11.1.08

Butet menunggu kematian Paman Gober

Tidak hanya sastrawan Putu Wijaya yang tampil luar biasa dan memukau
lewat monolognya pada penyerahan Federasi Teater Indonesia (FTI) Award
2007 di Teater Studio, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (9/1)
malam. Sang Presiden BBM, Si Butet Yogya, yang tampil membacakan
cerita pendek (cerpen), juga luar biasa dan membuat gelak tawa.

"Kematian Paman Gober ditunggu-tunggu semua bebek. Tidak ada lagi yang
bisa dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk
Kota Bebek membuka koran, yang mereka ingin ketahui hanya satu hal:
apakah hari ini Paman Gober sudah mati. Paman Gober memang terlalu
kuat, terlalu licin, dan bertambah kaya setiap hari. Gudang-gudang
uangnya berderet dan semuanya penuh. Setiap hari Paman Gober mandi
uang di sana, segera setelah menghitung jumlah terakhir kekayaannya,
yang tak pernah berhenti bertambah," kata Butet Kertaradjasa alias Si
Butet Yogya tadi, membuka cerita.

Ratusan pengunjung yang terdiri dari berbagai kalangan, seperti
Sutrisno Bachir yang wakil rakyat, Fasli Jalal yang Dirjen Dikti, dan
seniman/budayawan Garin Nugroho, Rendra, Mudji Sutrisno, Tommy F Awuy,
Didi Petet, Jajang C Noer, Leon Agusta, serta banyak nama terkenal
lainnya, bagai tak sabar menunggu lanjutan cerita tersebut. Namun,
pada umumnya, pengunjung sudah bisa menduga-duga siapa Paman Gober dan
jalan cerita pendek yang ditulis Seno Gumira Ajidarma tahun 1994 itu.

Butet, yang dikenal sebagai seniman paling "rasional", membawakannya
dengan cukup menghibur dan kocak. Apalagi ketika Paman Gober bicara,
intonasi dan warna suara tokoh yang mirip dengan cerita imajinasi itu
ia tirukan dengan sempurna. Penonton tergelak.

"Mestinya, bebek seumur saya ya sudah tahu diri, siap masuk ke liang
kubur. Ma(ng)kanya, ketika saya diminta menjadi Ketua Perkumpulan
Unggas Kaya, saya merasakan kegetiran dalam hati saya, sampai berapa
lama saya bisa bertahan? Apa tidak ada bebek lain yang mampu menjadi
ketua?"

Lalu Butet melanjutkan pembacaan, nada suara yang lain. "Kalimat
semacam itu masuk ke dalam buku otobiografinya, Pergulatan Batin Gober
Bebek, yang menjadi bacaan wajib bebek-bebek yang ingin sukses. Hampir
setiap bab dalam buku itu mengisahkan Paman Gober memburu kekayaan.
Mulai dari harta karun bajak laut, pulau emas, sampai sayuran yang
membuat bebek-bebek giat bekerja, meski tidak diberi upah tambahan."

Lagi-lagi gelak tawa penonton membahana di ruangan yang berkapasitas
sekitar 250 orang itu. Cerita Kematian Paman Gober karangan Seno
Gumira Ajidarma tahun 1994 itu dinilai Butet sangat pas dengan kondisi
minggu-minggu ini.

"Ketika diundang tampil dalam perhelatan Putu Wijaya yang menerima FTI
Award 2007, saya membaca milis Forum Pembaca Kompas yang mengutipkan
cerpen Seno tersebut. Spontan saja, saya kopi, lalu saya minta izin ke
Seno untuk membacakannya," kata Butet kepada Kompas, Kamis (10/1).

Sebagai seniman, kepiawaian Butet Kertaradjasa—anak ke-5 dari tujuh
bersaudara keluarga seniman Bagong Kussudiardjo—dalam membacakan puisi
atau bermonolog dikagumi banyak orang. Butet yang kelahiran
Yogyakarta, 21 November 1961, ini dikenal sebagai aktor teater—basis
ia berkesenian.

"Putu Wijaya adalah orang yang menginspirasi dan membuat saya
bergelimang dengan dunia teater. Padahal saya dulu menilai dunia
teater itu gila. Saya pernah disuruh jalan pelan sejauh ini (ia
menunjuk lebar panggung, sekitar 7 meter) selama 30 menit. Gila!"
papar Butet, yang antara lain pernah bergabung di Teater Kita Kita
(1977), Teater SSRI (1978-1985), Sanggarbambu (1978-1981), Teater
Dinasti (1982-1985), Teater Gandrik (1985-sekarang), Komunitas Pak
Kanjeng (1993-1994), Teater Paku (1994), dan Komunitas Seni Kua Etnika
(1995-sekarang).

Tentang Paman Gober tadi, di akhir cerita disebutkan, "Semua bebek
menunggu kematian Paman Gober. Tiada lagi yang bisa dilakukan selain
menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk Kota Bebek membuka
koran, yang ingin mereka ketahui hanya satu: apakah hari ini Paman
Gober sudah mati." Paman Gober yang mungkin sebuah personifikasi.
(YURNALDI)

 

Sphere: Related Content

No comments: