16.1.08

Membela Pak Harto

Oleh Baskara T Wardaya

Sejak episode terakhir sakitnya mantan Presiden Soeharto, ada dua
fenomena sosial-politik yang menarik. Pertama, sejumlah pelaku politik
beramai-ramai memuji Pak Harto secara publik. Meski tidak terkait
sakitnya, "jasa-jasa" Pak Harto dengan riang mereka sebut-sebut.

Mereka juga "berlomba" mengunjungi Pak Harto sambil berhasrat diliput
media sebanyak mungkin. Kebetulan sejumlah media juga dengan senang
hati memenuhi hasrat itu.

Fenomena kedua, bersamaan dengan itu, tampak sejumlah pelaku politik
berusaha mendesak supaya proses hukum terhadap Pak Harto dihentikan.
Alasannya, kasihan Pak Harto jika harus diadili mengingat beliau
dinyatakan sakit. Fenomena kedua ini menarik karena sebenarnya mereka
tahu, prosedur medis dan prosedur hukum itu dua wilayah yang berbeda.

Paham betul

Bagaimana "membaca" kedua fenomena itu? Tentu ada banyak kemungkinan.
Kita baca fenomena kedua lebih dulu.

Dalam fenomena ini terbaca, tampaknya orang lupa siapa sebenarnya Pak
Harto. Maksudnya, orang tidak ingat bahwa Pak Harto adalah seorang
pemberani. Sejak masuk jajaran tentara kolonial Belanda (KNIL) tahun
1940 lalu bergabung dengan dinas latihan militer Jepang tahun 1942,
sudah kelihatan, Pak Harto bukanlah seorang penakut.

Berhadapan dengan maut dan ketidakpastian sudah merupakan bagian hidup
sehari-hari Pak Harto. Pada masa Perang Kemerdekaan (1945-1949) Pak
Harto juga ikut bertempur melawan Belanda, termasuk dalam pendudukan
kota Yogyakarta tahun 1949. Setelah itu Pak Harto turut berjuang
merebut Irian Barat dari Belanda di awal tahun 1960-an.

Jika Pak Harto tidak pernah takut menghadapi Jepang atau Belanda,
mungkinkah dia takut "hanya" untuk berhadapan dengan proses hukum
bangsanya sendiri? Tentu tidak. Seorang pemberani seperti Pak Harto
pasti tidak akan gemetar hanya karena mau dihadapkan ke pengadilan,
apalagi pengadilan dari bangsa yang telah ia layani sejak ia berkuasa
tahun 1966. Pak Harto tahu, pengadilan adalah forum yang sah dan sehat
untuk membuktikan diri apakah seseorang itu secara hukum bersalah atau
tidak. Artinya, ada kemungkinan setelah diadili seorang tertuduh
dinyatakan tidak bersalah.

Pak Harto juga tahu, yang mau diadili itu bukan Pak Harto sebagai
pribadi, melainkan Pak Harto sebagai seorang pejabat publik. Pak Harto
paham betul, seorang pejabat publik tidak perlu takut
mempertanggungjawabkan keputusan dan tindakan publiknya kepada
masyarakat. Pak Harto paham itu.

Memanfaatkan keadaan

Itu sebabnya kita jadi berpikir, jangan-jangan yang takut pada proses
hukum dan pengadilan atas Pak Harto itu bukan Pak Harto sendiri,
tetapi para kroninya. Para kroni itu takut, jika sampai Pak Harto
diadili, merekalah yang akan kena. Mereka takut ketahuan bahwa selama
ini telah menggunakan kuasa dan pengaruh Pak Harto demi kepentingan
sendiri. Itu sebabnya orang-orang itu bersikeras agar Pak Harto jangan
sampai diadili. Semua itu dilakukan bukan demi Pak Harto, tetapi demi
diri sendiri.

Kini kita baca fenomena pertama. Sejumlah pelaku politik beramai-ramai
memuji Pak Harto secara publik, berebut mengunjungi, dan sambil
meninggalkan rumah sakit berhasrat untuk diliput pers guna membela Pak
Harto. Sekilas tampaknya mereka ini memuji dan membela Pak Harto
sebagai bukti bakti. Meski demikian, jangan-jangan yang sedang mereka
puji, bela, dan beri bukti bakti bukan Pak Harto, tetapi diri mereka
sendiri.

Kita tahu, dalam keadaan sakit Pak Harto tidak terlalu membutuhkan
pujian, pembelaan, atau bukti bakti. Yang diperlukan Pak Harto adalah
kesehatan dan kebahagiaan bisa kembali menemani anak-cucu.

Pertanyaannya, mengapa para pelaku politik itu sibuk melakukan hal-hal
yang sebenarnya tidak sedang dibutuhkan Pak Harto? Sekali lagi,
jangan-jangan karena orang-orang itu sebenarnya sedang memanfaatkan
keadaan Pak Harto demi kepentingan sendiri.

Tidak takut

Tentu tidak semua orang yang mengunjungi Pak Harto itu sedang melayani
diri sendiri. Banyak di antara mereka datang berkunjung didasari niat
tulus dan murni. Meski demikian, tetap penting disampaikan sikap
kritis terhadap para pelaku politik yang atas nama seorang pribadi
yang sedang berjuang melawan sakit dan usia lanjut, menggunakan
kesempatan dalam kesempitan untuk melayani diri sendiri.

Sikap kritis juga perlu karena dengan begitu kita menjadi lebih ingat,
meski tampak erat-terkait, sebenarnya ada bedanya antara prosedur
medis dan prosedur hukum; antara kepentingan seseorang yang sedang
sakit dan kepentingan para kroni yang sedang memanfaatkan; antara
mengikuti tren politik sesaat secara latah dan kesediaan berpikir
secara kritis.

Semoga sebagai bangsa yang pernah dididik dan dilayani oleh Pak Harto
selama 32 tahun, kini kita siap menjadi bangsa yang semakin mampu
berpikir kritis, termasuk terhadap kepentingan sendiri.

Kita berdoa untuk Pak Harto dan untuk keberanian bangsa ini agar
menjadi bangsa yang tidak takut pada proses hukum. Kita tahu, di
negeri ini setiap warga negara berdiri sama tinggi di mata hukum.
Siapa pun orangnya.

Baskara T Wardaya SJ Dosen Sejarah di Universitas Sanata Dharma,
Yogyakarta; Kontributor Buku Menguak Misteri Kekuasaan Soeharto
(GalangPress, 2007)

http://kompascetak.com/kompas-cetak/0801/17/opini/4162554.htm

Sphere: Related Content

No comments: