikitnya 11 orang meninggal dunia, 300 orang luka-luka, 775 orang ditangkap, sekitar 807 mobil dan 187 sepeda motor terbakar, serta 144 bangunan rusak. Lain lagi korban kerugian material yang lain. Sungguh betapa mengerikan peristiwa tersebut.

Sampai saat ini, akar keributan tragedi tersebut masih menjadi kontroversi. Menurut Asvi Warman Adam (2003), peristiwa itu merupakan bentuk resistensi masyarakat terhadap Jepang yang melakukan diplomasi untuk menanamkan modal ke dalam negeri. Peristiwa Malari memang terjadi saat PM Jepang Kakuei Tanaka (kala itu) berkunjung ke Jakarta (14-17 Januari 1947).

Namun, bagi mantan Presiden Soeharto yang berkuasa saat itu, demonstrasi tersebut dipandang noda hitam yang mencoreng kebangsaan kita yang tidak bisa menghargai tamu. Karena itu, kekuatan militer yang merupakan anjing penjaga istana waktu itu bertindak galak bagi siapa pun yang berdemonstrasi. Selain dilihat sebagai tindakan mencoreng nama baik kebangsaan, demonstran juga dianggap mengganggu stabilitas keamanan, sehingga perlu diamankan.

Nilai apa yang dapat kita kenang hari ini dari peristiwa Malari 1974? Kita harus memahami sejarah perjuangan pendahulu yang berdarah-darah. Apabila nilai perjuangan itu tidak pernah digali kembali, kita gagal menjadi generasi yang mengindahkan sejarah. Kita akan menjadi generasi yang oportunis.

Tanda-tanda kegagalan itu ada di wajah kita yang merasa kaum muda. Tengoklah ke cermin-cermin masa silam, bagaimana bentuk perjuangan pendahulu kita membangun negeri. Tidak perlu kita menengok ke masa sebelum kemerdekaan. Cukup kita lihat bagaimana semangat perjuangan Hariman melawan realitas waktu tragedi Malari.

Mereka, para mahasiswa, turun ke jalan bukan bermaksud merebut kekuasaan, tapi benar-benar ingin menjauhkan negeri ini dari berbagai bentuk penjajahan. Hal itu terbukti dia tidak pernah berada di kursi kekuasaan.

Sungguh berbeda dengan kaum muda saat ini, lebih oportunis dan pragmatis. Tengoklah belakangan ini, posisi kaum muda atau peran mahasiswa kian mengendur. Kita harus mengakui bahwa kaum muda kita kian terjebak hedonisme-konsumtif. Coba kita lirik kembali pola hidup mahasiswa kini. Mereka kian menjauh dari kultur diskusi dan kritisisme. Nuansa gerakan mahasiswa seakan telah berakhir pada 1998.

Di ranah politik, banyak kaum muda kita saat ini yang oportunis-pragmatis. Ketika mahasiswa mereka lantang berteriak menentang ketidakadilan, selalu mempersoalkan kinerja pemerintah. Namun, ketika mulut mereka disumbat uang, mereka diam seribu bahasa, memilih berkorporasi dengan pemerintah atau partai politik. Kaum muda kita hanya bisa berpikir positivistik, antara menang dan kalah, berkuasa atau dikuasai. Idealisme mereka lumpuh ketika dipertemukan dengan uang.

Itulah bedanya Hariman dan generasi kini. Sedikit sekali mahasiswa dan kaum muda yang kini benar-benar idealis seperti Hariman. Ironisnya pula, momentum Malari sudah kian dilupakan. Buktinya, momentum Malari tahun kemarin tidak banyak mendapat apreasiatif kaum muda. Hariman gagal melempar wacananya ketika turun jalan. Sungguh menyayangkan.

Idealnya, menurut hemat saya, momentum seperti hari Malari penting untuk selalu dikenang sebagai upaya membangkitkan semangat perlawanan. Sebab, kekuatan oposisi -meminjam istilah Ignas Kladen- adalah advocattus diaboli atau advocate yang mempunyai peran sebagai setan penyelamat. Artinya, kita harus memandang bahwa kekuatan oposisi kaum muda merupakan kontrol kekuasaan, bukan sebagai musuh penguasa.

Karena itu, menarik seandainya momentum ini mampu disinergikan dengan ikrar kaum muda Minggu 28 Oktober 2007, di Gedung Arsip Nasional. Mengapa demikian? Sampai saat ini gerakan tersebut hanya sebatas wacana yang bertambah hari kian memudar. Sekumpulan kaum muda yang hadir pada waktu itu sudah kembali sibuk dalam dunianya masing-masing. Tak ada follow up.

Padahal, gagasan rejuvenasi yang sempat terlontar di forum tersebut sangat penting diperjuangkan. Menarik seandainya wacana tersebut dihangatkan kembali melalui momentum Malari kali ini. Sebab, kondisi kaum muda kita kian merisaukan. Situasi seperti sekarang sangat potensial menjebak kaum muda untuk melajurkan idealisme di tangan-tangan kepentingan politik.

Namun, di tengah keramaian kita mengusung wacana rejuvenasi, kaum muda juga perlu mewaspadai permainan politik sejumlah parpol yang masih kuat berpaham status qou. Sebab, bisa saja wacana itu ditunggangi partai politik. Mereka berpura-pura mendukung kaum muda, tetapi di balik itu sebenarnya ingin menuai suara kaum muda. Setelah mereka duduk di kursi kekuasaan, kaum muda dilupakan.

Politik semacam itu sudah berlangsung lama, namun acap kurang disadari kaum muda. Buktinya, pada masa Orde Baru posisi kaum muda tak ubah pendororng mobil mogok. Mereka ditinggalkan setelah mobilnya berjalan. Realitas tersebut terus berlangsung hingga saat ini. Padahal, keberhasilan gerakan reformasi 1998 meruntuhkan otoriterisme Soeharto adalah kontribusi terbesar berasal para pemuda.


Fathor Rahman M.D., peneliti pada Eksekutif Institute for Humankind and Political Studies (Inhups) Jogjakarta.

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Finance

It's Now Personal

Guides, news,

advice & more.

Biz Resources

Y! Small Business

Articles, tools,

forms, and more.

Special K Group

on Yahoo! Groups

Join the challenge

and lose weight.

.

__,_._,___


No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.2/1221 - Release Date: 12/01/2008 14:04

Sphere: Related Content

No comments: