14.1.08

Melacak Jejak Soeharto Keturunan Tionghoa (2/3)

Tabloid X-file edisi 49/tahun I, 21 Desember 2000 – 3 Januari 2001

Pura Pakualaman Menikahkan Soekirah dengan Kartoredjo

"Namanya Soekirah. Ia seorang bukren (babu, Red) yang dihamili majikannya, Tuan Liem", kata sumber X-file.

Di Jawa Tengah, khususnya di Solo beredar kisah. Konon pada abad 20 ada seorang pedagang kaya bernama Tuan Liem. Cukup terpandang dia dan populer di masa itu. Kegiatan pedagang ini kian hari kian melambung. Itulah sebabnya dia butuh banyak pembantu.

Lantas Tuan Liem berkenalan dengan wanita miskin asal  Desa Kemusuk, Argomulyo. Bantul, Yogyakarta. Wanita ini bernama Soekirah. "Kalau ibunya (Soekirah, Red) itu termasuk wa na yang jadi bukren (pembantu rumahtanga, Red) di keluarga tuan Liem. Digundik",  kata Soewignyo, tokoh Tionghoa yang tinggal di kawasan Kota Lama Semarang.

Nah, selama menjadi babu Tuan Liem inilah, konon Soekirah pernah digauli oleh sang majikan. Sampai akhirnya Soekirah hamil. Padahal Tuan Liem sudah punya dua orang istri sah. Istrinya yang cantik molek itupun masih tergolong bangsawan Cina.

Kabarnya, istri-istri sah bangsawan berkulit putih ini  mengalamai shock berat mengetahui polah suaminya. Masak sudah punya dua istri cantik, eehh masih saja nidurin seorang bukren? Ihhh… makan ati… makan ati.

Diubah Menjadi Slamet Harto

Ada dua versi cerita yang berkembang setelah Soekirah hamil. Konon ketika mengetahui kehamilan gundiknya, Liem atas desakan istri-istrinya kemudian mengungsikan Soekirah dari Solo.

Maka Soekirah yang sedang hamil tua itu lalu dibawa ke sebuah desa yang bernama Desa Kemusuk di pinggiran kota Yogyakarta.

Di Kemusuk, Soekirah dititipkan di rumah seorang jagatirtha (penjaga saluran air, Red) bernama Panjang alias Kartoredjo. Nah, Kartoredjo inilah yang disebut-sebut Soeharto dalam otobiografinya sebagai ayah kandungnya.

Versi lain menyebutkan, untuk menutup aib, Soekirah akhirnya dikawinkan paksa dengan Kartoredjo, dari daerah Kemusuk. Padahal Kartoredjo sendiri sudah beristri dan beranak dua.

Menariknya lagi, konon, Kartoredjo terpaksa menikahi Soekirah karena titah dari Pura Pakualaman. Lho, kenapa Pakualam?

Sudah bukan rahasia lagi, pada masa itu, para saudagar amat dekat dengan kalangan bangsawan keraton. "Mereka selalu memberi upeti, makanya mereka dekat dengan bangsawan keraton", kata sumber X-file yang aktif di Perkumpulan Masyarakat Surakarta.

Sampai akhirnya, pada 6 Juni 1921, anak yang dikandung Soekirah lahir. Atas keinginan Tuan Liem, si orok kemudian diberi nama Slamet Liem. Tapi karena lahir di tengah keluarga Jawa, Soekirah ingin memberi nama anaknya juga dengan nama Jawa. Karena ibunya asli seorang wa na. Tuan Liem akhirnya mengabulkan permintaan istri gelapnya ini. Slamet Liem harus punya nama pribumi. Si orok  kemudian berganti nama menjadi Slamet Harto, atau biasa ditulis S. Harto alias Soeharto.

Om Liem dan Probosoetedjo

Tapi karena pernikahan tersebut hanya upaya menutup aib, maka perkawinan Soekirah dengan Kartoredjo tidak berumur panjang. Belum genap selapanan (35 hari) usia Soeharto kecil, Kartoredjo dan Soekirah berpisah.

Soekirah kemudian menikah lagi dengan seorang pemuda namanya Pramono. Sayang tak jelas benar asal-usul Pramono. Yang pasti, pasangan ini menurunkan tujuh orang anak. Salah seorang anaknya adalah Probosoetedjo. Kelak orang ini adalah bos Mercu Buana Group, dan paling gencar membela Soeharto. Istri sah Tuan Liem sendiri, pada 1916 sudah melahirkan seorang orok lelaki

Anak lelaki yang Tionghoa tulen ini kemudian diberi nama Liem Sioe Liong. Kelak si Om Liem ini menjadi pengusaha besar di Indonesia. Jadi antara Slamet Liem dan Liem Sioe Liong yang raja mie instan ini masih saudara satu ayah, tapi beda ibu. Menurut sumber-sumber ini, selain dengan Liem Sioe Liong, Soeharto masih punya saudara tiri yang tinggal di Semarang. Namanya Ma King Boo, seorang pengusaha rokok besar di Semarang. Sayang sampai sekarang belum diketahui dengan pasti keberadaan Ma King Boo. *har*

 

Sphere: Related Content

No comments: