15.1.08

Amien Rais soal Jimat Soeharto

Radio Nederland Wereldomroep

14-01-2008

Menurut Kejawèn, yaitu kebatinan Jawa, berlarut-larutnya sakit
Soeharto karena pulungnya belum dicabut. Pulung adalah cahaya langit
yang jatuh ke pemimpin sebagai wahyu. Amien Rais, mantan pemimpin
Muhammadiyah, mengatakan, ia tidak percaya hal-hal seperti itu. Dia
hanya percaya pada aqidah Islamiyah dan berbegang teguh pada ajaran
Rasul. Namun demikian ia menghargai kalau ada orang yang memiliki
kepercayaan yang lain.

Lakum dinukum waliadin artinya, untukmu agamu dan untukku agamaku,
katanya menguti ayat Al Quran. Meski ia bersedia memafaafkan Soeharto,
tapi ini tidak berarti kasus hukum Soeharto akan terhenti kalau bekas
orang kuat Orde Baru itu meninggal. Ikutilah keterangan lebih lanjut
pendiri PAN (Partai Amanat Nasional) ini kepada Radio Nederland
Wereldomroep.

amien-raisAmien Rais [AR]: 'Saya tidak akan membenarkan atau
membantah, tapi memang itulah yang hidup di masyarakat kita. Cukup
banyak petinggi bangsa ini yang masih percaya dengan susuk dengan
aji-aji, dengan hal-hal yang sifatnya itu mistis dan tidak masuk akal.
Nah saya tidak akan memberikan jawaban itu.'

Radio Nederland Wereldomroep [RNW]: 'Kenapa tidak memberikan jawaban?
Karena anda sebagai orang Muhammadiyah, tidak percaya dengan hal-hal
seperti itu?'

AR: 'Kalau saya nggak pernah percaya. Tapi saya tidak mengejek dan
sinis. Jadi silakan pegang kepercayaan masing-masing. Dalam Islam ada
prinsip: Lakum dinukum walia din, Bagimu agamamu, bagiku agamaku. Anda
percaya seperti itu, silakan. Saya tidak akan mengganggu dan saya juga
punya keyakinan atau aqidah tauhid. Tapi anda juga tidak usah
mengganggu keyakinan saya.'

Sudah Sepuluh Tahun
RNW: 'Masalah perdata Soeharto, banyak pendapat yang berkembang.
Pendapat anda bagaimana?'

AR: 'Saya bukan ahli hukum, tetapi satu hal yang bisa saya sampaikan.
Bayangkan, kasus hukum pak Harto itu sudah sepuluh tahun. Kemudian
empat presiden sudah lewat dan tidak pernah bisa menyelesaikan kasus
hukum itu, kecuali hanya rencana saja. Jadi, pak Habibie itu juga
tidak menyelesaikan apa-apa. Dan Gus Dur juga tidak berbuat apa-apa.
Mbak Megawati juga tidak melakukan apapun juga dan pak Yudhoyono ini
juga idem dito, kecuali hanya wacana dan lain-lain. Sementara pak
Harto sudah kelihatannya di ambang akhir hidupnya. Ini berdasarkan
laporan di televisi, radio dll.

Jadi menurut saya harus ada sebuah terobosan, keputusan begitu ya,
menggunakan norma-norma kemanusiaan, keagamaan dan keadilan daripada
sekedar hukum yang legalistik/formalistik itu. Hari ini saya mengajak
pemerintah dan bangsa Indonesia untuk melakukan pemberian maaf kepada
mantan presiden yang sedang dalam keadaan sakit ini.

Kalau mengenai perdata itu, perdata yang mana. Wong itu yayasan
privat, yayasan pribadi. Jadi nggak bisa diapa-apakan. Saya tidak mau
terseret pada perdebatan ahli hukum.

RNW: 'Anda sebagai orang Islam bersedia memaafkan Soeharto supaya dia
mendapat khusnul khatimah. Tapi bagaimana kalau masalahnya belum
diselesaikan kok bisa dimaafkan begitu saja?'

 
 

Sphere: Related Content

No comments: