31.1.08

Kematian Soeharto di pers Perancis

Surat Dari Montmartre

Sejak Soeharto naik panggung kekuasaan dan mengendalikan jalannya Republik Indonesia, sekali pun Perancis tergabung dalam IGGI dan kemudian CGI, boleh dikatakan hubungan antara kedua negara tidak hangat. Lebih-lebih ketika Mei 1981, Perancis berada di bawah kekuasaan Partai Sosialis dan partai-partai kiri. Ketika partai-partai kanan , RPR dan UDF, sekutu RPR, berkuasa menggantikan Partai Sosialis dan partai-partai kiri [kiri majemuk, la gauche plurielle], sikap Perancis pada Orde Baru Soeharto pun tidak mengalami perobahan mendasar. Sikap tidak hangat pemerintah Perancis ini, barangkali bisa diusut dari sejarah negeri ini, yang melalui beberapa kali revolusi, sampai memenggal kepala raja di depan publik, akhirnya sampai pada nilai "liberté, egalité et fraternité [kemerdekaan, kesetaraan dan persaudaraan]. Nilai-nilai ini sampai sekarang dijadikan motto Republik Perancis, dicantumkan di semua surat-surat dan dokumen segala keputusan resmi. Rangkaian nilai yang menjadi isi konsep republik, dituangkan ke dalam undang-undang dan peraturan-peraturan. Ia ditanamkan sejak anak-anak masuk sekolah.


Memang nampak juga satu paradoks ketika Perancis ikut dalam IGGI , organisasi internasional terdiri dari berbagai negara besar yang kuat ekonominya, dan sejak awal berdirinya Orde Baru boleh dikatakan penyangga utama ekonomi dan politik Orde Baru. Tapi ikutnya Perancis di dalam IGGI, barangkali bisa dipahami dari posisi Perancis sebagai negara kapitalis, yang tidak ingin membiarkan Indonesia, sebuah pasar besar dan sumber bahan mentah berlimpah, hanya dikuasai oleh negeri-negeri anggota IGGI -- kemudian berobah menjadi CGI. IGGI merupakan sebuah forum internasional untuk membagi-bagi "kueh" Indonesia.


Oleh latar belakang demikian, maka sering nampak politik pemerintah dan sikap rakyat Perancis, termasuk yang muncul di media massa, sering berbeda. Seakan di sini kita saksikan adanya dua Perancis: Perancis resmi dan Perancis rakyat.


Hal ini pun kembali tercermin dalam menghadapi kematian Soeharto. Sejauh ini, aku belum juga membaca dan mendapatkan ucapan belasungkawa resmi dari pemerintah Sarkozy dan Fillon. Bahkan Harian Le Figaro, koran yang dekat dengan kekuasaan sekarang, sejauh ini masih tidak sebaris pun memberitakan tentang kematian Soeharto. Apakah ketiadaan baris kalimat pemberitaan begini merupakan suatu sikap politik dari sebuah koran nasional penting berpengaruh dan dekat dengan penyelenggara negara di negeri ini? Memberitakan atau tidak, kukira adalah suatu sikap. Sikap politik.


Sementara koran-koran, radio dan tivi yang memberitakannya, satu dalam penilaian terhadap Soeharto. Semuanya menggunakan istilah "diktatur", "pembunuh rakyat Indonesia" [l'Humanité] , "kriminal", "pelanggar HAM", "melakukan génocide" [la Croix, 28 Januari 2008] dan "koruptor terbesar dalam zaman kita [Direct Soir, 28 Januari 2008]. Bahkan Harian Libération menggunakan istilah "kekuasaan yang setara dengan monarkhi" yang "membangun monarkhinya dengan tanpa ampun menghancurkan lawan-lawan potensialnya atau dengan membeli mereka" [28 Januari 2007].


Hampir semua media massa , baik radio, tivi, dan media cetak, tidak ada yang menggunakan istilah wafat , tapi "mati". Bahkan harian gratis "Direct Matin" yang diterbitkan oleh harian terkemuka Paris, Le Monde dengan sinis mengatakan ketika para peserta Pertemuan Anti Korupsi PBB yang berlangsung di Bali sekarang, berdiri sejenak memberi penghormatan kepada Soeharto sebagai "adegan surealis" [29 Januari 2008]."


Harian Le Monde, Paris, satu-satunya harian yang menerbitkan sehalaman penuh tulisan mantan koresponden Asia Tenggaranya, Jean-Claude Pomonti, malah mensejajarkan kekuasaan Soeharto sebagai kekuasaan"kerajaan Jawa". Dan ujar Pomonti yang lama berdiam di Bangkok: "Yang pasti "kerajaan Jawa" begini tak akan pernah berhasil". [29 Januari 2008].


Pomonti juga melihat bahwa kemelut yang dihadapi Indonesia sekarang tidak lain dari peninggalan Soeharto selama tiga dasawarsa lebih. Masalah-masalah ini tadinya seperti bara dalam sekam dan sekarang muncul ke permukaan. Mantan koresponden Le Monde untuk Asia Tenggara ini juga menyebut rezim Soeharto merupakan "salah satu pemerintahan yang paling berdarah dan paling korup pada paro kedua abad ke-XX" [l'un des gouvernants les plus sanguinaires et les plus corrompus de la deuxième moitié du XX siècle]. Rezim diktatur Soeharto jugalah, ujar Pomonti, yang menenggelamkan Indonesia ke genangan hutang.


Soeharto juga dihubungkan benar oleh media massa Perancis dengan penindasan dan pembunuhan di Timor Timur sambil mengingatkan tuntutan José Ramos Horta, sekarang presiden Timor Leste, agar diktatur Soeharto "diadili atas genosid" yang ia lakukan selama berkuasa.[La Croix, 28 Januari 2008].


Membaca pers Perancis dan mendengar siaran radio serta tivi negeri ini, tak ada sepatah kata sifat baik apa pun yang diucapkan tentang Soeharto bahkan kata wafat [décédé] pun tidak digunakan. Yang digunakan adalah kata "mati" [mort]. Tentu saja berita kematian Soeharto diketahui masyarakat melalui media massa. Dalam konteks ini aku teringat cerita Judith yang menerima sms dari saudaranya di Indonesia: "Soeharto mati, tante meninggal". Sms yang melukiskan secara spontan perasaan dan pikiran masyarakat bawahan pada Soeharto. Pengirim sms sadar benar nuansa kata "mati" dan "meninggal" atau wafat, berpulang.


Ketika aku servis malam di Koperasi Restoran Indonesia, tidak sedikit pelanggan yang bertanya: "Mantan presiden kalian baru meninggal iya?".


Tanpa mengulas pertanyaan ini, karena sedang sibuk, aku hanya menjawab singkat: "Iya".

"Mudahan kediktaturan tidak terulang lagi di negeri Anda".


"Iya, itu pun harapan rakyat negeriku, hanya barangkali jalannya masih tidak mulus sebagaimana halnya dengan jalan harapan ".


"Demikianlah hidup. C'est la vie, anak muda. Apalagi di dunia politik", ujar pelanggan tuaku, tanpa rambut dan mengenakan jas warna oranye. "Yang penting adalah bagaimana bisa belajar dari masa silam untuk kepentingan hari ini dan esok", tambahnya.


Aku mengucapkan terimakasih atas perhatian, harapan dan kata-kata baiknya. Oleh perhatian, harapan dan kata-kata baik dari seorang asing ini kepadaku yang terpental dari negeri kelahiran, membuatku merasa bahwa jarak Paris-Jakarta, antara Rue de Vaugirard dan jalan Tawes, tak terlalu jauh-jauh juga, dan betapa dunia makin menjadi sebuah "desa kecil", di mana peduduknya saling bersentuhan bagai tetangga. Kepentingan mereka pun tak terkurung pada batas geografis satu dua negara, tapi saling taut-menaut seperti yang sering dikatakan di sini "Agir ici et là" [Bertindak di sini sama dengan bertindak untuk di sana]. Mereka ada di satu "desa kecil dunia" bernama " kemanusiaan yang tunggal", jika menggunakan ungkapan Paul Ricoeur.


Ah, sungguh, aku mau jadi manusia yang manusiawi walau pun sebagai pekerja kasar biasa pada sebuah koperasi restoran.***



Paris, Musim Dingin 2008.
-----------------------------------
JJ. Kusni, pekerja biasa pada Koperasi Restoran Indonesia, Paris.

Sphere: Related Content

No comments: