16.1.08

Etika Memaafkan


HENDARDI

Sakit dan usia uzur yang menimpa mantan Presiden Soeharto mendorong banyak orang untuk memaafkan. Tidak hanya itu, banyak pihak mendesak pernyataan maaf pihak lain atas kesalahan yang telah dilakukan mantan penguasa Orde Baru itu.

Tak hanya bersifat pribadi, desakan bersifat publik pun disuarakan sejumlah elite politik atau pejabat negara sebagaimana desakan agar dikesampingkan (deponeering) perkara yang telah telanjur diajukan Kejaksaan Agung atas dugaan penyelewengan dana pada yayasan milik Soeharto.

Apa kesalahannya?

Banyak orang mendesak untuk memaafkan mantan penguasa paling ditakuti itu menjadi fenomena menarik. Tetapi, dalam tulisan ini penting menjelaskan apa dan bagaimana etika yang seharusnya dipertimbangkan agar tak terkesan tanpa dasar.

Setiap tahun, bangsa Indonesia telah terbiasa membuka "pintu maaf" di saat merayakan Idul Fitri atau perayaan lain. Pagelaran saling memaafkan antarpribadi ini tak pernah berurusan dengan keberadaan negara, tetapi sepenuhnya tradisi masyarakat.

Boleh jadi tradisi saling memaafkan hanya berdampak sesaat karena bisa saja di lain kesempatan suatu kesalahan diperbuat atau diulangi. Pengandaian saling memaafkan ini ada pada pemakluman manusiawi, "tak ada manusia yang sempurna".

Ada juga pandangan psikologis pribadi mengenai perlunya memaafkan agar seseorang tak menyimpan dendam, menanggung beban pikiran dan perasaan. Pemendaman dendam diramalkan tak akan maju-maju karena selalu mengingat-ingat kesalahan orang lain, tak memikirkan ke depan.

Berbagai pandangan itu menghadapi masalah serius saat dihadapkan dugaan perbuatan kriminal seperti penyelewengan dana, pencurian, perampokan, dan perampasan hak milik, perusakan harta milik orang lain, penganiayaan, pemerkosaan, apalagi kejahatan luar biasa yang tak terbayangkan sebelumnya seperti pembantaian massal, penghilangan orang, perampasan kebebasan fisik yang menimbulkan penderitaan hebat, penahanan sewenang-wenang dan penyiksaan.

Apakah orang-orang yang terlibat dan bertanggung jawab dalam kejahatan biasa, lebih-lebih kejahatan luar biasa yang tak pernah dibayangkan sebelumnya, dimaafkan saja? Apakah mereka yang berbuat kriminal, melakukan korupsi besar-besaran, dan pembunuhan yang amat terorganisasi perlu dimaafkan?

Pemakluman dan permaafan seperti itu hanya cermin bahwa kita seolah tak membutuhkan ketertiban dan hukum (rule of law), negara dan mekanisme pertanggungjawaban (responsibility/accountability), karena semuanya bisa diselesaikan dengan "pemberian maaf".

Namun, lagi-lagi, desakan pemberian maaf menjadi tak pernah jelas karena tak pernah terungkap apa sesungguhnya kesalahan yang telah diperbuat mantan Presiden Soeharto? Begitu juga, siapa saja korban-korban yang ditimbulkan karena kesalahan yang dilakukannya?

Etika pemberian maaf

Apakah kita punya etika atau moral dalam memberi maaf atas kesalahan seseorang atau sekelompok orang?

Dalam beretika, pertama-tama bukanlah permaafannya, tetapi kesalahannya. Tidak ada ucapan pernyataan maaf yang bisa diberikan tanpa dasar kesalahan atau dosa yang telah diperbuat.

Pertama, sebelum memberikan maaf, kita perlu mengetahui apa kesalahan yang telah diperbuat seseorang atau sekelompok orang yang merugikan dan menimbulkan penderitaan pada orang atau pihak lain. Sudahkah kesalahan mantan Presiden Soeharto diungkap?

Kedua, setiap kesalahan yang telah diperbuat atau menjadi tanggung jawab seseorang atau sekelompok orang harus diakui. Apakah berbagai kesalahan yang menyebabkan kerugian besar dan menimbulkan penderitaan panjang bagi para korban telah diakui secara terbuka?

Ketiga, suatu kesalahan yang telah diperbuat tak akan berdampak apa pun tanpa berikrar atau berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan-kesalahan itu. Apakah mereka yang telah berbuat kesalahan telah mengikat janji tak akan mengulanginya?

Keempat, seusai pemberian maaf dari pihak yang dirugikan dan menjadi korban kekejaman, pengawasan atas pelaksanaan janji harus dilakukan. Apakah ada pengawasan atas pelaksanaan janji bisa diterapkan?

Sungguh memalukan jika kita tak punya etika bagaimana memaafkan orang yang telah berbuat salah tanpa pernah jelas duduk perkaranya. Pemberian maaf yang tak bertanggung jawab sama seperti kita membiarkan segala kesalahan yang terus berulang dan tak pernah bisa menunjukkan solidaritas kepada mereka yang lemah dan menjadi korban kesalahan itu.

HENDARDI Ketua Badan Pengurus Setara Institute

Sphere: Related Content

No comments: