12.1.08

Di balik sakitnya Soeharto -- Dari cari untung sampai hitungan politik

SUDAH lebih dari sepekan mantan Presiden Soeharto dirawat di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta. Ucapan simpati terus berdatangan yang ditujukan kepadanya. Sudah ratusan
orang berdatangan menjenguk Pak Harto. Mulai dari para pejabat yang kini masih berkuasa hingga mantan pejabat, tak henti-hentinya mengunjungi bekas penguasa Orde Baru yang mengangkat dirinya sendiri itu sebagai Jenderal Besar--bersama Panglima Besar Jenderal
Soedirman.


Tetapi, untuk Sabtu (12/1) kemarin, kunjungan orang yang mengklaim tamunya Soeharto makin meningkat. Mereka tidak lagi sebatas pejabat dan mantan pejabat, melainkan kalangan dari
lapisan menengah-bawah. Mulai dari mantan atlet nasional hingga teman seperjuangan masa gerilya dahulu hingga pedagang asongan, tukang semir sepatu, dan pemulung. Mereka rata-rata mengaku Bapak Pembangunan Indonesia itu pernah berjasa terhadap kehidupannya. Mereka datang menyampaikan simpatinya. Tetapi tentu saja tidak bisa masuk ke ruang perawatan Pak Harto atau bertemu dengan keluarga besar Cendana.


Bahkan tidak diduga-duga, mantan terpidana kasus pembunuhan aktivis HAM Munir, Pollycarpus Budihari Priyanto pun datang bersama anak-istri serta sejumlah pengawal pribadinya, menjenguk Pak Harto. Ia sempat menyatakan takut kehilangan Presiden ke-2 RI tersebut. Kedatangannya, hanya ingin mendoakan kesembuhan bagi Pak Harto. Sama seperti tamu lainnya, ia dan keluarganya tak bisa menemui pasien istimewa di RS tersebut.


Namun, terlepas dari semua itu, (maaf) sakit jenderal bintang itu mendatangkan keuntungan bagi orang-orang kecil di sekitar RSPP itu. Para pedagang makanan serta tukang parkir, bisa
menangguk keuntungan dan rezeki di atas rata-rata. Bahkan, pedagang buah dan bunga yang mangkal di Jalan Barito--berjarak 100 meter dari RSPP--juga kecipratan rezeki. (Sekali lagi maaf) mereka sangat bersyukur dengan limpahan berkah dari Sang Maha Pencipta.


Adik tiri Pak Harto pun, Probosutedjo ikut menikmati berkah itu. Terpidana empat tahun penjara itu, bisa menikmati hidup bebas di luar penjara. Ia terus berada di RSPP sejak beberapa hari lalu, ikut menunggui kakak tirinya itu. Tentu saja, nikmat ini diperolehnya setelah ada izin dari pihak LP Sukamiskin, Badung, Jawa Barat yang menjadi tempat tinggalnya sementara, setelah divonis bersalah oleh Mahkamah Agung atas perkara korupsi dana reboisasi hutan.


Namun, pengamat politik LIPI, Fachri Ali, punya pendapat lain atas fenomena sakitnya Pak Harto itu. Dalam penilaiannya, sakitnya Soeharto dipolitisi para pemimpin negeri ini untuk mendapatkan simpati publik. Indikasi bisa dilihat ketika Presiden Yudhoyono, Wapres Jusuf Kalla, dan dan pejabat lain melakukan kunjungan ke RSPP. Lalu, mereka melakukan konferensi pers. Itu membuktikan sakitnya Pak Harto merupakan peristiwa politik.


Kuatnya figur Soeharto di mata masyarakat dimanfaatkan para pejabat untuk kepentingan politik diri dan kelompoknya. Ada kalkulasi atau perhitungan sendiri untuk kepentingan politik. ''Ini berkaitan erat dengan pemilu dan pilpres 2009 mendatang,'' jelas dia.

Bali Post, Minggu Kliwon, 13 Januari 2008

Sphere: Related Content

No comments: