13.1.08

Menghitung hari

From: Elisa Koraag
E-mail: elisa201165@yahoo.com
 
 
Percaya atau gak percaya, informasi kondisi mantan presiden Soeharto masih di tunggu oleh jutaan manusia. Yang menunggu itu semua kelompok. Pencinta, pendukung, pembenci dll.
   
 
Yang lagi ramai dipersoalkan adalah soal etis atau tidaknya permintaan maaf untuk beliau di saat meregang ajal?
   
 
Mari kita kesampingkan dulu soal etis atau tidak. Sebagai manusia, rasanya saya percaya pasti semua orang mau saling memaafkan apalagi mereka yang mengaku beriman.
   
 
Persoalannya bukan pada memberi maaf itu. Tapi untuk apa maaf itu diberikan? Apa beliau sudah mengaku salah? Kan pembuktian secara hukum belum ada. Lalu mengapa harus minta maaf kalau tidak bersalah? Janganlah permintaan maaf ini hanya basa-basi.
   
 
Cobalah pengacara atau keluarga meluruskan persoalan. Artinya sampaikan dengan informasi yang jelas, beliau minta di maafkan karen telah berbuat a, b dan c. Karena perbuatan a, b dan c maka menjelang akhir ajalnya  mohon tolong di maafkan.
   
 
Nah kalau gitu kan simpel. Tinggal isi a, b dan c nya itu apa.(Apanya cuma sampai c atau sampai Z pangkat 2). Misalnya sudah merampok bangsa ini dan memperkaya hingga 7 turunan (Sudah sampai belum 7 turunan?). Membantai manusia untuk melicinkan jalan ke tampuk kekuasaan. Dan apalagi?
   
Kalau daftar kesalahannya sudah ada, tinggal diukur. Dimaafkan pasti. Kan kita bangsa pemaaf tapi pertanggung jawabkan kesalahannya/dosanya kan tetap harus dilakukan.
   
 
Kalau mencuri dari bangsa ini dengan angka tak terhitung, apa hukuman yang pantas. Nah mengaculah pada pasal UU. Begitu seterusnya. Inikah aneh mengaku tak bersalah tapi minta di maafkan.
   
 
Kalau sekarang beliau tengah menghitung hari, barangkali lagunya Krisdayanti perlu didengungkan di kawasan RSPP Pertamina.
   
 
Salam

 
Icha

Sphere: Related Content

No comments: