16.1.08

Mengomentari Tajuk Rencana Kompas: Memaafkan Soeharto

Tiga kali saya harus membaca ulang tajuk rencana Kompas hari ini (16 Januari 2008), namun saya tetap tidak bisa menangkap kemana arah yang hendak dituju.

Tapi dengan penuh itikad baik saya mencoba menangkap satu hal yang positif: Yah, barangkali baik juga kalau Presiden SBY melakukan sesuatu untuk mempersatukan bangsa yang sedang terpecah dalam mengambil sikap terhadap peranan Mantan Presiden Suharto semasa 32
tahun kekuasaannya. Apalagi, masih banyak persoalan-persoalan penting yang harus kita kerjakan dalam memberikan keadilan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Tapi apa yang bisa dilakukan oleh Presiden SBY dengan segala pertimbangan konstitusional yang melingkupinya? Saya rasa yang bisa dilakukan oleh Presiden SBY hanyalah memberikan sebuah pidato kenegaraan dalam melepas kepergian Suharto.

Apa isi pidato itu? Menguraikan sejarah perjalanan bangsa dan mencoba mengajak rakyat melihat 32 tahun masa pemerintahan Suharto di dalamnya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Mencoba mengajak rakyat melihat kesulitan yang kita warisi dan modal yang
masih kita miliki dalam menata kehidupan ke masa depan. Mencoba mengajak rakyat melihat
persoalan-persoalan baru yang masih terus bermunculan. Mengajak rakyat untuk bersatu dan bahu-membahu dalam mengatasi berbagai warisan persoalan dan persoalan baru yang terus bermunculan itu. Mengajak rakyat untuk rela melepas kepergian Suharto dalam konsteks
relijiusitas, sejarah dan budaya bangsa.

Pidato itu mungkin "abu-abu". Dia tidak "hitam-putih" dalam menilai peranan Suharto. Tapi kalau tujuannya adalah "to unite the nation" memang itulah yang harus dilakukan. Bangsa ini juga adalah sebuah bangsa yang sangat plural. Dia tidak "hitam-putih". Dan pada kenyataannya, dalam menilai peranan Suharto sebagian besar dari rakyat juga tidak bersikap "hitam-putih". Dan itu jugalah kreativitas dan kebijaksanaan kita, yang membuat kita selama ini--di tengah terpaan
berbagai persoalan--tetap utuh sebagai bangsa dan negara.

Pidato itu, boleh jadi, memang mirip sebuah eulogi. Tapi kalau disampaikan dengan bijak dan pilihan kata yang tepat, dia akan menginspirasi mayoritas bangsa ini. Dan pada dasarnya eulogi yang baik memang bukan lagi ditujukan bagi orang yang sudah berangkat untuk menghadap Sang Pencipta, tapi terutama ditujukan bagi semua kita yang ditinggalkan, dan yang akan meneruskan
kehidupan ini.

Pidato itu juga, boleh jadi, akan merupakan sebuah orasi kebudayaan. Dan itu baik. Di saat kita
tertatih-tatih untuk menyelesaikan persoalan secara politik, hukum dsb, apa salahnya kita berpaling pada kebudayaan?

Kapan pidato "the nation for the union" itu disampaikan? Sebaiknya dia disampaikan begitu kita
mendengar kabar bahwa Suharto sudah tiada.

Dimana pidato itu disampaikan? Cukup di Istana Negara dan dipancarkan lewat televisi dan radio ke seluruh negeri. (Jangan di depan MPR, karena itu berarti kita harus menggelar sebuah Sidang Istimewa, dan implikasinya bisa panjang).

Memang bahasa tubuh Presiden SBY acapkali memancarkan kesan takut dan ragu. Tapi di balik kelemahan itu ia juga punya suara dan wajah yang memancarkan kesan "sincere" dan "solemn". Dan itu adalah modal dalam menyampaikan sebuah pidato, eulogi atau orasi kebudayaan yang inspiring. Lagipula, rakyat sudah letih melihat demokrasi yang dikumandangkan oleh para
pemimpin dengan merepet dan berteriak. Sekali-kali rakyat perlu demokrasi yang dikumandangkan dengan solemn.

Daripada berkutat mencari terobosan politik dan hukum dalam tenggat waktu yang sudah tinggal dalam hitungan hari atau jam itu, marilah membuat terobosan budaya. Saya rasa hanya itulah yang bisa dan boleh dilakukan oleh Presiden SBY: To unite and save the nation, bukan to unite and save kroni-kroni Orde Baru.

Horas!

Mula Harahap

_______________________________________

Tajuk Rencana Kompas
Rabu, 16 Januari 2008

Memaafkan Pak Harto

Mantan Ketua MPR Amien Rais meminta proses hukum mantan Presiden Soeharto dihentikan. Pemerintah secara resmi memaafkan Pak Harto.

Dengan pemerintah secara resmi melakukan itu, menurut Amien Rais, masyarakat dapat pula memaafkan Pak Harto. Kepastian itu sangat penting untuk membuat bangsa ini tidak terombang-ambing oleh masalah Pak Harto, yang sedang terbaring sakit dan kritis.

Penjelasan yang disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengenai Pak Harto akhir pekan lalu multi-arti. Presiden mengatakan, bukan saatnya untuk membicarakan kasus hukum Pak Harto karena mantan presiden itu sedang terbaring sakit. Namun, di sisi lain kita lihat, kasus perdata Pak Harto tetap berjalan. Jaksa Agung bahkan sempat membicarakan kemungkinan penyelesaian di luar pengadilan pada saat Pak Harto sedang berjuang antara hidup dan mati.
Kita memahami bahwa pilihan yang dihadapi tidaklah mudah. Namun, dalam politik, pilihan yang kita hadapi sering kali bukan antara baik dan buruk, tetapi antara yang buruk dan kurang buruk. Pada satu titik putusan itu harus diambil dan dalam kasus Pak Harto putusan itu harus diambil sekarang ini ketika Pak Harto masih ada.

Sungguh sayang, pada saat pemimpin bangsa-bangsa lain memberikan penghormatan tinggi kepada Pak Harto, kita belum juga bisa satu kata untuk memutuskan sikap kita terhadap Pak Harto. Meski sudah berlangsung hampir 10 tahun, kita masih terus berkutat pada kontroversi yang
tidak berujung.

Mantan PM Singapura Lee Kuan Yew sesudah menjenguk Pak Harto di Rumah Sakit Pusat Pertamina menyampaikan keprihatinan atas perlakuan bangsa Indonesia kepada Pak Harto. Menurut dia, seakan hanya praktik KKN saja yang ditinggalkan Pak Harto. Padahal, jika dilihat
bagaimana kondisi ekonomi Indonesia 40 tahun yang lalu dan dibandingkan dengan sekarang ini, akan terasa betapa besarnya karya Pak Harto. Kontribusi besar Pak Harto tidak hanya terbatas untuk Indonesia, tetapi juga bagi kemajuan ASEAN.

Memang tidak mudah bagi sebuah bangsa untuk menghormati pemimpinnya, apalagi pada saat-saat akhir kekuasaannya bukan catatan besar yang ditinggalkan. Pengalaman seperti itu pernah dihadapi bangsa China ketika mereka diminta untuk menentukan sikap kepada pemimpin besar mereka Mao Zedong. Menyusul keterpurukan ekonomi China, banyak yang berpikiran
untuk tidak menghormati Mao.

Di tengah pro-kontra yang tajam, pemimpin baru China, Deng Xiaoping, lalu berpidato di Lapangan Tiananmen. Deng mengatakan, selama hidupnya Mao memang telah membuat tiga dosa besar, tetapi selama hidupnya Mao juga telah membuat tujuh jasa besar bagi China. Deng
lalu mengajak bangsa China untuk mengubur sedalam-dalamnya tiga dosa besar Mao dan mengenang selama-lamanya tujuh jasa besarnya.

Mampukah kita melakukan hal yang sama? Inilah tantangan yang kita hadapi sebagai bangsa dan kita membutuhkan pemimpin yang berani untuk membawa bangsa ini mengakhiri kontroversi.

Sphere: Related Content

No comments: