13.1.08

Menunggu mati

 
SEMENJAK kenal kredo yang dinyatakan kelirumolog sekaligus budayawan
Semarang, Jaya Suprana, bahwa ''hidup itu adalah menunggu mati'' -
Mas Celathu jadi lebih rileks memaknai kematian. Kematian bukanlah
hal yang menakutkan.

Ketika masih kanak-kanak, peristiwa kematian dikonstruksikan sebagai
hal yang menakutkan. Seakan-akan hanya orang sial yang bisa mati. Dan
setelah mati pun, orang itu akan menemui rentetan kesengsaraan,
termasuk kemungkinan dibakar api neraka.

Mas Celathu yang imut, waktu itu, selalu jengah jika mendengar ada
tetangganya meninggal. Takut di-primpeni, dibayang-bayangi kehadiran
arwah jenazah. Dia selalu membayangkan, arwah itu gentayangan di
pohon-pohon besar, di rumah kosong, di gang sempit, atau sedang
berkelejotan dibakar api neraka. Semua serba horor.
Hiiiiiii...sereeeemmmm!!!

Tapi sekarang, bayang-bayang masa lalu itu sudah sirna. Baginya,
kematian adalah sebuah keniscayaan, sesuatu yang pasti akan terjadi
pada siapa pun. Tidak ada diskriminasi. Yang kaya atau miskin,
jenderal atau kopral, direktur atau office boy, profesor atau guru
SD, - semua akan mati.

Yang membedakan paling banter cuma istilahnya. Ada yang disebut
meninggal dunia, wafat, mangkat, gugur, sumare, modar, koit, mbangke,
mampus atau tewas. Apa pun sebutannya, intinya ya sama saja: nyawa
terpegat dari raga.

Pada titik kesadaran inilah, Mas Celathu yang rajin berdoa tapi
jarang beribadah formal seremonial dan karenanya sering dikira atheis
merasakan getaran keagungan Tuhan. Betapa dalam kuasa-Nya, semua
makhluk tak ada artinya apa-apa. Mas Celathu seolah-olah bisa
mengintip rahasia Tuhan. Kalau Dia punya mau, apa pun niscaya akan
terjadi. Termasuk seumpama Kang Murbeng Dumadi itu menginginkan
mahluknya pulang ke rumah-Nya. Sekarang pulang, kun fayakuuuuunn...
Maka segeralah seseorang meninggal.

lmu pengetahuan dan semua kecanggihan peralatan kesehatan dan
kedokteran, ventilator misalnya, hanyalah alat yang berikhtiar untuk
memaksakan tugas-tugas organ tubuh bekerja secara mekanik. Tapi,
tidak membuat jiwa hidup kembali. Dengan semua pencapaian teknologi,
nafas memang bisa diperpanjang, jantung dibuat tetap berdetak, dan
darah direkayasa untuk terus mengalir.

Tapi semua itu akan menjadi sia-sia, bahkan menjelma siksa, jika
memang Dia tak berniat lagi mengulur izin hidup seseorang. Karena
itulah, hampir semua agama selalu mengajarkan tentang keikhlasan.
Memberi pandu supaya orang tetap legawa, dan good bye kepada orang
lain yang telah ''selesai menunggu'' alias mati.

''Kelak kalau aku sakit gawat dan sudah sekarat, jangan kalian paksa
aku tetap hidup. Ikhlaskan saja. Kalau Tuhan menghendaki aku hidup,
nggak usah dipacu dengan ventilator, aku tetap akan hidup. Wong urip
kuwi tergantung kersane Gusti Allah,'' kata Mas Celathu kepada
bininya.

''Mbok jangan nggege mangsa. Omongan sampeyan ini kok ngelantur. Ora
ilok,'' sergah Mbakyu Celathu.

''Lho, bicara soal mati kok ora ilok? Kamu itu gimana ta bu? Kematian
itu termasuk kegiatan manusia yang kelak pasti terjadi, Jadi ya boleh
diantisipasi, Apalagi cuma diomongkan. Kan lebih enak kalau yang
bakal terjadi itu, ditata lebih awal. Kalau nggak ada persiapan,
nanti malah bikin repot banyak orang lho,'' jawab Mas Celathu enteng.

Ya memang begitulah Mas Celathu. Dia bicara soal kematian serileks
mendiskusikan persoalan yang remeh temeh. Tak ubahnya ngomongin ban
mobil yang kempes atau ngrasani infotaiment yang didominasi artis
kawin cerai.

''Pak Jaya Suprana sudah ngunandika, hidup itu kan cuma menunggu
mati. Sambil menunggu datangnya kematian itu, kita harus punya
kesibukan. Karena itulah, kita saling bekerja yang membawa
kemanfaatan untuk alam dan kehidupan. Jadi, ya jangan sampai kita ini
bengong melulu,'' kata Mas Celathu lagi.

''Iya iya,... tapi kalau hare gene ngomongin mati, rasa gimana gitu..
Takut kualat. Nanti kalau mati beneran terus gimana?'' Mbakyu Celathu
mengingatkan.

''Paling banter kamu jadi janda.''

''Jangan ngawur. Hayo, kalau mati beneran gimana?''

''Lha ya dikubur,'' jawab Mas Celathu singkat, tanpa beban.

''Mau dikubur dengan cara apa, yang terserah kalian yang pada masih
hidup. Mau didoakan dengan ritual agama apapun, ya silakan aja. Toh
saya juga sudah nggak tahu, lha wong sudah mati. Bahkan mau
ditelantarkan di lapangan, dan dicucuki burung bangkai, ya mangga
saja,'' celoteh Mas Celathu sekenanya, mengisyaratkan bahwa kematian
bukanlah peristiwa yang luar biasa.

Mbakyu Celathu benar-benar gemas dengan jawab itu. Tangannya rasanya
sudah gatal untuk menapuk mulut suaminya yang lancang itu. Tapi ia
segera sadar, di rumah tangga Celathu berbagai bentuk kekerasan fisik
dipantangkan. Jadi dia segera mengumpetkan tangan di balik dasternya.

Tapi dasar Mas Celathu suka iseng. Demi melihat kejengkelan istrinya,
dia malah ndadi ngomyang. Omongannya semakin ngelantur tidak menentu.
Imajinasinya tambah liar. Dia malah berpesan, ''nanti kalau aku mati
jangan ditangisi ya. Orang mati jangan diantar dengan kesedihan. Tapi
justru diantar dengan kegembiraan. Jadi, pas jenazahku mau
diberangkat ke kubur,kalian musti cekikikan. Syukur jika bisa
cekakakan, tertawa terbahak-bahak. Seru tuh. Teater banget.''

''Edan, edaaaaan. Sampeyan ki edan tenan,'' jerit istrinya sambil
membungkam mulut suaminya.

Mas Celathu gelagapan. Karena dibekap mulutnya, nafasnya megap-megap.
Dia terbatuk-batuk. Batuknya semakin terpingkal-pingkal, bahkan
diwarnai hoek-hoek-hoek disertai keluarnya cairan kental dari
kerongkongannya. Mas Celathu mengkis-mengkis, dan dengan suara putus-
putus, dia bilang, ''bu,..napasku, napasku,...tolong obat batuknya.
Wuaduuhhh.. dadaku sesek. Obat gosok, obat gosok,..sini gosokkan di
dada.''

Mbakyu Celathu kaget. Tidak menduga akan sedemikian dahsyat
kejadiannya. Segera diambilnya minyak kayu putih, dan diusapkan ke
dada suaminya. Dibiarkan suaminya bersandar di kursi. Lalu
katanya, ''Awas kalau minta ventilator. Gini aja kan lama-lama
sembuh. Kalau Tuhan memang menghendaki, nanti rak ya sehat.'' (77)

Sumber Suara Merdeka Cetak
 

Sphere: Related Content

No comments: