10.1.08

Mengedepankan Sisi Kemanusiaan

Bali Pos.


            Jumat Pon, 11 Januari 2008                 
               
                                   Mengedepankan Sisi Kemanusiaan

                  SETELAH diberitakan berhasil mengatasi keadaan
kritis kesehatannya beberapa waktu lalu, kini kesehatan mantan
Presiden Soeharto kembali dinyatakan kritis. Ia masih berbaring
lemah di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta dengan berbagai
perlengkapan kesehatan menempel pada tubuhnya. Setelah mengalami
kemajuan, kondisi kesehatan  Soeharto tiba-tiba drop alias menurun
tajam. Hal ini diakibatkan penumpukan cairan di paru-paru makin
bertambah serta terjadi pendarahan pada saluran pencernaan.

                  Keadaan kesehatan Pak Harto menjadi sorotan di
mana-mana di Indonesia, bahkan di luar negeri. Berbagai pendapat
muncul menyertai keadaan mantan orang paling berpengaruh di
Indonesia selama 32 tahun ini. Menghadapi persoalan seperti ini,
sudah seharusnyalah masyarakat Indonesia menyikapi dengan bijaksana.
Ini bukan saja demi stabilitas negara, juga menyangkut karakter
bangsa manakala peristiwanya disorot media asing.

                  Untuk saat ini rasanya tidaklah etis jika mencoba
mengungkat-angkit persoalan kesalahan yang pernah dilakukannya. Jika
kelak telah sembuh, di situlah saatnya lagi untuk mempersoalkan
perkara yang dihadapinya. Pikiran seperti ini, tidak saja berlaku
pada dunia sipil, juga di dunia ketentaraan. Tentara yang terluka
tertangkap oleh musuh, ia akan diobati terlebih dulu, sekuat tenaga
disembuhkan. Setelah sembuh, barulah ia kemudian dikenai tindakan
hukum. Inilah sifat kesatria seorang prajurit.

                  Masyarakat Indonesia mungkin telah terbelah
posisinya melihat keadaan Pak Harto yang terbaring lemah di rumah
sakit. Keterbelahan ini tidak pelak akibat masalah sejarah.  Sebagai
orang besar, Pak Harto adalah pelaku sejarah dengan berbagai
perannya. Tetapi manakala kita melihat jalannya sejarah, haruslah
pula dilihat bagaimana sisi baik ketika dia menjadi pelaku itu.
Tetapi, sebagai manusia, tidak mungkin seluruhnya akan bernilai
positif. Pada saat  terbaring sakit, bahkan dua hari terakhir di
saat sedang lemah-lemahnya, banyak pula sorotan atas hal-hal negatif
Pak Harto. Mungkin ini disebabkan oleh kekecewaan akibat begitu
berkuasanya Soeharto dulu.

                  Di sinilah sesungguhnya tugas bangsa Indonesia
sekarang  untuk mampu memilahnya. Katakanlah, sekadar contoh,
ternyata kebijakan mendirikan posyandu di setiap desa di kala
pemerintahan Soeharto masih berjaya, mendatangkan manfaat untuk
rakyat banyak. Posyandu pernah macet saat reformasi menggelora di
Indonesia. Tetapi begitu ada kasus flu burung, diare serta lumpuh
layu, orang ternyata baru sadar betapa besarnya peran posyandu
tersebut. Kini gerakan itu kembali digaungkan.

                  Sri Sultan Hamengku Bhuwono IX pernah mengatakan
bahwa sangat tidak pantas bagi orang untuk melihat apalagi mengutak-
atik kejelekan orang lain. Ini sering didengungkan dan yang membuat
dia dicintai oleh masyarakat Yogyakarta. Rasanya pesan itu relevan
untuk seluruh bangsa Indonesia dari berbagai suku dalam menghadapi
masa kritis mantan Presiden Indonesia itu. Kita yakin bahwa hal ini
akan bisa dilakukan oleh seluruh masyarakat kita, demi stabilitas
negara. Bangsa Indonesia mampu mengedepankan sisi kemanusiaan
ketimbang rasa benci masa lalu.


 
 

Sphere: Related Content

No comments: