29.1.08

Keluarga Wiji Thukul menolak pengibaran bendera setengah tiang

SIARAN PERS: KELUARGA WIJI THUKUL MENOLAK PENGIBARAN BENDERA SETENGA
SIARAN PERS

KELUARGA WIJI THUKUL

MENOLAK PENGIBARAN BENDERA SETENGAH TIANG

DAN TETAP MENUNTUT PERTANGGUNGJAWABAN KEJAHATAN SOEHARTO DALAM KASUS
PENGHILANGAN PAKSA AKTIVIS ANTI ORDE BARU

Hari ini, Soeharto telah dikuburkan di liang lahat, namun itu bukan berarti menguburkan
kasus-kasus kejahatan kemanusiaan yang menjadi tanggungjawabnya selama Soeharto
memerintah negeri ini selama 32 tahun. Opini yang berlebihan dan mobilisasi puja-puji
terhadap Soeharto tidak membuat kami, keluarga Wiji Thukul (korban penghilangan paksa
1997-1998), berubah sikap. Tindakan Pemerintahan SBY-JK yang memerintahkan
pengibaran bendera Merah Putih setengah tiang adalah kebijakan yang berlebihan dan
menyakiti hati jutaan rakyat Indonesia yang menjadi korban pelanggaran hak-hak sipil
politik dan hak-hak ekonomi sosial budaya semasa Soeharto berkuasa. Hingga saat ini,
kami, selaku adik kandung, istri, dan anak-anak Wiji Thukul, tidak pernah melupakan
kebengisan kekuasaan Soeharto melalui aparat militer yang mengobrak-abrik rumah
kami, mencuri buku-buku dan koleksi kaset kami dan membuat orang yang kami cintai,
Wiji Thukul, hilang tak tentu rimbanya.

Untuk itu, sebagai bagian dari korban kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh
Soeharto, kami, keluarga Wiji Thukul, menolak mengibarkan bendera Merah Putih
setengah tiang dan akan terus berjuang bersama seluruh korban menuntut
pertanggungjawaban kejahatan kemanusiaan Soeharto, terutama untuk kasus
penghilangan paksa aktivis anti Orde Baru.

Solo � Jakarta, 28 Januari 2008

Dyah Sujirah/Sipon (istri Wiji Thukul)

0817250854

Wahyu Susilo (adik kandung Wiji Thukul)

08129307964

Fitri Nganthi Wani (anak Wiji Thukul)

Fajar Merah (anak Wiji Thukul)

Sphere: Related Content

No comments: