15.1.08

Bertahun-tahun layani tempe Pak Harto

Oleh Neli Triana


Niti (55) berada di antara ribuan pengusaha tempe-tahu yang berunjuk rasa di depan Istana Negara, Senin (14/1). Tidak jauh darinya, adaNarti (60).

Dua perempuan asal Pekalongan, Jawa Tengah, itu sengaja menghentikan sejenak rutinitas membuat tempe-tahu, termasuk melayani pesanan dari rumah keluarga Pak Harto (mantan Presiden Soeharto), demi turun ke jalan memperjuangkan nasib yang makin tak jelas.

"Harga kedelai harus turun. Kalau tidak, 10.000 pengusaha tempe-tahu se-Jakarta dan para pekerjanya bakal jadi pengangguran!" kata Niti.

Perempuan asal Pekalongan ini pantas geram. Sejak 30 tahun lalu ia bergelut mengembangkan usaha pembuatan tempe-tahu. Ia harus berpindah-pindah dari Jakarta Pusat, Utara, hingga terakhir di Harapan Indah, Bekasi.

Namun, lonjakan harga kedelai hingga Rp 8.000 per kilogram pada awal 2008 telak memukul usahanya. Dalam hitungan hari, usaha Niti terancam tutup.

Keprihatinan serupa juga diungkapkan Narti (60), pengusaha tempe-tahu di Kampung Rawa, Kecamatan Johar Baru, Jakarta Pusat.

Dalam seminggu, ia biasanya membeli 20 ton kacang kedelai untuk memproduksi tempe dan tahu. Kini, ia hanya mampu membeli 10 ton per minggu. Uang hasil penjualan tempe-tahu tak mencukupi untuk membeli bahan baku karena dalam satu hari, harga kedelai bisa naik sampai tiga kali.

"Sebelumnya saya punya lima pekerja, sekarang tinggal saya dan anak saya saja," kata Niti. Sementara Narti telah merumahkan separuh dari total 20 pekerjanya.

Usaha tempe-tahu ditutupi awan kelam. Padahal, usaha ini telah menghidupi keluarga Niti dan Narti selama tiga generasi.

Kisah Niti dan Narti hampir mirip. Mereka hijrah ke Jakarta pada awal 1970-an. Narti sempat menjadi pembantu rumah tangga. Kemudian, ia mengenal usaha pembuatan tempe dan tahu. Usaha yang sudah lebih dulu dilakukan oleh komunitas warga Pekalongan di beberapa lokasi di Ibu Kota. Waktu itu, harga kedelai Rp 26 per kilogram.

Dibantu suaminya, Naswandi, Narti menjadi pemodal, pekerja, sekaligus penjaja tempe-tahu. Pada tahun 1980-an hingga 1998, usaha mereka maju pesat.

Narti melayani pengecer kecil hingga memasok ke beberapa pasar tradisional di Jakarta Pusat. Sejak tahun 1988, ia mendapat pelanggan khusus, yaitu mantan Presiden Soeharto. Setiap hari, lima tempe bungkus daun berukuran 5 x 20 sentimeter dijemput langsung oleh pembantu Pak Harto.

Narti juga menerima pesanan khusus dari para ajudan orang nomor satu masa Orde Baru itu.

"Tahun 1980-1990-an adalah masa keemasan bagi pengusaha tempe dan tahu. Kala itu, pemerintah menyubsidi harga kedelai. Kisaran harga paling mahal Rp 300 per kilogram. Semuanya buyar ketika krisis ekonomi melanda Indonesia," kata Joni (30), putra Niti sekaligus penerus usaha tempe-tahu.

Joni mengatakan, pembuat tempe-tahu adalah pengusaha kecil, tetapi terbukti menyerap banyak tenaga kerja. Saat ini, Primer Koperasi Pengusaha Tempe-Tahu Indonesia (Primkopti) se-DKI Jakarta memiliki 5.000 anggota tetap. Diperkirakan ada 3.000-5.000 pengusaha lain yang tidak terdaftar. Setiap pengusaha mempekerjakan 2-40 orang. Tiga bulan terakhir, hampir 50 persen pengusaha gulung tikar.

Menurut Joni, pemerintah tidak perlu menyubsidi harga kacang kedelai seperti masa Soeharto. Namun, pemerintah harus menetapkan tata niaga yang melindungi ekonomi rakyat kecil. Yang diperlukan adalah kebijakan tegas pemerintah dalam menciptakan kestabilan harga.

Ketua Forum Komunikasi Primkopti Jakarta Sutaryo mengatakan, pengusaha tempe-tahu memahami jika karena berbagai hal, semua harga sembako dan bahan bakar naik. Akan tetapi, kestabilan harga kacang kedelai harus dijaga karena tahu tempe adalah makanan rakyat kecil dengan kelas ekonomi menengah ke bawah.

Data dari Primkopti, karena lonjakan harga kedelai, harga tempe-tahu melonjak hingga 30 persen. Banyak konsumen tak mampu membeli. Keuntungan pengusaha turun 80 persen.

Demi mempertahankan industri dan melindungi jutaan konsumen, 2.500 pengusaha tempe-tahu berunjuk rasa di Istana Negara dan Dewan Perwakilan Rakyat, Senin.

Menteri Pertanian, Menteri Perdagangan, dan Menteri Perindustrian menemui para pengunjuk rasa. Mereka berjanji memenuhi tuntutan para pengusaha. Narti, Niti, dan Joni berharap segera ada realisasi, bukan janji semu.


Sphere: Related Content

No comments: