15.1.08

Amien Rais yang lucu

Dalam memberikan reaksi terhadap saat-saat terakhir
Suharto, tingkah laku para politisi kita semakin lucu
saja, dan salah satu politisi yang lucu itu adalah
Amien Rais. Malam ini (15 Januari 2008) dalam acara
Today's Dialogue di Metro TV ia mengutarakan
pendapatnya (yang merupakan perubahan drastis dari
pendapatnya selama ini) agar bangsa Indonesia sudi
memaafkan Suharto.

Bila ditinjau dari aspek tertentu (agama) pendapat
Amien Rais mungkin benar. Dengan memaafkan Suharto,
maka kita sebagai bangsa bisa terlepas dari beban
moral yang selama ini mengganjal kehidupan kita, dan
Suharto boleh pergi meninggalkan alam fana ini dengan
tenang.

Tapi ketika Amien Rais mengusulkan agar Presiden
SBY-lah yang mengambil prakarsa--sebagai wakil dari
bangsa Indonesia--untuk memberikan maaf tersebut, maka
persoalan tentu tidak bisa hanya ditinjau dari aspek
agama. Kita juga harus meninjaunya dari aspek hukum
(tata negara) .

Konstitusi kita tidak mengenal konsep "maaf", dan
konstitusi kita juga tidak mengatur hak Presiden dalam
memberikan maaf. Yang ada dalam konstitusi adalah
"grasi", "abolisi", "amnesti" dan "rehabilitasi". Dan
jangan pula kita lupa, ada prosedur yang harus diikuti
oleh Presiden dalam menjalankan masing-masing hak
tersebut.

Lalu, kalau konsep "maaf" tidak ada dalam konstitusi,
apa artinya pemberian maaf yang dilakukan oleh
Presiden SBY dengan mengatas-namakan bangsa itu? Dia
tidak memberi dampak hukum apa pun terhadap Suharto,
dan terhadap kita yang ditinggalkannya.

Kalau Presiden SBY menghimbau seluruh rakyat agar
berdoa dan memaafkan Suharto (menurut agama dan
kepercayaannya masing-masing) itu sih boleh-boleh
saja. Tapi di hati sebagian rakyat tetap juga akan
timbul pertanyaan, "Lho, selama ini saya happy-happy
saja koq dengan kepemimpinan Suharto, mengapa pula
saya harus memaafkannya? Apa kesalahannya pada saya?"

Atau, untuk menghindari kontroversi seperti di atas,
kita andaikan Presiden SBY berkata, "Bagi yang merasa
pernah disakiti oleh Suharto saya menghimbau sudilah
anda memaafkannya...." Tapi hal ini akan lebih
menimbulkan persoalan. SBY itu Presiden RI atau wakil
dari keluarga Suharto? (Ucapan seperti ini biasanya
hanya datang dari keluarga)

Dan hal yang membuat pernyataan Amien Rais--dari
lucu--menjadi konyol, ialah ketika ia mengusulkan agar
ucapan maaf itu perlu dibisikkan oleh Presiden SBY ke
telinga Suharto agar ia bisa berangkat menghadap Sang
Pencipta dengan tenang.

Lho, kita ini sedang bernegara atau ngapain? Kalau
Presiden SBY membisikkan kata-kata "maaf" (yang hanya
mempunyai dampak moral) dalam kapasitasnya sebagai
pribadi, dan sebagai orang yang pernah mengenal
Suharto secara pribadi, itu sih boleh-boleh saja. Tapi
kalau bisikan itu disampaikannya atas nama negara,
bangsa atau rakyat, itu mengada-ada. Bisikan seperti
itu memang biasa dilakukan oleh keluarga dekat atau
sahabat dari seseorang yang sedang menjelang ajal.
Tapi saya bukan keluarga dekat atau sahabat dari
Suharto. Saya tak perlu diikut-sertakan oleh SBY dalam
memberikan maaf. Sebagai seorang rakyat saya bisa
berdoa secara pribadi di pojok kamar saya dan
memberikan maaf saya (di hadapan Tuhan) kepada Suharto
sebagai orang yang pernah menjadi pemimpin saya.

Mendengar pendapat dan argumen Amien Rais dalam acara
Today's Dialogue saya jadi ragu akan kwalitasnya
sebagai negarawan dan sebagai orang yang pernah
menjabat Ketua MPR. Dan (maaf) kalau saya jadi
curiga: Jangan-jangan ini hanyalah permainan politik
(baca: akal-akalan) Amien Rais untuk "menjorokin"
Presiden SBY agar "belepotan" dan menjadi santapan
politik yang empuk dalam Pemilu yang akan datang [.]

Horas,

Mula Harahap
http://mulaharahap.wordpress.com
 

Sphere: Related Content

No comments: