17.1.08

Bela Soeharto, televisi rusak kaidah jurnalistik

From: Rezki Perdana
E-mail:
saprolegnia.parasitica@gmail.com

Sebagai awal pembuka pembicaraan saya patut berkata, saya adalah salah satu dari banyak jurnalis yang sering bergaul dengan orang-orang media, tapi jarang nonton TV. Jadi maaf kalau pendapat saya subjektif soal pemberitaan soal Soeharto yang ada pada hampir seluruh stasiun televisi di Indonesia. Saya hanya bisa menonton berita pada waktu pagi, sebelum berangkat liputan. Saya tak pernah fanatik pada satu chanel televisi swasta saja, jadi sehari saya nonton SCTV, besok saya nonton Trans TV, dan besoknya lagi mungkin stasiun televisi lainnya. Yang saya heran, tak satupun berita di televisi itu memuat tanggapan para korban orde baru soal sakitnya Soeharto. Yang ada hanya puja-puji Soeharto, dan cuplikan-cuplikan gambar Soeharto sedang sakit yang membuat orang iba. Kemudian muncul pendapat-pendapat pejabat orde baru yang minta soeharto dimaafkan. Sungguh saya miris melihatnya.

Boleh-boleh saja stasiun-stasiun TV itu sahamnya masih ada yang dikuasai keluarga Cendana.
Tapi itu bukan alasan untuk melanggar kaidah jurnalistik dengan menayangkan berita yang sungguh tak berimbang, bahkan boleh saya katakan tak cover both side. sebuah kaidah jurnalistik seharusnya harus tetap dipengang teguh oleh seorang jurnalis dimanapun dia berada dan dimanapun posisinya di media TV itu, baik dia reporter ataupun seorang produser. Mereka harus punya daya tawar degnan pemilik modal soal kebijakan redaksi. Pemilik modal boleh punya duit tapi seorang jurnalis punya ilmu yang aturan mainnya harus ditaati. sesulit apapun kaidah cover both side harus dijalankan. Saya cenderung melihat pemberitaan Soeharto di televisi sebagai upaya menghipnotis khalayak Indonesia untuk "rindu Soeharto".


Orang seperti saya tak akan terhipnotis karena saya tahu siapa Soeharto, baik kekejamannya dan segi positif dari Soeharto. Tapi kalau penonton lain yang pengetahuannya kurang luas, pasti persepsinya soal kejahatan Soeharto akan tergerus dengan derasnya berita televisi yang puja puji Soeharto. Kalau suda begini, saya boleh-boleh saja menyerukan,"jangan tonton berita Soeharto dari stasiun televisi Indonesia". Tampaknya saya akan mengikuti langkah ayah saya yang pada tahun 1998 dulu beli parabola untuk menonton berita soal jatuhnya Soeharto dari stasiun televisi luar negeri. mungkin saya harus mulai menyisihkan uang saya untuk berlangganan TV Kabel agar bisa menonton berita soal Soeharto dari televisi luar negeri. Teman-teman di media televisi, semoga anda cepat sembuh yah..

Rezki Hasibuan
Kantor Berita Radio 68H



Sphere: Related Content

No comments: