16.1.08

Karma in the making

Semua ada akhirnya

Anwari Doel Arnowo

Selasa, 15 Januari 2008



Yang sedang bergembira ria, berhura-hura lupa daratan, biasanya lupa akan ada akhir dari segala keadaan. Sebaliknya juga yang sedang pilu, sedih, merana dan merasa sengsara berkepanjangan, suka lupa bahwa semua yang negatif itu ada akhirnya. Amat aneh "penyakit lupa" macam ini sering sekali menghinggapi mereka yang sudah dewasa, sudah matang dan telah bijaksana dan sini serta situ, tetapi begitu mengalami yang langsung dan terkena pada dirinya sendiri, maka lupa adalah kawannya yang menjadi lekat ke diri sendiri. Bagi yang sedang susah juga mengeluh malah ada yang menyalahkan Tuhan!! Yang sedang senang juga lupa, tapi lupa Tuhan. Ini sesuai dengan HAM – Hak Azasi Manusia yang bahasa Inggrisnya Human Wrongs. Tulisan bertebaran soal macam-macam tetapi yang mendominasi adalah nama Suharto yang Jenderal Besar, Bapak Pembangunan, sedang sakit, kasihan, kasihan dan jasanya besar sekali dan semua pihak, sampai Amien Rais minta agar dimaafkan saja. Padahal Amien Rais ini beberapa hari lalu minta status hukumnya diteruskan, hari ini diberitakan sebaliknya, kata media dia berubah. Wah enak juga ya bisa berubah seperti cuaca saja. Barangkali yang begini memang benar, tetapi jangan ditanyakan kepada saya mengapa.

Hari ini juga ada berita berjudul Pemerintah Membantah Diskriminatif

http://www.kompas.com

tanggal 15 Januari 2008, BERITA UTAMA, isinya apa?

Biasa saja.

Membantah bahwa biaya pengobatan Pak Harto itu sama saja dengan para Presiden pendahulunya, semua menggunakan biaya sendiri, tidak dibiayai oleh Pemerintah. Wah, Pemerintah ini kalau membantah sesuatu itu memang bukan berita lagi, karena biasanya orang tersenyum kecut.

Saya tidak bersikap demikian.

Demi rasa keadilan, karena saya menulis dalam tulisan berjudul Berbeda dua hari yang lalu, dimana saya sebutkan berapa ya duit Rakyat yang terpakai? Secara kebetulan di Kompas hari itu dimuat juga tulisan lain berjudul: Lain Soeharto, Lain Bung Karno, Lain Pula Gus Dur, saya ingin juga mendudukkan persoalannya versi saya. Dalam berita bantahan di atas, beberapa pertanyaan kepada mantan Sekretaris Negara Moerdiono tidak dapat menjawab dengan terang dan jelas, atas pertanyaan: Kalau dibiayai keluarga Pak Harto sendiri, berapa biayanya dan berapa bantuan pemerintah untuk pembiayaan pengobatan Soeharto. Dia diam saja. Ketidak-jelasan soal keuangan yang dikelola pemerintah, bukanlah hal yang asing, biasa juga.

Okay saja. Kan sudah biasa ...

Itulah sebabnya, maka saya merasa heran bahwa dengan mengatakan bahwa pihak keluarga Soeharto, membayar terlebih dahulu dan menagihnya kepada pemerintah melalui Sekretariat Negara dan Departemen Keuangan, dan sesuai dengan kenyataan bahwa pihak keluarga tidak pernah mengajukan tagihan atau reimbursement-penggatian biaya sekalipun, itu menimbulkan tanda tanya.

Apapun harta Pak Harto ini, diakui atau tidak diakui, masih dalam kasus dan perkara karena belum ada kejelasan status hukumnya. Korupsi atau bukan? Tidak atau iya?

Yang bersangkutan, Suharto atau Soeharto atau Pak Harto dengan seluruh keluarganya untuk menolak pemeriksaan yang fair dan jelas.

Bukankah Bung Karno dulu juga belum pernah diadili dan telah dihukum secara sosial, malah ditambahi dengan gaya intel Melajoe (maksudnya Melayu) dengan membusukkan serta membunuh karakter Soekarno?

Biarpun Nawaksara (Judul Pertanggungan Jawab Presiden Sukarno) telah ditolak MPRS, Soekarno ditahan tanpa proses hukum, diisolasi bahkan terhadap keluarganya sendiri sekalipun dibatasi dengan ketat.

Apa yang saya ingin kemukakan bukanlah kesedihan yang berlarut-larut dan sifat cèngèng yang bertalu-talu, tetapi saya hanya ingin menganjurkan kepada keluarga dan para kroni Soeharto, berserahlah kepada jalannya hukum dan undang-undang yang berlaku. Kalau urusan ampun saat ini hanya bisa berserah kepada Tuhan. Soal hukum hanya berserah kepada Undang Undang yang berlaku. Ini semua akan menyenangkan keluarga dan kroni-kroni tersebut agar tidak menerima hukuman sosial yang kejam seperti telah dialami oleh pendahulunya.

Kalau anjuran saya ini terpaksa tidak dapat dilakukan karena akan berlawanan dengan policy–keputusan kebijakan keluarga yang telah diambil, maka saya juga akan mengingatkan bahwa gangguan dari pihak pelaku kriminal akan tetap dilakukan terhadap harta-harta "yang diduga" ada disimpan oleh keluarga dan kroni-kroninya. Dunia ini ternyata tidak selebar yang dikira. Kita telah diajari lakon dan cerita model begini di sinetron-sinetron dan film-film di televisi dan layar lebar.

An eye for an eye – utang nyawa dibayar nyawa.

Ini bukan ancaman bukan peringatan tetapi hanya kemungkinan yang bisa terjadi. Sayapun tidak suka dendam dan saya tidak ingin dilakukan balas dendam, tetapi jumlah harta yang "diduga" oleh masyarakat itu demikian besarnya, bertindak melindunginya akan memakan biaya dan upaya yang besar serta berlangsung lama dan bertahun-tahun . Lihatlah Adfolf Hitler, para diktator dan bekas Presiden-Presiden di Afrika, Ferdinand Marcos dan lain-lain yang mempunyai uang di Swiss.

Menyembunyikan harta seperti itu akan tetap diburu, diacak-acak dan diamati menggunakan microscope. Bukankah StAR (Stolen Assets Recovery) telah menyebut jumlah hartanya. Itu jumlah yang signifikan dan kan bisa mengurangi juga dengan signifikan utang kita yang sekarang berjumlah SERATUS EMPAT PULUH EMPAT miliar Dollar Amerika Serikat. Serahkan kembali harta yang memang bukan hak dan menjadi haknya rakyat yang sedang susah dan hampir sekarat. Besar kemungkinan bahwa banyak juga Rakyat yang sudah mati sekarat. Ingatlah itu selamanya.

Biaya menjaga harta nanti bisa lebih mahal dari harta serta mentalnya sendiri. Dan akan tahankah kalau cucunya Pak Harto nanti disindir-sindir oleh orang sekelilingnya, baik di Indonesia atau di negeri-negeri lain sekalipun, bahwa kakeknya kok seperti itu ........ dan sebagainya ... .

"Keharuman hidup" seperti itukah yang diharapkan??

Saya pernah mengucapkan kepda teman saya: "Bung, aku tidak mau tukar tempat dengan kamu yang hartamu segede gunung, tetapi lengkap dengan penyakitmu yang lengket dan bermacam-macam pula itu."

Kata-kata "sok" seperti itu saya ucapkan setelah selesai mendengarkan kisahnya dioperasi di Amerika, di Eropah dan dimasuki jarum yang panjang di China. Sakitnya bukan alang kepalang meskipun money is not a problem – uang bukan masalah dan menjalani yoga serta terjun kedalam olah raga untuk kesehatan macam-macam pula paranormal serta dukun dan ilmu keJawen (kembang macam apa saja dan keris serta kemenyan dan doa) diterapkan ... Kawan saya itu sudah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu.

Itu saja contoh yang paling bisa saya beberkan agar mau menyadari bahwa uang tidak bisa mengatasi segala masalah dunia. Apalagi uang haram, halal, haram, halal, haram terus berulang, seperti bunyi reptil (?) yang bernama TOKEK, hanya karena status hukumnya tidak mau dijelaskan.

Bekerja, bergaji, dan berakhir serta menerima pensiun bagi yang punya, juga akan berakhir kalau umur juga sudah habis atau berakhir. Keributan sekarang inipun akan berakhir.

Sayapun mungkin sekali sampai disini saja menulis soal status hukumnya Suharto. Kan dia bersama keluarganya serta kroni-kroninya merasa tidak bersalah dan tidak meminta ampun juga. Biarkan sajalah, mereka kan sudah berpikir, dan berpikir lagi. Mereka tidak sadar bahwa apa yang sedang mereka pertahankan adalah sebuah proses yang bisa disebut dengan : Karma in the making-Karma yang sedang dibuat. Semua ada akhirnya. Percayalah.

Disamping itu kehendak Tuhan siapa yang tau??



Anwari Doel Arnowo

Selasa, 15 Januari 2008 - 14:30:34

---ooo000ooo---

Sphere: Related Content

No comments: