16.1.08

Astana Giri Bangun dan "kavling siap pakai" Soeharto

Laporan Wartawan Surya, Junianto Setyadi



ASTANA Giribangun di Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, Jateng, menyedot perhatian masyarakat nasional, bahkan internasional, hari-hari ini. Namun mungkin tak banyak yang tahu, Giribangun bukan satu-satunya kompleks pemakaman terkenal di kawasan tersebut.

Sebelum Astana Giribangun dibangun, orang lebih dulu mengenal Astana Mangadeg, yaitu kompleks pemakaman keluarga Pura Mangkunegaran. Di sini dimakamkan, antara lain, Kanjeng Pangeran Arya Adipati (KGPAA) Sri Mangkunegoro I alias Pangeran Samber Nyawa.

Kompleks makam itu terletak di lereng barat Gunung Lawu, sekitar 40 kilometer arah timur Kota Solo, pada ketinggian 750 meter di atas permukaan laut (dpl). Agak di bawahnya, pada ketinggian 666 meter dpl, terdapat Astana Giribangun, di Desa Karang Bangun.

Di Astana Giribangun yang megah ini, seperti diketahui, dimakamkan antara lain istri mantan Presiden Soeharto, Ny Tien Soeharto. Mantan ibu Negara kelahiran 23 Agustus 1923 tersebut meninggal pada 28 April 1996, atau dalam usia 73 tahun.

Ny Tien dikenal sebagai kerabat Mangkunegaran, khususnya trah Mangkunegaran III. Karena itu, tak heran jika pemilihan lokasi Astana Giribangun, tahun 1970-an silam, sengaja didekatkan dengan Astana Mangadeg. Tentang pemilihan lokasi Astana Giribangun yang lebih rendah, diperkirakan untuk menghormati keberadaan Astana Mangadeg yang secara spiritual dianggap lebih tinggi.

Astana Giribangun mulai dibangun pada 1974. Dua tahun kemudian, 1976, kompleks pemakaman keluarga Soeharto ini diresmikan, dengan mempekerjakan 21 karyawan dari Yayasan Mangadeg. Mereka dipimpin Haryo (KRMH) Sriyanto Soemanto Kusumo, Manajer Astana Giribangun yang juga Kepala Rumah tangga nDalem Kalitan, kediaman keluarga Soeharto di Solo.

Sehari-hari, Sriyanto berada di nDalem Kalitan. Sedangkan keberadan Astana Giribangun diserahkan kepada Kepala Pelaksana Harian Sukirno, yang kadang-kadang disebut sebagai juru kunci.

Peresmian pada 1976 itu ditandai dengan pemindahan abu jenazah ayahanda dan kakak tertua Ny Tien, yaitu Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Soemoharjomo, dan Siti Hartini Oedang. Sebelumnya, mereka dimakamkan di Makam Utoroloyo, kompleks makam keluarga besar
keturunan Mangkunegaran di Kota Solo.

Kini dua jenazah tersebut dimakamkan di bagian utama Astana Giribangun, yaitu Cungkup Argosari. Bagian ini terletak di dalam ruangan tengah seluas 81 meter persegi dengan cungkup berupa rumah bentuk joglo gaya Solo beratap sirap dan berdinding kayu ukir gaya Solo.

Selain jenazah alm KPH Soemoharjomo dan Siti Hartini Oedang, dalam Cungkup Argosari dimakamkan pula jenazah Ny Tien serta ibundanya, Kanjeng Raden Ayu (KRAy) Hatmanti Soemoharjomo, yang meninggal 30 Juli 1988 dalam usia 88 tahun.

Bagian dalam Cungkup Argosari hanya akan dipakai untuk pemakaman lima jenazah. Hal ini dapat dilihat dari satu-satunya `kapling' kosong di cungkup tersebut, yaitu di sebelah pusara Ny Tien. `Kapling' ini diperkirakan disiapkan untuk Pak Harto jika suatu ketika meninggal dunia.

Hal tersebut tak dibantah salah satu karyawan Yayasan Mangadeg yang bekerja di Astana Giribangun Gito, kala Minggu (6/1) siang lalu mengantar Surya masuk dan melihat isi bagian dalam Cungkup Argosari. Saat itu Surya masih leluasa melihat-lihat isi cungkup itu meski tak
boleh memotret.

"Khusus dalam cungkup ini memang hanya untuk lima pusara. Makam untuk yang lain-lainnya di luar Cungkup Argosari," papar Gito.

Tempat yang dimaksud Gito tersebut, antara lain, di emperan Cungkup Argosari seluas 243 meter persegi. Di sini terdapat 12 pamijen alias 12 kapling makam. Jika menilik bahwa pasangan Soeharto-Ny Tien dikaruniai enam anak, diperkirakan 12 calon makam itu disediakan untuk
enam putera-puteri mereka bersama enam menantu.

***

Selain pamijen itu, masih ada pula pamijen lain di selasar cungkup. Dengan luas 405 meter persegi, pamijen ini disediakan bagi 48 jenazah mereka yang selama ini aktif dalam Yayasan Mangadeg, mulai dari penasihat, pengurus harian, hingga anggota pengurus yayasan.

Adapun bagian di luar lokasi utama adalah lokasi seluas 567 meter persegi yang dinamakan Cungkup Argokembang. Di cungkup ini ada 116 lobang makam yang disediakan bagi para pengurus pleno dan seksi Yayasan Mangadeg serta keluarga besar Mangkunegaran. Khusus
untuk keluarga besar Mangkunegaran, agar dapat dimakamkan di sini mereka harus dianggap berjasa kepada yayasan, dan mengajukan permohonan untuk dimakamkan.

Masih ada lagi satu cungkup di Astana Giribangun, yang merupakan cungkup terluar, yaitu Cungkup Argotuwuh. Di lokasi seluas 729 meter persegi ini terdapat 156 lobang makam, juga untuk para pengurus Yayasan Mangadeg maupun keluarga besar Mangkunegaran yang mengajukan permohonan untuk dikebumikan di sana.

Selama ini, seluruh cungkup dalam Astana Giribangun terbuka untuk umum. Hanya, sejak Senin (14/1) sore, mendadak pihak Astana Giribangun menutup kompleks makam seluas sekitar 2.500 meter persegi ini.

Hal tersebut diduga ada kaitannya dengan kondisi kesehatan Pak Harto yang kritis di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta. Dengan kata lain, Astana Giribangun sedang bersiap-siap menerima kedatangan jenazah Pak Harto jika memang mantan presiden itu
segera meninggal.

Namun, tak satu pun tokoh maupun pejabat yang bersedia mengkonfirmasi hal itu. Meski muncul di Astana Giribangun, mereka berkilah datang bukan untuk urusan rencana pemakaman Soeharto melainkan untuk keperluan berziarah, khususnya ziarah di Bulan Sura.

Demikian pula ketika Kepala Rumah Tangga Keluarga Cendana Kolonel Yogi muncul di Astana Giribangun, Selasa (15/1) siang, yang disusul kehadiran Bupati Karanganyar Rina Iriani. "Tidak ada agenda apa-apa. Saya hanya ziarah," katanya singkat, saat ditanya para wartawan.

Yogi datang mengendarai mobil VW Carravelle warna biru muda nopol B 868 S. Ditemani beberapa petugas TNI dan Polri, Yogi tiba dikawal mobil polisi militer (PM). Beberapa saat setelah dia masuk kompleks makam, datang Rina, sekitar pukul 12.50 WIB, langsung menyusul masuk astana.

Sebagaimana halnya Yogi, Rina yang ditanya wartawan juga mengaku tak membahas rencana pemakaman saat bertemu Yogi di dalam kompleks makam. Menurut Rina, yang dia lakukan bukan berkoordinasi melainkan melaporkan kondisi jalan menuju Astana Giribangun, yang beberapa hari lalu sempat terganggu longsor. Jawaban Rina sama dengan statamentnya
ketika datang ke sana, Sabtu (12/1) lalu. ***



http://kompas.com/ver1/Nusantara/0801/16/081248.htm


Sphere: Related Content

No comments: