14.1.08

Absurditas Demokrasi!

Senin, 14 Januari 2008
BURAS
Absurditas Demokrasi!






H.Bambang Eka Wijaya:

"PRESIDEN Susilo Bambang Yudhpyono (SBY) meminta masyarakat menghentikan debat, polemik, dan silang pendapat masalah hukum Pak Harto!" ujar Umar. "Menurut SBY, selain hal itu tampak kurang bijak, saatnya juga kurang tepat ketika kondisi Pak Harto sedang kritis di rumah sakit! Dengan itu ia mengajak untuk mempertahankan dan mengembangkan terus karakter bangsa yang mulia!"

"Di bawah bendera demokrasi dengan kebebasan bicara dan mengeluarkan pendapat, kondisi Pak Harto yang 'name make news' itu memang menarik bagi media massa--terutama televisi yang bisa siaran langsung atau real time--berlomba menyajikan yang terhangat tentang Pak Harto dari segala sisinya!" sambut Amir, "Lebih lagi kalau peluang untuk itu justru disulut ancang-ancang kebijakan pemerintahh, seperti yang disampaikan Jaksa Agung kepada keluarga Pak Harto di rumah sakit Sabtu pagi, tawaran penyelesaian kasus hukum Pak Harto di luar pengadilan-- out of court settlement! Jelas, hal yang dalam tata krama budaya kurang pada tempatnya, polemik mengenai kasus orang yang sedang terbaring kritis di rumah sakit, tak terbendung jadi kemasan tontonan massa yang diunggulkan!"

"Memang begitu realitas demokrasi, sesuatu yang absurd--sia-sia! Tabu dalam tata krama budaya untuk dipergunjingkan pun, bukan saja hanya jadi ditabrak, malah harus dipertahankan serta dibela adanya sebagai kenyataan hidup demokrasi!" tegas Umar. "Absurditas demokrasi seperti itu bukan cuma terjadi di negeri kita yang baru belajar demokrasi, di Amerika Serikat yang demokrasinya sudah matang pun tak kepalang dirasakan warganya!"

"Betul! Contohnya kasus O.J. Simpson!" timpal Amir. "Atlet profesional yang tanggal 3 Oktober 1995 oleh dewan juri telah diputus bersalah atas dua pembunuhan terhadap mantan istrinya, Nicole, dan teman prianya, Ronald, pada tanggal 12 Juni 1994 itu, terakhir menerbitkan buku I Did It!--Aku├┐20Melakukannya!--yang dikecam warga sebagai buku manual (pelajaran melakukan) pembunuhan! Tapi, penerbitan dan peredaran bukunya tetap dibela para pendekar demokrasi justru sebagai bukti dan wujud Amerika sebagai negara demokrasi sejati!"

"Absurditas demokrasi sebagai keadaan yang tidak bisa dimengerti dengan kejernihan nurani dan akal waras, dikemukakan Triyono Lukmantoro (Kompas, 11-1) justru telah menjadi realitas kiprah para aktor dalam percaturan politik nasional kita!" tegas Umar. "Demokrasi jadi menjengkelkan! Cara yang ditempuh memusingkan, hasil yang diraih jarang memuaskan! Demokrasi tidak memberi kesejahteraan, tetapi justru melahirkan pertikaian dan pemiskinan! Rakyat yang seharusnya diposisikan sebagai penguasa tertinggi dalam arena perpolitikan, ironisnya, dijerumuskan dalam keterasingan! Perilaku wakil rakyat tidak mencerminkan aspirasi pemilihnya! Bahkan, opini publik sengaja disingkirkan guna mencapai aneka kepentingan sesaat!"

"Realitas absurditas demokrasi di negeri kita itu gambaran salah kaprah prakteknya!" tukas Amir. "Semua gejala itu harus dikurangi, terutama oleh para pelakunya, haluannya diputar ke arah demokrasi yang sebenarnya! Jangan pula sembari mengibarkan panji demokrasi, malah terus melangkah ke arah yang lebih absurd!

Sphere: Related Content

No comments: