26.1.08

Jejak Langkah Soeharto (2), Wajahnya Tak Mirip Soeharto

 
----- Original Message -----
Sent: Sunday, January 27, 2008 2:22 PM
Subject: [Forum Pembaca KOMPAS] Jejak Langkah Soeharto (2), Wajahnya Tak Mirip Soeharto

1 OKTOBER 1965. Mayor Jenderal TNI Soeharto tampak serius di depan
radio yang ada di markas Kostrad. Dari balik radio terdengar suara,
"Pada hari Kamis tangal 30 September 1965 di Ibu Kota Republik
Indonesia Jakarta telah terjadi gerakan militer dalam Angkatan Darat
dengan dibantu oleh pasukan-pasukan dari angkatan lainnya. Gerakan 30
September yang dikepalai oleh Letnan Kolonel Untung..."

Mendengar nama Letkol Untung disebut, Soeharto sontak terkejut bukan
kepalang. "Saya mendengarkan siaran RRI pertama mengenai Gerakan 30
September. Deg… saya segera mendapat firasat. Lagi pula saya tahu
siapa itu Letkol Untung. Saya ingat, dia seorang yang dekat, rapat
dengan PKI. Malahan pernah jadi anak didik tokoh PKI Alimin," tutur
Soeharto.

Menjelang tengah hari Soeharto bertemu dengan Marsekal Muda Leo
Watimena yang sengaja datang ke Kostrad untuk meminta penjelasan.
Kepada Leo, Soeharto bercerita bahwa ia mengenal Untung sejak lama
ketika menjadi salah satu Komandan Resimen 15 di Solo.

Saat itu Untung menjadi salah satu Komandan Kompi Batalion 444.
"Gerakan 30 September yang dipimpin Untung bukan sekedar gerakan yang
akan menghadapi Angkatan Darat (AD) dengan alasan untuk menyelamatkan
Presiden Soekarno. Gerakan untung mempunyai tujuan lebih jauh, ingin
menguasai negara secara paksa atau kup," kata Soeharto.

Sebelumnya Soeharto juga sempat mengadakan rapat khusus bersama
asisten-asistennya, beberapa jam setelah ia mendengar peristiwa itu
dari RRI. "Menghadapi kejadian ini, kita tidak hanya sekedar mencari
keadilan, karena jenderal-jenderal kita telah diculik dan sebagian
dibunuh, akan tetapi sebagai prajurit Sapta Marga, kita merasa
terpanggil untuk menghadapi masalah ini karena yang terancam adalah
negara dan Pancasila. Saya memutuskan untuk melawan mereka," jelas
Soeharto.

Karena itu Soeharto memerintahkan Komandan RPKAD Kolonel Sarwo Edhie
Wibowo untuk segera bertindak, merebut kembali RRI dan pusat Telkom
yang telah dikuasai pemberontak. Setelah itu ia menghubungi para
panglima angkatan dan Polri. Melalui radiogram, Soeharto mengeluarkan
perintah harian kepada para Pangdam di daerah agar menguasai daerahnya
masing-masing, memberikan laporan secara teratur dan gerakan
pasukannya hanya atas perintah Panglima Kostrad.

IBU Tien masih menjaga anak kesayangannya Tomy di RSPAD. Sementara
suasana di RSPAD terlihat agak berbeda dari hari biasanya. Tak lama
kemudian Ibu Tien baru mengetahui kalau semalam telah terjadi
penculikan terhadap jenderal-jenderal yang dilakukan pasukan
Cakrabirawa. "Mendengar berita ini saya jadi gelisah dan ingin pulang
ke rumah dengan segera. Saya pamit pada dokter kepala rumah sakit,
tapi beliau berkeberatan jika tidak ada izin dari Pak Harto. Saya
bilang tidak usah menunggu perintah. Pokoknya saya mau pulang," kenang
Ibu Tien.

Hingga 1 Oktober sore, Soeharto belum memberikan kabar kepada istrinya
apa yang sesungguhnya terjadi di Jakarta. Sementara detik demi detik,
pikiran Ibu Tien semakin gelisah. "Maka saya nekad saja untuk pulang
karena saya gelisah dan tidak betah lebih lama di rumah sakit. Saya
pikir, nanti kalau terjadi hal-hal yang lebih gawat anak-anak di
rumah, saya di RS, nanti saya tidak bisa berbuat apa-apa."

Hari itu juga, Ibu Tien membawa Tommy pulang ke rumahnya diantar
Probosutedjo dan ajudan Soeharto bernama Wahyudi. Mengatisipasi
keselamatan istri Pangkostrad, Probosutedjo meminta izin kepada Bu
Tien untuk membawa senjata. "Saya minta permisi pada ibu apakah boleh
senjata-senjata yang ada di rumah, kita bagi pada Ibnu Hardjanto dan
Ibnu Hardjojo. Ibu setuju. Saya sendiri pegang dua jenis senjata,"
kenang Probosutedjo.

Sesampainya di rumah, Bu Tien tak melihat suami tercintanya. Kabarnya,
Soeharto masih berada di markas Kostrad. Sementara Soeharto sendiri
hanya memberikan amanat untuk disampaikan kepada istrinya, agar segera
mengungsikan anak-anaknya ke rumah ajudannya di Kebayoran Baru.
Mendapat amanat itu, Bu Tien semakin penasaran. Ia tanya kepada ajudan
senior Pangkostrad Bob Sudijo yang ikut mempersiapkan pengungsian.
"Ini rahasia Bu," jawab Bob.

Karena Bob dianggap tidak mau terbuka, Probosutedjo sempat ngamuk.
"Bob kamu jangan begitu. Kalau terjadi apa-apa pada Bapak yang akan
menderita dan kehilangan adalah istrinya dan semua keluarga termasuk
saya," jelas Probo. Akhirnya Bob buka kartu bahwa Soeharto saat ini
berada di markas Kostrad.
Setelah itu, keluarga Soeharto boyongan ke Kebayoran Baru.

Sedangkan Probosutedjo tidak ikut. Selama sehari semalam berada di
rumah ajudannya, Ibu Tien mendadak mendapat kabar yang mengelisahkan
hatinya. "Waktu saya di pengungsian, tiba berita dan diberitahukan
kepada saya bahwa ada seorang anak perempuan sedang mencari ayahnya
yang bernama Soeharto. Ia sedang menunggu di rumah Chaerul Saleh,"
tuturnya.

Seketika itu juga Bu Tien angkat kaki menuju ke rumah Chaerul Saleh.
Mengenakan jaket tentara dan dikawal ajudannya, ia berangkat dari
Kebayoran Baru menuju ke Jalan Teuku Umar. Sesampainya di sana, Ibu
Tien mendapati seorang anak perempuan yang sedang ditemani seorang
anggota AURI. "Saya lalu membawanya pergi. Tiba di rumah, saya
interview. Dari jawaban-jawabannya sama sekali tidak cocok. Raut
wajahnya saja tidak mirip sedikitpun dengan Pak Harto. Saya jadi yakin
anak ini bukan anak Pak Harto," jelas Ibu Tien.
Meski begitu, Ibu Tien masih tetap penasaran. Diam-diam ia membuka
sebuah tas koper yang dibawa anak perempuan itu. Isinya hanya sebuah
gitar dan sebungkus bubuk yang kelihatannya seperti bubuk pembasmi
tikus. Selanjutnya, Ibu Tien meminta wanita itu agar beritirahat di
sebuah kamar yang kemudian pintunya dikunci dari luar.

"Setelah itu saya pergi ke Kostrad untuk menemui Pak Harto, melaporkan
hal ikhwal anak perempuan itu. Bapak bilang agar dibawa ke Kostrad
saja. Keesokan harinya ketika pintu kamarnya dibuka, kamar sudah
kosong. Anak itu telah menghilang. Rupanya dia melarikan diri turun
melalui jendela menggunakan stagen," tutur Ibu Tien.

Ibu Tien menafsirkan, wanita itu sengaja dipasang untuk melenyapkan
Panglima Kostrad dengan menggunakan racun tikus yang dibawanya. "Sejak
itu saya tidak pernah bertemu lagi dengan anak itu, tidak ada pula
kabar beritanya," kata Ibu Tien. (Persda Network/ Achmad Subechi)

http://www.kompas.com/read.php?cnt=.xml.2008.01.27.1355400&channel=1&mn=1&idx=1

__._,_.___
=====================================================
Pojok Milis Komunitas FPK:

1.Milis komunitas FPK dibuat dan diurus oleh pembaca setia KOMPAS
2.Topik bahasan disarankan bersumber dari KOMPAS dan KOMPAS On-Line (KCM)
3.Moderator berhak mengedit/menolak E-mail sebelum diteruskan ke anggota
4.Kontak moderator E-mail: agushamonangan@yahoo.co.id
5.Untuk bergabung: Forum-Pembaca-Kompas-subscribe@yahoogroups.com

KOMPAS LINTAS GENERASI
=====================================================
Recent Activity
Visit Your Group
Ads on Yahoo!

Learn more now.

Reach customers

searching for you.

Y! Messenger

All together now

Host a free online

conference on IM.

Yahoo! Groups

Latest product news

Join Mod. Central

stay connected.

.

__,_._,___


No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.12/1245 - Release Date: 26/01/2008 15:45

Sphere: Related Content

No comments: