11.1.08

Maaf untuk Soeharto? (2)

Oleh : Yoseph Tugio Taher
12-Jan-2008, 12:33:59 WIB - [www.kabarindonesia.com]

"Jasa Besar dan Asas Keadilan"

KabarIndonesia - Ibarat musim kemarau yang panjang, dengan adanya
tanda-tanda bakal turun hujan, maka kodok-kodok yang berkeliaran,
baik di tempat yang terang maupun di tempat yang tersembunyi, pada
berdendang, berlagu dan bersuara. Hal ini bisa juga diumpamakan
dengan keadaan Soeharto yang mendekati "garis finish" dari suatu
lomba lari (marathon) yang panjang dan tidak jujur!

Dengan keadaan Soeharto yang sedemikian, kroni-kroninya, antek-
anteknya, para cecunguk dan pengikut yang dapat
menikmati "keberhasilan" Soeharto, dengan jalan mendapat kedudukan,
mendapat kakayaan dan kuasa, yang sekarang ini masih punya pengaruh
dan jabatan, berbicara lebih dan lantang untuk Soeharto, seolah-olah
Soeharto adalah tuhan mereka! Segala pujian setinggi langit,
mengumbarkan "kebaikan, perjuangan dan jasa-jasa besar" Soeharto
atas "bangsa dan Negara Indonesia", tanpa sedikitpun menyinggung
segala kelicikan dan kebusukan, kebrutalan dan kebiadaban sang
Jenderal dalam merebut kekuasaan Negara dan mengangkangi Indonesia!
Sebagai contoh, apa yang dikatakan oleh Agung Laksono, Ketua Dewan
Perwakilan Rakyat yang adalah Pimpinan Golkar, bahwa "Kita sebagai
bangsa besar harus menghargai orang yang sudah berjasa" (Tempo
Interaktif 05/1/08).

Kalau kita boleh bertanya, apakah Golkar menghargai "orang yang telah
berjasa", yang telah berjuang membawa bangsa Indonesia mencapai
Kemerdekaan, yaitu Bung Karno? Apakah Golkar menghargai Bung Karno?
Tidak, bukan? Malahan Golkar bersekutu, menjadi anteknya
Soeharto, "orang yang telah berjasa", merampas kekuasaan dan membunuh
Bung Karno beserta jutaan pengikutnya! Tidakkah begitu yang terjadi
dalam sejarah tahun 1965? Apakah Pak Ketua DPR lupa sejarah
Pembunuhan Massal yang dilakukan oleh rezim OrdeBaru/Soeharto/Golkar
masa itu?

Harap diingat, Tanpa Soekarno, tanpa Indonesia Merdeka, Soeharto
barangkali masih tetap serdadu KNIL Belanda!
Ketua Fraksi Partai Golkar di DPR, Theo L Sambuaga, mengungkapkan,
Golkar meminta agar pemerintah mengesampingkan proses hukum mantan
Presiden Soeharto. "Itu juga demi asas keadilan. Bagaimanapun Pak
Harto adalah mantan pemimpin kita (JAKARTA, KCM).

Kepada Ketua Fraksi Partai Golkar di DPR ini, saya ingin bertanya,
apakah Soeharto pernah memikirkan asas keadilan, ketika pada 5
Oktober 1965, di dalam Sidang Kostrad, Soeharto dengan bangga
mengatakan: "kegiatan saya yang utama adalah menghancurkan PKI,
menumpas perlawanan mereka di mana-mana, di ibu kota, di daerah-
daerah, dan di pegunungan tempat pelarian mereka....." (Suharto:
Pikiran, Ucapan dan Tindakan saya, 1989 hal.136).

Sekali lagi, saya bertanya, adakah Soeharto memikirkan asas keadilan
dalam ucapannya itu? Tidak, yang ada hanya ambisi menghancurkan,
menumpas lawan politiknya, hingga menyebabkan jutaan bangsa Indonesia
mati dibunuh, guna melicinkan jalan Soeharto mempreteli Bung Karno!

Sebagai Ketua Fraksi Partai Golkar di DPR, apakah bapak tidak pernah
melihat atau mendengar tentang bagaimana orang-orang yang dituduh PKI
itu dibunuh? Beberapa sumber mencacat sbb.: Di seluruh pelosok tanah
air berlangsung pembunuhan-pembunuhan sadis yang dilakukan dengan
segala macam cara-cara biadab dan tidak manusiawi, seperti:

* Para korban, diikat tangan dan kakinya pada rel kereta api di
tengah malam dan dibiarkan sampai kereta api yang dengan kecepatan
tinggi datang dan melindas menghancur-luluhkan tubuh-tubuh yang tidak
berdaya itu. Dan tersebutlah, yang melakukan kekejaman tak
berperikemanusiaan ini justru bangsawan Kraton Surakarta Jawa yang
katanya "terpaksa melakukan" demi keselamatan dirinya sendiri.
(
http://www.timrelawan.org/)

* Kaki dan badan si korban diikat kuat ke sebuah pohon, dan
kepala/leher diikat dengan kawat baja dan ditarik dengan mobil/truk,
hingga kepala tercabut dari badan. (Film documenter ABC Australia:
Riding the Tiger Part III).

* Korban disembelih, ditusuk dengan pisau panjang (pedang) di tengah
demonstrasi ramai atau ditembak dan ditolak ke dalam lobang yang si
korban harus buat dan persiapkan sebelumnya, karena diperintah dan
dipaksa, atau si korban dikubur hidup-hidup. Bahkan, di Pasuruan,
kabarnya, yang melakukan pemenggalan/pembunuhan adalah seorang
wanita! (Lihat film dokumentasi Shadow Plays dan Riding the Tiger).

* "Para korban dibunuh dengan sadis dan diklelerkan saja di pinggir
jalan, di bawah pohon, dan dilempar ke sungai seperti bangkai anjing"
(Ucapan Presiden Soekarno tgl. 18/12/1965, di depan Sidang HMI di
Bogor:
http://www.tokohindonesia.com/).

* American Free Press mengatakan: "di Aceh, sebagai contohnya,
penduduk sipil dipotong dan kepalanya ditancapkan di sepotong kayu
dan dipajangkan di sepanjang jalan. Tubuhnya berkali-kali di tusuk
dengan pisau atau pedang, kemudian dilemparkan ke sungai agar
tidak "mengkontaminasi bumi Aceh" (
http://www.americanfreepress.net/).

* Pembunuhan di Bali, yang dilakukan oleh pasukan Sarwo Edhi, tidak
kurang dari 80.000 orang! (
http://www.kompas.com/) Pembunuhan di
Bali ini diperkirakan merupakan 5% dari jumlah penduduk Bali sendiri.
Di Blora 5000 orang, merupakan 10% dari jumlah penduduk
(
http://www.timrelawan.org/).

Masih banyak yang bisa diceritakan, bagaimana segolongan manusia-
manusia yang mengaku beragama, membunuh sesama manusia dengan cara-
cara sadis dan tidak berperi-kemanusiaan, seperti:

*Memuat puluhan tahanan (manusia!) ke dalam dump-truck dan
menuangkannya dari atas bukit terjal, sedang nun jauh di bawah sana
adalah Kali Brantas!

*Mengikat korban dan memaku telinganya tembus dari kiri ke kanan
dengan paku besar panjang lebih dari 6 inci yang biasa digunakan
sebagai paku untuk bantalan rel kereta api, sehingga si korban
melolong-lolong dan mati bersiram darah!

*Mengikat dan mengampak putus leher si korban di depan anak dan
istrinya, sehingga mereka basah bersiram darah ayah atau suaminya
yang dengan kejam dihabisi nyawanya, seperti yang terjadi atas Ketua
SBPP di Kupang, Nusa Tenggara Barat.

Berbagai kekejaman, kebrutalan, dan kebiadaban diluar perikemanusiaan
yang dilakukan oleh rezim militer yang hanya tunduk kepada kemauan
dan ketamakan serta ambisi Jenderal Soeharto. Dan rakyat yang bisa
dibayar, ditipu dan dibohongi dan diperbodoh serta kaum munafik yang
bersembuyi di dalam partai-partai politik dan agama, teristimewa
Golkar dan segala macam organisasi massa, yang tidak lain adalah
sebagai perwujudan "Komando Aksi Membunuh Indonesia" atau "Komando
Aksi Pemuda Pembunuh Indonesia" yang lahir, hidup subur dan
berkembang sebagai alat dan anteknya rezim Orba/Soeharto, satu rezim
fasis pembunuh Rakyat Indonesia!

Begitukah asas keadilan yang dimaksud, Bapak Ketua Fraksi Partai
Golkar Yang Terhormat? Kalau selama berkuasa Soeharto tidak pernah
memikirkan dan menjalankan asas keadilan, mengapa sekarang
pengikutnya mesti bicara tentang asas keadilan?

"Soeharto Ahli Strategi"

Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta mengatakan, banyak
hal baik yang sebenarnya bisa dipelajari dari mantan Presiden
Soeharto, yang sejak Jumat (4/1) menjalani perawatan medis di Rumah
Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta Selatan karena sakit. Putri
Tokoh Proklamator Bung Hatta itu menyayangkan masih banyak orang yang
hanya mencaci maki Soeharto tetapi ternyata di balik itu dia malahan
justru melakukan KKN. Lebih lanjut Meutia Hatta menilai, Soeharto
ketika masih menjabat merupakan presiden yang ahli strategi dan tahu
apa yang harus dilakukan. (Berita Antara 06/1/08)

Memang benar Bu Menteri! Soeharto memang "ahli strategi dan tahu apa
yang harus dilakukan". Ini terbukti dari keahliannya, menggunakan
anak buahnya (Latief, Suparjo dan Untung) untuk melakukan Gerakan 30
September, dan yang kemudian dengan mudah sekali -saya ulangi: dengan
mudah sekali- "dipatahkan" oleh Soeharto. Memang Soeharto adalah ahli
strategi dan tahu apa yang harus dilakukan bukan?

Lebih jauh lagi, tentang kup merangkak yang dilakukannya dalam
menjatuhkan Bung Karno, yang berakhir dengan membunuhnya secara
perlahan! Betapa lihai dan ahli dan juga tidak manusiawinya Soeharto!
Bahkan ayahanda Bu Menteri, Drs. Mohamad Hatta, pernah menulis surat
kepada Soeharto, mengecam atas tindakan Soeharto yang tidak manusiawi
terhadap Bung Karno: "Selama di tahan di Wisma Yaso, Bung Karno
diperlakukan sangat tidak manusiawi sekali! Bung Hatta menceritakan
bagaimana permintaan Bung Karno kepada Soeharto untuk sekedar
mengizinkan mendatangkan seorang dukun pijat, ahli pijat langganan
Bung Karno dan juga langganan Bung Hatta, ditolak oleh Suharto! Bung
Karno mengharapkan dengan bantuan pijatan dukun ahli itu,
penderitaannya bisa sedikit berkurang. Penolakan Suharto itulah yang
kemudian mendorong Bung Hatta menulis surat pada 15 Juli 1970 kepada
Suharto yang mengecam betapa tidak manusiawinya sikap Suharto itu!
Bung Hatta minta kepada Suharto lewat Jaksa Durmawel SH, agar
dilakukan pengadilan untuk memastikan apakah Bung Karno bersalah atau
tidak. Sebab, jika Bung Karno meninggal dalam statusnya sebagai
tahanan politik karena tidak diadili, rakyat yang percaya bahwa Bung
Karno tidak bersalah, akan menuduh pemerintah Soeharto sengaja
membunuhnya, kata Bung Hatta". (Baca: Deliar Noer, Mohammad Hatta :
Biografi Politik -
http://www.progind.net).

Note: Kalau Soeharto, tanpa moral bisa berbuat begitu kepada orang
yang memberinya pangkat dan kedudukan tinggi, kepada Bapak Bangsa,
pemimpin yang membawa Indonesia Merdeka, Bung Karno, apa lagi
terhadap jutaan rakyat biasa yang tak tahu apa-apa, dibunuh dengan
tudahan komunis atau mereka yang "di-komunis-kan"! Dan juga, kalau
kita kaji lebih dalam akan ucapan Bung Hatta, maka jelaslah
bahwa "Suharto adalah pembunuh Bung Karno!" Saya rasa, Ibu Menteri
yth., tentu membaca Biografi Politik Ayah-anda, Drs. Moh. Hatta itu.
.
Apa yang kemudian terjadi atas Soekarno? A. Karim DP, Mantan Ketua
PWI pada 12 April 2003 menulis: "Jenderal Suharto, memerintahkan
kepada Bung Karno supaya meninggalkan Istana Merdeka sebelum tanggal
17 Agustus 1967. Bung Karno beserta anak-anaknya pergi dari Istana
dengan pakaian kaos oblong dan celana piyama dengan kaki beralaskan
sandal, menompang mobil Volkswagen Kodok, satu-satunya mobil milik
pribadinya yang di hadiahkan oleh Piola kepadanya, pergi ke Wisma
Yaso, di mana kemudian menjadi tempat tahanannya sampai wafat. Semua
kekayaannya, ditinggalkan di Istana, tidak sepotongpun yang dibawa
pergi kecuali Bendera Pusaka Merah Putih yang dibungkusnya dengan
kertas koran. Anak-anaknya pun tidak boleh membawa apa-apa, kecuali
pakaian sendiri, buku-buku sekolah dan perhiasannya sendiri.
Selebihnya di tinggalkan semua di Istana ..........."
(
http://www.progind.net/. Kolektif Info/Dokumen, silakan baca
buku "Riau Berdarah" terbitan Hasta Mitra Jakarta).

Begitulah "nasib tragis" seorang Presiden, Pemimpin Besar Revolusi,
Bapak Bangsa dan Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Bung Karno, di
tangan seorang Jenderal licik, ambisius, zalim dan tidak
berperikemanusiaan yaitu Soeharto!

Kalau Ibu Menteri mengagumi salah satu hal yang diajarkan Soeharto,
yaitu bagaimana mempertahankan NKRI, tidakkah Ibu melihat bahwa semua
itu dilakukan oleh Soeharto dengan taktik "darah dan besi", dengan
besi/bedil (militer) dan pembunuhan jutaan rakyat Indonesia (darah)
melalui praktek-praktek kediktatorannya!. Siapa yang berani menaikkan
kepala atau membesarkan mata di zaman Soeharto? Dengan tuduhan PKI,
bisa langsung dibunuh atau masuk Penjara dan ditahan belasan tahun
bahkan sampai mati dalam tahanan tanpa proses hukum!

Kita tentu bisa menimbang, bagaimana dan dengan cara apa Soeharto
sampai bisa mengangkangi Indonesia selama 32 tahun kalau tidak
dengan "darah dan besi dan terror!" Barangkali Ibu Menteri masih
ingat akan pepatah dalam bahasa Minangkabau: "Kok indak ado barado,
masokan tampuo basarang randah!" Untuk lebih jelasnya, silahkan Ibu
membaca tulisan: "Indonesia Bukan Lagi Negara Hukum" yang ditulis
oleh sdr. Adilus, dalam website:
http://www.xs4all.nl/~peace/pubind/mb/ind1.html

Dan untuk bahan pertimbangan Bu Menteri, bersama ini saya kutip
catatan dari Harian Suara Pembaruan 9/1/08, yang bisa Ibu gunakan
buat "memandang" bagaimana sebenarnya Soeharto itu: "Banyak sekali
contoh yang membuktikan bahwa tingkat kecerdasan otak yang tinggi
sama sekali bukan jaminan akan adanya keagungan moral," RA
Kartini, dalam buku Satu Abad Kartini 1879 - 1979, (1979), hal 65.
(bersambung)

 

Sphere: Related Content

No comments: