28.1.08

Kita sering lupa

Kita sering lupa bahwa akibat berkuasa selama lebih dari 30 tahun itu, Suharto bukan lagi sekedar pribadi tapi dia sudah menjadi sebuah budaya atau sistem nilai. Sebuah budaya kepura-puraan, kepengecutan, keserakahan dan pengingkaran akal sehat serta hati nurani demi uang dan kekuasaan.

Bagaimana mungkin ratusan ribu bekas anggota PKI dibunuh, dianiaya atau ditahan tanpa proses peradilan, dan jutaaan anggota keluarganya selama 30 tahun harus menjadi anggota kasta "the untouchable" di masyarakat? Bagaimana mungkin selama enam kali pemilu hari
pencoblosan tidak pernah dianggap sebagai hari libur, dan karenanya semua pegawai harus melakukan pencoblosan di kantor? Bagaimana mungkin satelit Palapa yang gagal diluncurkan dan terkatung-katung di ruang angkasa itu dipungut oleh Bimantara, diklaim menjadi miliknya
lalu dijual kembali ke Indonesia? Bagaimana mungkin siaran televisi pendidikan yang dimodali oleh negara di kemudian hari menjadi perusahaan swasta, yang mula-mula bernama PT Televisi Pendidikan Indonesia, lalu menjadi hanya PT. TPI? Bagaimana mungkin hanya ada sebuah perusahaan manufaktur mobil yang diberi pinjaman luarbiasa besar dan pembebasan bea masuk sampai nol prosen lalu mengimpor mobil built-up dari Korea dan mengklaimnya sebagai mobil nasional?

Mengapa selama 32 tahun Golkar harus disebut sebagai "golongan" dan PDI serta PPP harus disebut sebagai "parpol"? Mengapa utusan daerah dan golongan yang duduk di MPR itu selalu harus ditunjuk oleh Presiden? Mengapa produk persidangan MPR itu sebagian disebut sebagai "keputusan" dan sebagian lagi disebut "ketetapan"? Mengapa selama 7 kali sidang MPR kita selalu harus memilih orang yang sama secara aklamasi? Kemana uang hasil penjualan gas (di Sumatera dan Kalimantan), kayu (di Sumatera dan Kalimantan), nikel (di Sulawesi), emas dan tembaga (di Papua) yang disedot selama 30 tahun dan sekarang nyaris habis itu? Mengapa majalah Tempo harus dibredel hanya karena memberitakan betapa mahalnya biaya meraparasi kapal-kapal perang rongsokan eks Jerman Timur itu?

Oh, masih banyak lagi skandal-skandal politik, ekonomi dan sosial yang begitu vulgar dan telanjang yang kita saksikan selama masa 32 tahun kepemimpinan Suharto. Tapi kita diam saja. Bahkan sebagian orang sengaja mematikan akal sehat dan hati nuraninya lalu menghibur diri dengan ikut menumpuk uang serta kekuasaan sebanyak-banyaknya. Suharto memang tidak bisa dipersalahkan sebagai satu-satunya orang yang bertanggung-jawab atas sistem tersebut. Dia didukung oleh orang-orang yang sebagian besar tampangnya bisa kita lihat di media massa pada akhir-akhir ini. Tapi bagaimana pun sistem atau budaya itu bisa terjadi karena terdapat kerjasama yang saling menguntungkan di kedua belah fihak.


Sistem atau budaya itu juga sedemikian kentalnya sehingga walaupun Suharto tidak lagi berkuasa selama hampir 10 tahun terakhir ini tapi sistem atau budaya itu masih mencengkeram kita. Lihatlah segala puja- puji yang dilontarkan berbagai tokoh akhir-akhir ini. Inilah nilai-nilai kepura-puraan, kepengecutan, keserakahan dan pengingkaran akal sehat serta hati nurani demi kenikmatan materi dan kekuasaan.

Kalau memang Suharto sedemikian hebat dan baiknya mengapa di tahun 1998 kita harus menurunkannya? Lalu apa artinya kematian anak-anak muda kita dalam peristiwa Trisakti, Semanggi I, Semanggi II dsb. itu?

Beberapa hari ini saya mencoba memahami apa sebenarnya yang ada di balik pikiran beberapa tokoh yang dulu sempat terkesan berpikir kritis itu, tapi yang kemudian–entah karena apa–kembali beramai-ramai memuja Suharto tanpa tedeng aling-aling? Saya tidak berhasil
menemukan jawaban yang memuaskan kecuali: Inilah warisan produk budaya Rezim Orde Baru Suharto itu. Ketololan, kebodohan dan maschochisme (merasa nikmat karena disakiti, dan jatuh cinta kepada yang menyakitinya).

Kepergian Suharto sebagai pribadi memang harus direlakan (baca: bukan dimaafkan). Karena kalau tidak direlakan, yah mau diapakan lagi? Tapi sebagai sebuah budaya atau sistem nilai dia samasekali tidak boleh dilupakan, apalagi dimaafkan. Perbuatan-perbuatan kolektif yang
mencerminkan kepura-puraan, kepengecutan, keserakahan dan pengingkaran akal sehat serta hati nurani itu harus terus dibicarakan dan diawasi agar tidak terulang lagi.

Bagi saya, hilangnya kekayaan negara akibat penyelewengan Rezim Orde Baru di bawah kepemimpinan Suharto memang pantas disesali. Tapi ada hal yang lebih penting lagi untuk disesali: Hilangnya akal sehat dan hati nurani di sebagian besar bangsa yang maschochis ini. Dan
perwujudannya bisa kita lihat jelas dari fenomena berlomba-lombanya orang untuk nampang di RS Pertamina, Cendana dan Astana Giri Bangun, dan segala puja-puji yang mereka panjatkan.

Sungguh merupakan sebuah ironi: Sementara media massa luar negeri memberitakan kepergian Suharto dan legacy yang ditingalkannya dengan nada yang kritis, media massa kita justeru cenderung melupakan apa yang pernah terjadi selama 32 tahun terakhir ini.

Sel-sel kanker yang bernama sistem nilai Orde Baru itu ternyata belum habis. Dia masih hidup dan menjalar kemana-mana, dan akhir-akhir ini dia kembali muncul ke permukaan. Kita telah mulai lagi menjadi bangsa bebek, yang mengelompok lalu berjalan tak menentu kesana-kemari.

Kalau kita tidak melakukan sesuatu dengan fenomena pemunculan kembali nilai-nilai itu, maka percayalah dalam waktu dekat dia akan menggerogoti pikiran dan hati orang-orang muda kita yang praktis tak pernah mengalami betapa gila dan bebalnya kita selama 32 tahun Orde Baru itu, dan negara serta bangsa ini akan semakin terpuruk saja.

Horas,

Mula Harahap

Sphere: Related Content

No comments: