11.1.08

Memaafkan Soeharto

Memaafkan Soeharto
oleh Barly Haliem Noe
Di muat di harian Kontan, 01/11/08

Mari kita maafkan Soeharto, dan hentikan segala macam proses hukum
bagi Soeharto. Bagaimanapun Pak Harto telah berjasa besar bagi negara
ini! Begitulah ucapan yang santer mengemuka dari mulut para kerabat,
kolega dan kalanganyang menikmati berkah semasa Soeharto berkuasa.
Mereka ini mencoba mengetuk sisi kemanusiaan kita, dan mengingatkan
adat bangsa Indonesiasebagai bangsa pemaaf. Penguasa rezim Orde Baru
selama 32 tahun ini memang sedang terbaring lemahdi Rumah Sakit Pusat
Pertamina Jakarta, sejak sepekan ini. Secara fisik,tak ada lagi bekas-
bekas kejayaan dan kegagahan Soeharto ketika memimpindengan tangan
besi di negeri ini.

Selain karena usianya yang makin uzur, 87tahun, komplikasi berbagai
macam penyakit, konon, telah mendera sebagianorgan vital sang
jenderal besar. Sebagai orang beradab dan berperikemanusiaan, kita
tentu prihatin dengan derita yang menimpa Soeharto. Sebagai orang
yang beriman, kita layakdan berkewajiban mendoakannya supaya cepat
sembuh dan pulih bugarseperti sediakala.

Kalaupun Tuhan Yang Maha Adil berkehendak lain, kita pun pantas
melantunkandoa ke langit penuh khusyuk memohon kepada Tuhan untuk
menyegerakanajal dan mengampuni segala kesalahan dan kekhilafannya
sebagaimanusia biasa. Dengan demikian, luluh lantak segala derita,
dan lebih lapangmenuju surga.

Sebenarnya, kita tak perlu meragukan sikap pemaaf bangsa ini. Lihat
saja,bangsa Indonesia sudah memaafkan Soeharto dan mengampuni sejak
lama.Kita memaafkan Soeharto untuk memenangi pemilu selama enam kali
danmemimpin tanah air selama 32 tahun.Kita juga berlapang dada dengan
sikap Soeharto yang membiarkan para kroninyamenjarah habis-habisan
dana negara, sampai-sampai kantong negara kita kering dan hanya
menyisakan utang segunung.

Kita, meski sedih, juga 'merelakan' tentara-tentara Soeharto dengan
sadismenembak tewas empat mahasiswa Universitas Tri Sakti, serta
memoporhingga bonyok ribuan mahasiswa yang sedang berdemonstrasi.
Para jurnalisjuga sudah lupa dan ikhlas, ketika sang bapak
memberi 'petunjuk' untuk membreidel Tempo, Detik dan Editor, serta
sejumlah koran pada masa sebelumnya.

Bahkan yang terbaru, kita juga memaafkan Soeharto untuk menuntutganti
rugi kepada Time Rp 1 triliun. Ini gara-gara Soeharto tak bisa
memaafkantulisan Time yang dianggap sudah mencemarkan nama
baiknya.Jadi, maaf seperti apalagi yang harus kita berikan kepada
Bapak Pembangunan?Mungkin, kita harus memaafkan Pak Harto yang khilaf
meminta maaf kepada bangsa ini.

Sphere: Related Content

No comments: