18.1.08

Aktivis SMUR Demo di Banda Aceh, Soeharto Harus Tetap Dihukum

Serambi Indonesia.                      
Sabtu, 19 Jan 2008 | 02:22:50 WIB  


                             
BANDA ACEH - Dua puluhan mahasiswa
yang tergabung dalam Komite Pimpinan Pusat Solidaritas Mahasiswa
Untuk Rakyat (KPP-SMUR), Kamis (17/1), menggelar unjuk rasa di
bundaran Simpang Lima, Banda Aceh. Mereka mendesak pemerintah harus
tetap menghukum Soeharto dengan seadil-adilnya, walau bagaimanapun
kondisi presiden ke-2 RI itu saat ini.


                              Dalam aksi yang dimulai sekitar pukul
11.00 WIB, massa juga meminta seluruh elite politik yang telah
mengeluarkan pernyataan sikap untuk membebaskan Soeharto, segera
menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh rakyat Indonesia.

                              Ketua KPP-SMUR, Heri Mulyandi
mengatakan, permintaan pembebasan Soeharto dari kasus-kasusnya telah
melukai hati dan perasaan mahasiswa khususnya, dan masyarakat
Indonesia secara keseluruhan. Selain itu, permintaan pembebasan
Soeharto juga telah merusak agenda perjuangan reformasi yang telah
dibangun selama ini.

                              Secara sederhana, jika Soeharto
dibebaskan maka koruptor-koruptor lainnya pada masa orde baru juga
ikut bebas dan akan semakin berkeliaran di Indonesia. Karena itu,
bagaimanapun kondisinya, Soeharto tetap harus dihukum, tandasnya.

                              Permintaan pembebasan Soeharto dengan
berbagai alasan yang dikemukakan, tambah Heri, tidak bisa diterima
di Indonesia. Indonesia adalah negara hukum, karena itu semuanya
harus berlandaskan hukum. Bukan berlandaskan moral yang dapat
menimbulkan berbagai macam interpretasi.

                              Dalam aksi yang berlangsung sekitar 30
menit itu, SMUR juga mendesak jajaran yudikatif untuk mundur dari
jabatannya, jika tidak mampu menyeret Soeharto dan kroni-kroninya ke
pengadilan. Tak hanya itu, massa juga meminta pemerintah untuk
membubarkan Partai Golkar, karena telah memprakarsai penutupan kasus
Soeharto. Kita juga sangat menyayangkan sikap Amien Rais selaku
tokoh reformasi yang turut mendukung dan membela Soeharto, pungkas
Heri.

                              Disesalkan

                              Sementara dari Jakarta diberitakan,
pernyataan Amien Rais yang memaafkan Soeharto dipertanyakan banyak
pihak, terutama dari kalangan pemuda. Amien yang disebut sebagai
lokomotif reformasi itu, dinilai telah meninggalkan gerbongnya
karena memaafkan Soeharto.

                              Secara sederhana, Amien Rais ini
lokomotif yang lupa terhadap siapa saja yang ada di gerbong
reformasi. Dia seperti telah meninggalkan gerbongnya. Harusnya Amien
bicara dulu dengan orang orang yang ada di gerbong itu, kata
Koordinator Kontras Usman Hamid usai diskusi bertajuk Sikap kaum
muda terhadap kasus hukum Soeharto di Gedung PP Muhammadiyah,
Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (17/1).

                              Menurut mantan aktivis 98 ini,
masyarakat yang ada dalam gerbong reformasi banyak berharap adanya
perbaikan, keadilan dan peningkatan kesejahteraan dengan
dilokomotifi Amien Rais. Usman menilai pernyataan maaf kepada
Soeharto dari mantan Ketua MPR itu sebagai bentuk inkonsistensi
terhadap reformasi.

                              Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah M
Izzul Muslimin mengatakan, sakitnya Soeharto saat ini telah
dijadikan momentum bagi elit elit politik untuk mencari popularitas.
Targetnya untuk menarik simpati masyarakat menjelang Pemilu 2009.
Ada kecenderungan elit elit politik memanfaatkan sakitnya Soeharto
sebagai momentum mengambil simpati. Apalagi dekat dengan 2009, ujar
Izzul.
 

Sphere: Related Content

No comments: