13.1.08

Kultur media

Kultur media agaknya telah mendesak kultur lama berikut berbagai kepercayaan serta mitosnya. Segala hal yang "ditabukan" pada sistem kepercayaan lama tanpa terasa tergeser oleh mood yang digelorakan, terutama oleh televisi, di mana semua orang seolah berada dalam suatu mood atau suasana hati yang sama. Suasana hati yang sama itu dalam hari- hari ini adalah penantian kematian Soeharto.

Sungguh tragis nasib Soeharto. Seluruh perilaku, termasuk perilaku kekuasaannya yang sangat berbau kultur Jawa, kini tengah dirongrong oleh kultur media televisi kita "yang beberapa di antaranya kemungkinan keluarganya punya saham" tanpa dia atau siapa saja bisa berbuat apa
pun. Dengan kata lain, mereka yang sangat loyal dan barangkali juga secara tulus bersimpati dan mencintainya diam- diam ikut merongrong sistem kepercayaannya, berikut "tabu-tabu"-nya.

Tanyalah kepada orang-orang yang kita andaikan tumbuh dalam budaya yang sama dengan Soeharto, yakni orang-orang Jawa yang lebih kurang seusia dengannya. Pasti dianggap tidak pantas, sementara orang bersangkutan masih hidup, masih bernapas - meski dalam keadaan sakit keras sekalipun - semua pihak telah menyiapkan pemakaman. Kalau toh itu dilakukan, umumnya pasti diselenggarakan dengan sikap sangat hati-hati, diam-diam, karena itu merupakan bagian dari kesantunan. Bukankah sivilisasi konon adalah proses belajar terus- menerus untuk menjadi santun?

Kini, media massa, terutama televisi, memorak-porandakan semua itu. Dikarenakan sifatnya yang menuntut adanya aksi visual, aktual, up-dated, jadilah muncul di hadapan kita adegan orang membereskan rumah, memasang tenda, menyiapkan kursi-kursi - semacam menyambut gawe besar (dalam kepercayaan Jawa, kalau kita bermimpi menyelenggarakan hajatan besar dengan tenda dan kursi-kursi, itu sasmita akan adanya kematian).

Sasmita telah dihadirkan secara telanjang dan banal oleh televisi. Masyarakat masa kini yang telah menerima televisi sebagai realitas tak terelakkan sehari-hari menjadikan sasmita yang dulu merupakan sesuatu yang personal, tabu untuk diungkapkan, sebagai sesuatu yang terbuka,
bahkan dirayakan. Baudrillard menyebut ini sebagai simulakra dalam citra, Soeharto sudah dianggap mati. Di Solo, hari Sabtu (12/1) ketika Soeharto masih dirawat di rumah sakit, penguasa setempat mengeluarkan kartu identitas (ID card) bagi wartawan, tertulis "Pemakaman Soeharto" (ID card itu kemudian memang ditarik).

Bersama waktu yang makin redup bagi Soeharto, sebenarnya juga tecermin begitu banyak hal meredup pada bangsa ini. Televisi dan berbagai media massa lain telah menyebarkan eforia mengenai nasib dan umur manusia, yang dalam kepercayaan terdahulu diletakkan semata-mata di tangan Yang Kuasa.

Kini, tak ada yang ingat, bahkan di lingkungan yang paling dekat dengan Soeharto sekalipun misalnya, ada istilah, "tidak pantas orang itu nggege mongso". (BRE)

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0801/13/utama/4164369.htm

Sphere: Related Content

No comments: