11.1.08

Kerabat Soeharto Yasinan

Tribun Timur Makassar.

                                Sabtu, 12-01-2008  
                                                               
                                Jakarta, Tribun - Kondisi kesehatan
mantan Presiden Soeharto kembali kritis. Tim dokter kepresidenan
menggelar jumpa pers mendadak di Rumah Sakit Pertamina Pusat (RSPP),
Jakarta, Jumat (11/1) malam.
                                Menurut tim dokter, kondisi
kesehatan Soeharto mengalami kegawatan kesadaran menurun, pernapasan
memburuk, cepat dan dangkal, tekanan darah menurun menjadi 90/45
mmHg sejak pukul 17.00 WIB.
                                 
                                "Mohon doa dari masyarakat untuk
kesembuhan Bapak HM Soeharto," demikian bagian akhir siaran pers
dari tim dokter kepresidenan yang dibacakan ketua tim, Dr dr Mardjo
Soebiandono.
                                Pukul 23.30 WIB, Mardjo melaporkan
kondisi tekanan darahnya 130/70 mmHg. "Saat ini dipasang alat bantu
nafas, dan juga alat untuk menyedot cairan juga dipasang," tuturnya.
                                Padahal sebelumnya, seluruh
peralatan medis sudah dilepas. Hanya selang oksigen yang masih
terlihat menempel di hidung Soeharto. Di RSPP dan di beberapa
tempat, kerabat dekat mantan penguasa Orde Baru juga menggelar
Yasinan (pengajian).
                                Sementara di kediaman Soeharto di Jl
Cendana, Menteng, Jakarta Pusat, terlihat kesibukan. Keluarga
Soeharto mendatangkan ratuan kursi tamu ke Cendana sekitar pukul
20.00 WIB.
                                Kursi tersebut diangkut mobil
multipurpose vehicle (MPV) bernomor polisi B 7068 MA warna biru.
Mobil ini dua kali masuk mengangkut kursi yang biasa digunakan pada
acara- acara resepsi atau hajatan.
                                Seluruh anak Soeharto berserta cucu
dan kerabat dekat berkumpul di suite room VVIP 536 RSPP sejak pukul
18.00 WIB.
                                Hingga pukul 22.00 WIB, belum ada
sumber resmi yang memastikan kondisi Soeharto. Kunjungan di Kamar
536 lantai lima RSPP dibatasi. Hanya anak anak dan cucu saja yang
boleh masuk. Mereka semua terlihat berdoa dengan kusyuk.

                                Pembicaraan Serius
                                Jumpa pers tim dokter berlangsung
hanya beberapa saat setelah Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteri
Sekretaris Negara Hatta Radjasa, dan Menteri Kesehatan, Siti Fadilah
Supari datang membesuk sekitar pukul 20.30 WIB.
                                Presiden SBY yang berada di Kuala
Lumpur, Malaysia, juga terus memantau kondisi terakhir tokoh yang
banyak dituding terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia (HAM)
ini.
                                Di sebelah kamar Soeharto dirawat
dilaporkan Kalla, mensesneg, dan menkes terlibat terlibat
pembicaraan serius dengan Sudwikatmono, saudara angkat Soeharto.
                                Sebelumnya, kondisi Soeharto
dilaporkan masih labil. Alat cardio resynchronization therapy (CRT)
atau pacu jantung belum dipasang. Jika dipaksakan dipasang, dia akan
meninggal. "Risiko terburuk kalau dipaksakan dipasang, ya
meninggal," ujar Mardjo.

                                Dalam jumpa pers tim dokter pukul
10.00 WIB, kondisi Soeharto masih dilaporkan membaik. Secara umun
kesehatannya masih terus dalam pemantauan intensif. "Bukan lagi tiap
jam, tapi tiap menit," kata anggota tim dokter kepresidenan, Dr M
Munawar

                                Mesin Penyedot
                                Sebelum dilaporkan kritis, mesin
penyedot cairan di paru- paru, CVVHD, masih terpasang. "Risikonya
sangat besar karena tergantung alat alat penyedot cairan di paru-
paru. Risiko terjadinya infeksi juga ada. Kondisi jantungnya juga
tidak stabil sehingga akan meningkatkan risiko," kata Munawar.
                                Bila CRT dipasang, ada hal yang
mengurangi peranan fungsi jantung. Oleh sebab itu, ujar Munawar,
dalam mengambil tindakan, tim dokter memperhatikan dua hal yakni
mengambil manfaat sebesar-besarnya dan risiko yang sekecil-kecilnya.
                                "Risiko terjadinya infeksi juga ada.
Kondisi jantungnya juga tidak stabil sehingga akan meningkatkan
risiko," jelas Munawar.
                                "Kalau pemasangan CRT telat
bagaimana, Dok?," tanya wartawan. "Pemasangan CRT ini bukan life
saving seperti yang kita lakukan pada 2001. Pemasangan ini untuk
memperbaiki penurunan fungsi jantung. 

                                Perkembangan medis lainnya,
hemoglobin Pak Harto turun karena kurang beresponsnya sumsum tulang
belakangnya terhadap eritropoietin. Dokter Ahli darah anggota tim
dokter kepresidenan Prof Dr A Haryanto Reksodiputro di RSPP, siang
mengatakan, penurunan eritropoietin juga disebabkan oleh penurunan
fungsi organ-organ lainnya, seperti ginjal. Dokter sudah memberikan
eritropoietin dalam dosis cukup tinggi. 

                                Meski demikian, Haryanto menegaskan,
dalam tubuh penguasa Orba tersebut tidak terdapat defisiensi seperti
kekurangan gizi dan zat besi.

Sphere: Related Content

No comments: