10.1.08

Mencari Metode Khusus Penyelesaian Kasus Soeharto

Bali Post.

            Jumat Pon, 11 Januari 2008


              Secara hukum, semua kesalahan di masa lalu harus
diungkapkan dan diselesaikan untuk memberi keadilan kepada rakyat
Indonesia.               
                
                

                  Pekerjaan besar yang menunggu saat Soeharto sembuh
nanti adalah menciptakan sebuah metode khusus untuk menyelesaikan
masalah yang dihadapinya. Untuk menyelamatkan wibawa hukum di
Indonesia, harus ada cara budaya atau sosial, atau apa pun namanya
untuk menyisati persoalan ini (demi tidak menciptakan preseden buruk
kelak). Secara hukum, semua kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh
Soeharto di masa lalu harus diungkap dan diselesaikan. Ini untuk
memberikan  keadilan kepada rakyat Indonesia. Ini yang menjadi
tuntutan masyarakat dan memang itulah yang seharusnya terjadi pada
mereka yang melakukan kesalahan.

                  -------------------------------------------------

                  Mencari Metode Khusus Penyelesaian Kasus Soeharto
                  Oleh GPB Suka Arjawa

                  ADA dua hal yang mesti dilihat ketika menghadapi
sakitnya Soeharto. Pertama adalah ''sakit politis'' dan yang kedua
sakit ''beneran'' (sakit dalam arti yang sebenarnya secara medis).
Sakit politis adalah sakit  yang terkesan direkayasa dengan maksud-
maksud tertentu, lebih pada upaya kepentingan politik. Masyarakat
Indonesia sering kali merasa terkejut ketika tiba-tiba Pak Harto
dinyatakan sakit saat kasus dugaan korupsi yang dilakukannya pada
waktu berkuasa diungkit oleh kejaksaaan atau pengadilan.

                  ----------------------------------------

                  Dengan pernyataan sakit dari pihak rumah sakit
tersebut, maka pengadilan tidak bisa melanjutkan proses. Akan
tetapi, terkadang masyarakat juga dibuat bingung karena Jenderal
Besar itu justru bisa menengok kerabatnya yang sedang sakit atau
meninggal dunia. Kecurigaan politik muncul di sini karena jika
misalnya dugaan penyimpangan yang pernah  dilakukannya semasa
berkuasa mampu dibongkar, akan bisa  menyeret banyak orang penting
di negara ini, termasuk yang sekarang sedang memegang jabatan
politis. Jadi ''sakit politis'' diperlukan untuk menghindari
rembetan peristiwa besar yang bisa membuat gempa politik di
Indonesia.

                  Sedangkan ''sakit beneran'', ya kondisi seperti
yang diungkap media massa sekarang, di mana Pak Harto terbaring
lemah dengan indikator berbagai fungsi organ tubuh sudah sangat
menurun. Dalam berbagai berita yang dilansir oleh media massa,
fungsi organ jantung, hati, ginjal, sampai paru-parunya sudah jauh
berkurang. Dengan jelas kemudian bisa dikatakan bahwa Pak Harto
memang benar-benar sakit. Silang pendapat yang kini terjadi terhadap
diri Pak Harto, sebagian disebabkan oleh masih adanya masyarakat
yang kebingungan melihat fakta yang terjadi pada dirinya. Apakah
peristiwa yang menimpa mantan penguasa orde baru itu berupa ''sakit
politis'' atau ''sakit beneran''?

                  Berbagai gambar dan informasi media massa,
termasuk  keterangan yang disampaikan oleh Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono, menyuguhkan fakta bahwa sebenarnya Pak Harto memang
menderita sakit dalam arti yang sebenarnya. Karena itu, secara etis
seharusnya perbincangan tidak lalu diarahkan kepada soal gugat-
menggugat segala penyimpangan yang dilakukan. Bahkan, dalam budaya
universal pun, tidak etis membincangkan persoalan hukum yang
melibatkan sang pesakitan. Akan tetapi, lebih etis untuk
memperbincangkan bagaimana agar dia sembuh. Ini penting, sebab
dengan kesembuhannya itu, justru akan memberi solusi terhadap
berbagai penyimpangan yang pernah dilakukan di masa lalu.

                  Penyembuhan itulah yang akan mampu menghilangkan
berbagai ancaman terhadap preseden buruk yang menimpa masyarakat
Indonesia. Jika kesembuhan itu tidak terjadi, maka segala tindakan
pengadilan terancam sangat kesulitan untuk mengungkap berbagai
masalah yang menimpa Soeharto dengan kroni-kroninya itu.

                  Metode Khusus

                  Pekerjaan besar yang menunggu saat Soeharto sembuh
nanti adalah menciptakan sebuah metode khusus untuk menyelesaikan
masalah yang dihadapinya. Untuk menyelamatkan wibawa hukum di
Indonesia, harus ada cara budaya atau sosial, atau apa pun namanya
untuk menyiasati persoalan ini (demi tidak menciptakan preseden
buruk kelak). Secara hukum, semua kesalahan yang dibuat oleh
Soeharto di masa lalu harus diungkap dan diselesaikan. Ini untuk
memberikan  keadilan kepada rakyat Indonesia. Ini yang menjadi
tuntutan masyarakat dan memang itulah yang seharusnya terjadi pada
mereka yang melakukan kesalahan. Kesediaan Soeharto menghadapi
pengadilan akan membawa dampak positif bagi bangsa Indonesia. Paling
tidak tudingan bahwa pelaksanaan hukum itu tebang pilih, akan bisa
dipatahkan. Inilah persoalan besar yang sangat sulit dilaksanakan.

                  Jembatan yang coba ditawarkan untuk menghadapi
kebuntuan ini adalah bahwa harus ada pengampunan terhadap Soeharto
dengan mengingat latar belakang dan jasa-jasanya. Ini merupakan
konteks sosial yang mesti dipertimbangkan. Masyarakat harus mengakui
bahwa bagaimana pun Pak Harto adalah orang besar yang pernah
mempunyai jasa bagi Indonesia. Pada masanya stabilitas Indonesia
berhasil dijamin, dan perekonomian  relatif stabil. Sebagai orang
yang pernah berkuasa di dalam satu negara, pastilah ia memiliki
pengikut dan kekuatan politik yang tidak bisa dipandang enteng.
Tidak mudah untuk mengabaikan begitu saja kekuatan seperti ini. Jika
ini disinggung, bisa-bisa stabilitas negara goyang. Ini pula yang
harus disadari masyarakat. Dengan melihat hal semacam itu, maka
masalah pengampunan memang layak diberikan. Secara kultural,
masyarakat Indonesia memegang kendali atas saling pengertian dan
tepa slera. Cara seperti ini kalau diterapkan dalam kasus ini, akan
memberikan sumbangan perasaan tidak ada saling merugikan di antara
dua pihak. Soeharto diadili, tetapi karena diakui mempunyai jasa
bagi negara Indonesia, ia diampuni oleh masyarakat. Kasarnya
Soeharto tidak dijebloskan ke penjara.

                  Gus Dur pernah mengungkapkan metode seperti ini
untuk menjembatani kasus Soeharto itu. Di Korea Selatan, cara
demikian berhasil diterapkan untuk kasus Presiden Chun Do Hwan. Dia
diadili, dinyatakan bersalah, dan kemudian diampuni. Chun minta maaf
kepada masyarakat dengan mengunjungi sebuah kuil.

                  Dalam hal kasus Soeharto, dia memang mesti
mengembalikan  semua kekayaan jika itu terbukti dilakukan secara
tidak benar. Bukankah Pak Harto mantan prajurit, yang harus
berperilaku kesatria. Ini memerlukan jiwa besar, bukan saja oleh
dirinya tetapi juga kroni-kroninya.

                  -----------------------------------------

                  * Kesediaan Soeharto menghadapi pengadilan akan
membawa dampak positif bagi bangsa Indonesia. Paling tudingan bahwa
pelaksanaan hukum itu tebang pilih, akan bisa dipatahkan.

                  * Jembatan yang coba ditawarkan untuk menghadapi
kebuntuan ini adalah bahwa harus ada pengampunan terhadap Soeharto
dengan mengingat latar belakang dan jasa-jasanya.

                  * Secara kultural, masyarakat Indonesia memegang
kendali atas saling pengertian dan tepa slira. Cara seperti ini
kalau diterapkan dalam kasus ini, akan memberikan sumbangan perasaan
tidak ada saling merugikan di antara dua pihak.

 

Sphere: Related Content

No comments: