13.1.08

Korban Pelanggaran HAM Jenguk Soeharto

Korban Pelanggaran HAM Jenguk Soeharto


Oleh
Sihar Ramses Simatupang

Jakarta – Dua puluh korban kasus Pelanggaran HAM menjenguk mantan Presiden Soeharto di RSPP (Rumah Sakit Pusat Pertamina), Jumat (11/1).
Didampingi Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), kunjungan ini adalah bentuk solidaritas dan dukungan kemanusiaan untuk kondisi kesehatan Soeharto.
"Sebetulnya yang dilakukan dengan korban adalah tindakan manusiawi artinya kalau orang mendoakan, kita juga mendoakan. Artinya memang penting, sebagai solidaritas satu warga negara, mengedepankan nondiskriminasi, karena semuanya pada hakikatnya sama.
Kita mendoakan supaya cepat sembuh," ujar Kepala Divisi Pemantauan Impunitas dan Reformasi Institusi Kontras Haris Azhar kepada SH, Jumat.
Namun, Haris juga menambahkan kalau motif korban berbeda dengan Partai Golkar karena kalau Golkar meminta agar kasus Soeharto bisa dilupakan, para korban mempertanyakan apa yang mau dilupakan.
"Justru korban mempertanyakan kenapa dilupakan karena ada beberapa hal di zaman Soeharto justru menimbulkan korban dan kerugian pada masa pemerintahan, maka pemerintah sekarang mengusut hal itu," ujar Haris.

Orang-orang yang semasa hidup dirugikan di masa pemerintahan mantan Presiden Soeharto itu meminta pemerintah tetap mengusut kasusnya, karena bagaimanapun kondisi Soeharto, pengusutan kasus secara hukum baik pidana atau perdata tetap harus diteruskan, seperti halnya pada warga negara yang lain.
"Kita melihat ada politisasi yang dilakukan oleh orang-orang yang ingin agar pengusutan terhadap Soeharto dibatalkan, kita mempertanyakan simpatinya. Bentuk simpati mereka kita ragukan. Itu bisa dilakukan juga untuk mengamankan diri mereka, karena mereka juga bisa diadili suatu saat. Mereka meminta rakyat memaafkan Soeharto, agar mereka juga bisa mengatakan kenapa saya juga tidak dimaafkan bila suatu saat mereka diadili," ujar Haris Azhar.

Masih Kritis
Sementara itu, meski mengalami beberapa kemajuan, kondisi kesehatan Soeharto memasuki hari kedelapan perawatan di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta masih dinyatakan kritis.
Kondisi itu mengakibatkan rencana pemasangan Cardiac Resynchronization Therapy (CRT), alat sinkronisasi jantung hingga kini belum dapat dilakukan oleh Tim Dokter Kepresidenan. Jika dipaksakan juga maka berakibat fatal, yakni kematian pasien.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Ketua Tim Dokter Kepresidenan Dr Mardjo Soebiandono SpB saat menggelar jumpa pers, Jumat (11/1) siang.
Dia mengatakan rencana pemasangan alat sinkronisasi jantung diyakini belum bisa dilakukan karena kondisi Soeharto yang belum optimal. Kondisi pasien masih tergantung mesin CVVR, yang berfungsi untuk memacu fungsi jantung.
"Kita masih menunggu kondisi optimal untuk memasang CRT," katanya.
Dr Munawar, anggota Tim Dokter Kepresidenan lainnya, menambahkan pemasangan CRT nantinya bukan merupakan life setting (untuk menyelamatkan kehidupan), melainkan untuk memperbaiki fungsi jantung yang telah rusak.
Dr Mardjo Soebidandono SpB menyebutkan kondisi Soeharto saat ini secara umum telah sadar meski masih terlihat lemah, sesak berkurang, dengan suhu tubuh 36 derajat celcius. Tekanan darah berkisar 110-120/50Hg.
Hasil pemeriksaan laboratorium hemoglobin pagi ini mencapai 9,9 gram persen mengalami penurunan dibandingkan hari sebelumnya yang telah mencapai diatas 10. Transfusi darah juga telah dihentikan saat ini.
Dia menjelaskan, berdasarkan hasil thallium scan, paru-paru mengalami perbaikan dibanding sebelumnya akan tetapi kondisi paru-paru masih belum sepenuhnya membaik. Hal serupa juga terjadi pada ginjal yang belum mengalami peningkatan.
Dr Joko Raharjo, ahli ginjal anggota Tim Kepresidenan, mengatakan memburuknya fungsi ginjal Soeharto juga terkait dengan penyakit yang memang telah lama dideritanya seperti adanya deteksi batu di dalam ginjal.
"Pasokan darah ke ginjal sangat berkurang dikarenakan kerusakan-kerusakan di organ tubuh lainnya seperti paru dan jantung. Fungsi ginjal saat ini diambil alih oleh Continous Virus Hemodialisa (CVVHD)," tukasnya.
Sementara itu ahli paru tim dokter kepresidenan Prof Dr Hadiarto mengatakan, kondisi paru-paru mantan presiden Indonesia ini belum menunjukan adanya infeksi, namun demikian telah terlihat adanya tanda-tanda peradangan.
"Kami mengantisipasi tanda peradangan ini agar tidak terjadi infeksi dengan memberikan obat-obatan diantaranya obat anti peradangan. Kondisi paru-paru Soeharto juga masih dinyatakan buruk dengan tanda masih adanya sesak nafas yang disebabkan penumpukan cairan yang juga disebabkan adanya kelemahan pada jantung," katanya.
Ia menambahkan, selama 24 jam ini, pihaknya telah mengeluarkan 2.200 cc cairan dari paru-paru pasien.
Untuk meningkatkan kondisi kesehatan Soeharto, Tim Dokter Kepresidenan akan tetap mencoba memperbaiki keseimbangan cairan dengan pemberian obat-obatan dan pemakaian CVVHDF. Pembatasan kunjungan juga masih diberlakukan mengingat kondisi pasien yang masih belum stabil. (bachtiar)
 
 
Sinar Harapan - Jumat, 11 Januari 2008

Sphere: Related Content

No comments: