6.1.08

Maafkan Soeharto

Bangka Pos.


Maafkan Soeharto

Gus Dur: Proses Hukum Lanjut

edisi: Senin, 07 Januari 2008

JAKARTA, BANGKA POS - Wakil Ketua MPR RI AM
Fatwa senada dengan sejumlah petinggi di tanah air. Walau sempat
menerima `kekerasan' dari mantan Presiden HM Soeharto, secara
lantang AM Fatwa mengaku telah memaafkan sejumlah kesalahan penguasa
Orde Baru itu.

"Itu soal yg harus dipisahkan dengan masalah
kemanusiaan. Apapun kekhilafannya, beliau sebagai manusia dan
pemimpin sangat besar jasa-jasanya. Sebagai pribadi saya memaafkan,
tapi sebagai sistem kekuasaan itu soal lain. Saya tidak ada dendam
sama sekali," kata AM Fatwa usai menjenguk Soeharto di Rumah Sakit
Pusat Pertamina (RSPP), Jakarta Selatan, Minggu (6/1).

Fatwa sempat mencicipi jeruji sel akibat
melakukan protes keras terhadap kebijakan mantan Presiden Soeharto.
Fatwa tergerus hukum dalam kasus Tanjung Priok.

Menyangkut permasalahan hukum yang
dipertentangkan sejumlah pihak terhadap diri mantan Presiden HM
Soeharto, Fatwa mengemukakan hal tersebut diserahkan ke meja hijau.

"Kalau hukum biarlah berproses sebagaimana
mestinya, karena itu memang sudah tekad reformasi," ujarnya.
Putri sulung Bung Karno, Megawati
Soekarnoputri juga sudah menyatakan memaafkan segala kesalahan
Soeharto di masa lalu terhadap ayah mereka.

"Ibu Mega malahan memantau detik demi detik
kondisi kesehatan pak Harto. Ibu Mega berdoa, pak Harto kondisinya
baik kembali seperti sedia kala," kata staf khusus Megawati
Soekarnoputri, Ari Junaedi kepada Bangka Pos Group, Sabtu (5/1).

Megawati, kata Ari Junaedi sama sekali tidak
dendam dengan Soeharto. "Sebagai umat beragama keluarga besar Bung
Karno sudah memaafkan beliau. Tak ada kata dendam, karena setiap
perbuatan, pasti ada ganjarannya. Bung Karno telah mewarisi semangat
kepada anak-anaknya, cucu serta cicit-cicitnya untuk tidak menaruh
dendam kepada siapapun termasuk kepada pak Harto," jelas Ari Junaedi
lagi.

Penegasan dari keluarga besar Bung Karno
juga disampaikan oleh putra bungsu Soekarno-Fatmawati, Guruh
Soekarnoputra. Dirinya menegaskan, terlepas dari perlakuan Soeharto
kepada keluarga bung Karno ketika masih berkuasa, pihaknya tidak
akan meminta pak Harto dan keluarganya untuk meminta maaf.

"Bung karno itu orangnya pemaaf. Dan beliau
mengajarkan kami untuk tidak mengajarkan dendam dan sebagainya.
Apalagi kalau perspektifnya diperluas menyangkut bangsa dan negara,"
kata Guruh.


Minta Dihentikan


Sejumlah kalangan mengharapkan kasus hukum
mantan Presiden Soeharto sebaiknya dihentikan, mengingat jasa
Soeharto pada bangsa dan negara ini disamping kesehatannya yang
menurun.

Partai Golkar misalnya membuat pernyataan
terkait kondisi Soeharto saat ini. Dalam pernyataan yang disampaikan
Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar Agung Laksono di Jakarta, Sabtu
(5/1) malam ada tiga poin. Pertama adalah sehubungan dengan kondisi
kesehatan Soeharto yang kritis, maka keluarga besar Golkar mendoakan
agar Tuhan YME memberikan kesembuhan dan keadaan terbaik bagi Pak
Harto.

Poin kedua adalah mengingat jasa Pak Harto
yang besar kepada bangsa dan negara ini, maka Golkar mendesak
pemerintah agar memberi kepastian atas status hukum Pak Harto dengan
mengesampingkan perkaranya (deponering) sesuai dengan ketentuan
undang-undang yang berlaku. Hal ketiga adalah Golkar mengimbau
negara dan seluruh lapisan masyarakat untuk memperlakukan dan
memberikan penghormatan kepada Soeharto dengan sebaik-baiknya
sebagai mantan presiden atau kepala negara.

Secara terpisah, Ketua Umum DPP PPP
Suryadharma Ali mendoakan mantan Presiden Soeharto segera cepat
pulih dari sakitnya dan juga berharap agar penanganan berbagai kasus
hukumnya sebaiknya dihentikan sebagai penghormatan atas jasa-jasanya.

"Sebagai Ketua Umum PPP saya mendoakan agar
beliau cepat pulih kesehatannya dan kembali ke rumah berkumpul
dengan keluarganya," kata Suryadharma Ali disela-sela peringatan
hari lahir (Harlah) PPP ke-35 di kediamannya di Kompleks Menteri
Widyachandra Jakarta, Minggu (6/1).

Surya mengatakan, bagaimanapun mantan
penguasa Orde Baru itu juga punya jasa besar bagi bangsa Indonesia.
Sehingga tidak ada salahnya kita sebagai bangsa bisa memaafkan
apabila ada kesalahan yang pernah dilakukan pemimpin bangsa yang
betul-betul punya jasa besar itu.

"Sebagai warga negara, saya berpandangan
agar penanganan kasus-kasus hukum yang diduga dilakukan oleh mantan
presiden itu bisa dihentikan sampai disini," ujarnya.

Menurut Menkop dan UKM itu, bangsa Indonesia
harus menghormati Soeharto itu sebagai orang tua yang telah berusia
86 tahun serta kondisi fisiknya yang sudah sangat lemah serta sering
sakit-sakitan.
Berjasa Besar

Sementara mantan Presiden RI tahun 2000
Abdurrahman Wahid memuji Soeharto. "Pak Harto itu tempat belajar.
Dia masih sempat memikirkan rakyat miskin. Saat ini dia sedang buat
program bantuan kredit untuk rakyat miskin tapi belum bisa
diumumkan, nanti 3 bulan lagi," ujar Gus Dur saat diwawancarai
seusai menjenguk Soeharto, kemarin di RSPP.

Kunjungan Gus Dur bersama istrinya Shinta
Nuriyah Wahid tidaklah lama, hanya sekitar 15 menit. Pasalnya, saat
dibesuk, Soeharto dalam keadaan beristirahat. Gus Dur hanya
berbincang dengan keluarga Soeharto yang menungguinya di dalam ruang
perawatan. "Pak Harto lagi tidur, istirahat. Tapi Alhamdulillah
kondisinya membaik," katanya.

Tidak hanya persoalan kesehatan, dalam
perjalanan keluar gedung menuju mobil Mercedes Benz silver yang
membawanya ke RSPP, Gus Dur juga dimintai komentarnya mengenai
status hukum beberapa kasus yang menjerat Soeharto. Kepada puluhan
wartawan yang mewawancarai, Gus Dur mengatakan bahwa proses hukum
terhadap Soeharto harus tetap berjalan sesuai koridor.

"Kalau dimaafkan ya kita harus memaafkan.
Tapi kalau persoalan hukum itu urusan pengadilan dan harus jalan
terus. Kini tergantung pengadilannya saja mengampuni atau tidak, itu
bukan urusan saya," ujarnya.
Untuk mengadili Soeharto di pengadilan, Gus
Dur mengatakan kondisi Soeharto harus layak. Artinya, jika
kondisinya masih dalam keadaan sakit seperti sekarang, tidak mungkin
dibawa ke pengadilan.

Ingin Salat

Membaiknya kondisi Soeharto setelah sempat
dinyatakan tim dokter mengalami kritis, juga diungkapkan Menteri
Negara Pemberdayaan Perempuan Meuthia Hatta usai membesuk.

"Ketika akan kembali, beliau sadar. Dan
ternyata beliau mengenali saya. Beliau bertanya jam berapa ini, mau
salat," ujar Meuthia yang diapit sang suami, Sri Edi Swasono.
Kemarin Soeharto salat zuhur di pembaringannya.
Kehadiran Meuthia dan suami ke RSPP
berlangsung singkat. Hadir sejak pukul 12.45, Meuthia dan suami
berkunjung selama lima menit. Kendati hanya sebentar, Meuthia
mengaku Soeharto sempat mengucapkan sesuatu. "Beliau mengatakan
terima kasih karena dikunjungi," kata Meuthia.


Sphere: Related Content

No comments: