16.1.08

Dendam

Oleh Asahan Aidit


Ketika saya masih berada di Vietnam dalam perang Vietnam melawan agresi Amerika, saya sering bertanya mengapa mereka bisa berperang dengan kekuatan yang sama sekali tidak setara. Amerika jauh lebih moderen persenjataannya sedangkanVietman pada umumnya masih sangat sederhana dan bahkan pasukan gerilyanya masih menggunakan senapan Perancis yang digunakan tahun 1954 di Dien Bien Phu. Serdadu Amerika tubuhnya paling tidak, dua kali lebih besar dari tentara Vietnam. Dan tentara Amerika selalu makan kenyang dan enak dan paling terjamin gizi maupun selera serta jumlahnya. Tentara Vietnan setengah lapar setengah kenyang dan masih segudang kelebihan dan kemampuan Amerika dibandingkan dengan Vietnam yang lebih kecil, lebih lemah dan luar biasa miskinnya.

Jawaban yang saya terima selalu sederhana dan bahkan menjemukan. Mereka bilang, karena kami punya: DENDAM karena perkosaan Amerika terhadap negeri kami. Saya secara lahiriah ditakdirkan sebagai manusia yang tak suka bombastis, tidak suka retorika dan tidak suka main kultus--kultusan terhadap siapapun. Namun jawaban yang saya terima selalu sama saja, dimana saja, dari siapa saja, kapan saja: Orang Vietnam punya dendam terhadap semua musuh bangsa yang mereka perangi selama masih belum mencapai kemenangan ahir. Mereka bilang mereka dendam, tapi kelihatannya biasa-biasa saja, rakyatnya kelihatan ramah tamah saja dan bahkan ketika itu terasa terlalu tampak rendah hati setiap menyebut kata "dendam" (Cam thu) pun sering terdengar sangat lunak, tanpa tekanan, tanpa emosi, tanpa retorik. Kesan saya agaknya kata itu sudah tersedia dan siap pakai bagi setiap orang: Dendam terhadap musuh. Dan itu, semua inti dalam semua strategi dan taktik perang Vietnam. Masak sesederhana itu. Dalam kenyataan, perang Vietnam melawan Amerika adalah seluruh pemusatan kekuatan di kedua belah pihak disertai korban-korban yang jatuh setiap hari yang juga saya saksikan sendiri dan kesulitan di segala bidang, kekurangan di segala bidang dan kehancuran dimana-mana.

Tapi memang saya tidak bisa menemukan kata lain untuk mengganti kata dendam sebagai jawaban satu satunya dari setiap orang Vietnam yang sibuk setiap hari melancarkan perang yang sudah hampir puluhan tahun itu. Lalu saya bertanya lagi, apakah dengan bermodalkan hanya dendam orang lantas tidak takut perang, tidak takut mati dan tidak takut kelaparan. Dan hampir semuanya menjawab bukannya tidak takut perang, tidak takut mati atau tidak takut kelaparan, bahkan sebaliknya kata mereka, karena takut mati dan kelaparan itulah rasa dendam itu timbul dengan sendirinya dan kata mereka lagi: Tanpa dendam, perang tidak mungkin dilanjutkan meskipun hanya sehari dan kami tidak bisa berbuat apa-apa yang itu artinya menyerah dan kalah.

Selama belasan tahun saya berada dalam situasi perang di Vietnam, ternyata apa yang mereka katakan berperang dengan bersenjata dendam memang bukan omong kosong, bukan kata-kata banal, bukan bombastis tapi memang adalah seluruh motor dan bensin mesin perang mereka hingga mencapai kemenangan total. Dan ketika mereka sudah merebut kemenangan total dengan gemilang, dendam mereka terhadap Amerika begitu saja habis, lenyap, sirna. Tanpa dendam. Ada yang bertanya mengapa sekarang sudah tidak dendam lagi sama Amerika dan orang Amerika bebas berkeliaran di seluruh Vietnam setelah Vietnam bebas. Hampir semua orang Vietnam bilang: Untuk apa kami dendam, kami sudah menang, mereka sudah kalah, sekarang sudah damai, tidak ada perang.

Barulah saya mengerti. Tidak ada dendam, tidak akan ada perlawanan. Atau melepaskan dendam, melepaskan perlawanan. Lalu sayapun teringat akan aksi-aksi bakar diri di tengah keramaian kota Saigon yang dilakukan oleh para biksu Buddha, penganut agama yang selamanya anti kekerasan. Tapi karena mereka sudah tidak tahan akan kekejaman yang dilakukan tentara Amerika dan serdadu boneka Saigon masa itu, aksi bakar diri dengan menyiramkan bensin ke tubuh sendiri dan menyalakannya dengan korek api, menjadi aksi-aksi para biksu Buddha di mana-mana yang telah diabadikan dalam koran-koran, majalah dan film-film seluruh dunia. Tujuannya hanya satu: menyatakan rasa dendam dan menularkan rasa dendam agar seluruh rakyat bangkit dan terus berlawan melawa pendudukan Amerika. Dendam ternyata sebuah kekuataan yang tak ada taranya, tak ada batasnya hingga tujuan tercapai dan menang.

Tapi juga tak perlu menjadi orang Vietnam kalau hanya musti punya perasaan dendam karena dendam itu universil, manusiawi dan alamiah. Sederhana. Tidak punya rasa dendam atau telah melepaskan rasa dendam berarti belum ada perlawanan dan niat berlawan. Dan itu tidak bisa dipaksakan. Tapi tidak bisa dipaksakan bukan pula berarti mengesahkan frustrasi, menghalalkan kompromi serta menebarkan pasifisme.

Orde Baru mernjelang sekaratnya Suharto secara patologis dengan sangat intensif menebarkan pasifisme di kalangan rakyat, meminta rakyat memaafkan semua kesalahan dan kekekjaman Suharto terhadap rakyatnya sendiri dengan kampanye maha besar agar rakyat melupakan sama sekali semua kejahatan dan kekejaman Suharto supaya rakyat membuang dan mengikis rasa dendam mereka agar rakyat selamanya tidak bangkit berlawan dan merubah nasib mereka menjadi lebih baik dan bebas kelaparan, bebas hidup aman sentosa. Kampanye besar dan suci ini mereka parade-kan di sekitar ranjang kematian Suharto dan efeknya bukannya tidak menyedihkan. Gerakan bebas dendam dan pemberi maaf untuk Suharto dan Orba telah sedikit banyak memberikan hasil berarti yang dibantu aktif oleh banyak media dan bahkan oleh para korban keganasan Suharto sendiri termasuk yang telah uzur dan tua-tua sekarang ini dan ini sunggguh tidak bisa diremehkan. Efek candu dan pemukau serta apesona yang bermuatan emosi yang bisa membikin anjlok rasa keadilan antara yang dibunuh dan sang pembunuh ini akan terus melebar dan merasuk kedalam hati nurani massa yang akan melumpuhkan rasa keadilan, rasa kemanusiaan yang memaafkan barbarisme dan sadisme di masa lalu dan juga di masa yang akan datang. Dan bila kampanye Orba ini tidak dilawan dan diimbangi, yang pertama-tama menderita kerugian adalah rakyat itu sendiri: di depan mata maupun jauh ke masa depan. Dan sungguh ironis, kampanye memaafkan kejahatan besar Suharto ini telah lebih membangkitkan kembali "barisan hati mulia" yang secara sukarela menjadikan dirinya pahlawan yang berkobar kobar membuka hatinya lebar-lebar dengan meneriakkan bahwa mereka tidak punya rasa dendam terhadap Suharto, berdoa siang malam untuk kesehatan dan kesembuhan Suharto dan ingin mengesankan kepada semua orang bahwa "kemuliaan" hati mereka adalah contoh tauladan yang harus diikuti oleh semua orang termasuk oleh semua korban keganasan Suharto. Dan yang lebih ironis lagi bahwa di antara mereka yang berhati "mulia"itu terdapat para korban paling tragis dari kebiadaban Suharto yang bahkan pernah menghuni Pulau Buru selama belasan tahun dengan siksa derita yang tak terperikan kejamnya dan bahkan pengalaman derita mereka itu telah mereka gunakan sendiri sebagai reklame besar untuk untuk kepentingan kampanye "hati mulia' Suharto dan Orba. Di tengah-tengah kontra kampanye pengampunan Suharto ini, timbul kampanye dengan marak-marak redup barisan sukarela pengampun Suharto yang justru adalah juga dari segolongan kecil korban bababarisme Suharto yang ingin mengalirkan laut dingin dari kutub Utara ke samudra Indonesia yang sedang hangat-hangat kuku untuk menenggelamkan Suharto yang sedang kebocoran perahu yang sudah tak bisa diselamatkan. Orang tentu akan mengenang "jasa-jasa" barisan "hati mulia"pemuja Suharto ini di kemudian hari. Dan itu tidak akan terlalu lama.

BISAI (asahan aidit)


e-mail: annakarenina@quicknet.nl

Sphere: Related Content

No comments: