12.1.08

Asahan Aidit tentang Soeharto


From: Asahan Aidit/BISAI

E-mail: annakarenina@quicknet.nl


Sebuah ulasan jitu dan tajam dari majalah"TEMPO" yang meskipun umur tulisan ini sudah sepuluh tahun tapi masih tetap relevan. Dalam kenyataan memang secara fisik Suharto belum pernah terguling dan memang tak seorang pun yang mampu menggulingkannya dan dia ahirnya akan terguling oleh usia dan penyakit uzur tuanya. Dan secara politikpun Suharto hanya setengah tersingkir. Dia bukan menyerahkan semua kekuasaannya tapi hanya menitipkan kekuasaannya untuk diteruskan orang lain yang adalah penerusnya sendiri dan itu terbukti hingga saat ini.

Meskipun pernah ada pemerintahan yang tidak sepenuhnya sebagai penerus kekuasaan yang dititipkannya, namun kita tahu pemerintahan tersebut, juga tidak mampu membebaskan dirinya dari pengaruh dan tekanan Suharto. Suharto tetap saja tidak pernah bisa diajukan ke pengadilan .

Ini sesungguhnya adalah sebuah pelajaran lama dan klasik: Sebuah rezim atau kekuasaan yang tidak tumbang secara total, tidak mungkin membangun sebuah rezim yang baru sama sekali atau dengan kata lain, sebuah revolusi yang tidak selesai, tidak mungkin melahirkan sebuah kekuasaan baru sebagai hasil dari revolusi yang setengah-setengah itu atau dengan kata yang lain lagi , tanpa penggantian secara total semua aparat rezim yang ditumbangkan, tidak mungkin melahirkan sebuah kekuasaan baru sebagai hasil murni sebuah revolusi atau perubahan total. Dan jika tidak demikian, maka hasil minimum yang bisa dipetik cumalah reformasi dan bukan revolusi yang tidak lebih dari sebuah reformasi kecil-kecil di sana-sini (hasil paling maksimum) yang itu bisa sangat labil dan bahkan bisa pula rapuh dan kembali ke situasi rezim lama yang direformasi secara bertahap.

Kenyataan sejarah dan bukti nyata telah menguatkan fakta yang bisa dilihat sekarang ini. Yang direformasi ternyata bukan kekuatan dan kehidupan politik yang diinginkan oleh rakyat tapi pada hakekatnya adalah mereformasi setengah bangkai rezim lama yang berangsur sehat kembali oleh para tabib mereka sendiri (rezim lama). Orba yang lama melahirkan Orba yang baru sebagai keturunan berikutnya untuk meneruskan kekuasaan. Rakyat tetap berada di luar dan tidak menikmati perubahan apa-apa kecuali sebagai penonton di pinggir jalan untuk disiapkan menerima aba-aba tepukan tangan bagi meng-elu-elukan rezim lama yang berganti kulit:racun dan bisanya tetap utuh dalam gigi-gigi yang siap patuk. Dan sekali ini aba-aba itu berupa seruan besar-besaran agar Suharto dimaafkan dan dibebaskan dari segala tuntutan hukum yang akan mengadili semua kejahatannya dalam merampok uang negara maupun membunuhi jutaan manusia tidak bersalah.

Indonesia masih akan terus melahirkan Soe Hok Gie yang kecewa, melahirkan Budiman Sujatmiko yang ganti kereta di tengah perjalanan, melahirkan Megawati yang pernah mencapai puncak kekuasaan tapi hanya memetik bunga untuk dirinya sendiri, selama akar kekuasaan lama tidak dicabut sampai bersih, total dan habis-habisan. Dan bagaimanakah caranya? Yang pasti bukan dengan cara reformasi. Indonesia bukan Tiongkok. Reformasi di Tiongkok tidak bisa dicontoh untuk Indonesia karena sejarah revolusi di Tiongkok sangat berlainan dengan Indonesia. Lalu bagaimanakah caranya? Tidak lain dan hanya dengan cara terus berlawan hingga menemukan cara untuk menang. Tidak ada resep yang bisa dipinjam kecuali yang akan didapatkan dari pengalaman berlawan terus menerus tanpa henti hingga menang: gigih lawan gigih, kenyal lawan kenyal, keras lawan keras dan hanya dengan begini Orba dan semua keturunannya bisa diruntuhkan.

(asahan aidit)

Sphere: Related Content

No comments: