28.1.08

Militer juga korban tangan besi Soeharto

Radio Nederland Wereldomroep

28-01-2008


Semasa hidup, mendiang Soeharto adalah seorang militer dan selama berkuasa, Soeharto juga mengandalkan peran militer. Soal peran militer dalam politik Indonesia semasa Soeharto Orde Baru itu, berikut bisa diikuti wawancara Radio Nederland Wereldomroep dengan prof. Salim Said, pengamat militer Indonesia yang sekarang menjabat dua besar Republik Indonesia untuk Republik Ceko di Praha. Bagaimana prof. Salim Said melihat hubungan erat Soeharto dengan militer?

Salim Said [SS]: Begini, saya ingin mengatakan bahwa pemerintah Orde Baru yang dipimpin presiden Soeharto itu, secara formalnya itu dibikin oleh tentara, khususnya Angkatan Darat melalui dalam seminar Angkatan Darat kedua di Bandung pada bulan Agustus tahun 1966. Jadi Orde Baru itu, sebuah Orde sebuah pemerintahan yang didisain oleh Angkatan Darat tentara.

Tetapi dalam perjalanannya perlahan-lahan Soeharto mengambil alih semua kendali, semua inisiatif, sehingga sebenarnya tentara justru dikuasai oleh Soeharto. Tidak lagi memainkan peranan inisiatif seperti ketika membentuk pemerintahan Orde Baru itu.

Jadi korban pertama sebenarnya atau korban terpenting dalam otoriter Soeharto adalah tentara oleh sebab itu saya selalu meragukan apakah betul dwifungsi itu berjalan di bawah Soeharto. Tidakkah tentara hanya menjadi alatnya Soeharto. Itu pertanyaan saya selama ini.

Tentara Diperalat Soeharto

RNW: Dan Pak Salim Said berhasil menemukan jawabannya?

SS: Saya merasa, saya cenderung untuk mengatakan bahwa tentara hanya akhirnya diperalat oleh Soeharto. Sebab begini. Semua orang yang berkuasa atau naik ke singgasana kekuasaan dengan dukungan tentara itu sadar betul bahwa yang bisa menjatuhkan dia hanya tentara. Bukan kekuatan di luar tentara. Oleh sebab itu Soeharto cepat-cepat mengatur supaya tentara bisa beliau kuasai, sehingga tidak menjadi ancaman lagi, bagi kekuasaan beliau.

RNW: Dan itu terlihat dari berbagai wakil presiden yang tampil, mendampingi Soeharto, yang paling mencolok adalah tampilnya Try Sutrisno ya? karena waktu itu, namanya langsung diajukan oleh Mabes ABRI kan?

SS: Itu sebenarnya di zaman Benny Moerdani, ada usaha di Mabes ABRI untuk supaya tentara itu punya peranan. Tidak semata-mata menjadi alatnya Soeharto. Tetapi Soeharto sudah terlalu kuat, sehingga Benny pun berhasil dilumpuhkan oleh pak Harto dan disuruh timbang trima sebelum masanya berakhir sebagai panglima ABRI.

RNW: Walaupun demikian ternyata TNI masih memberi gelar Jenderal Besar juga kepada Soeharto. Ini kan bukan rekayasa to, Pak?

SS: Saya tidak tahu apakah itu rekayasa apa tidak. Tapi itu menurut saya tidak terlalu relevan, itu menjadi simbul saja, tidak mengubah kenyataan bahwa Soeharto menguasai tentara. Kalau anda ada di Jakarta tahun-tahun itu, saya maksudkan sejak tahun 1974 sampai jatuhnya Soeharto, kontrol Soeharto itu nyaris sempurna. Sehingga misalnya, ada posisi-posisi penting di sekitar kota Jakarta itu tidak bisa diangkat oleh Mabes ABRI, tanpa persetujuan Soeharto. Bahkan Soeharto yang mengambil inisiatif.

Misalnya kedudukan Komandan Kopassus, kedudukan Panglima Kodam Jaya, kedudukan Pangkostrad, kedudukan Panglima Siliwangi, kedudukan Panglima Sriwijaya,karena daerah-derah itu dianggap bumper oleh Jakarta, itu harus dengan persetujuan Soeharto. Atau kadang-kadang Soeharto yang menentukan. Termasuk Komando Resort Bogor, itu harus dengan persetujuan Pak Harto, atau calon dari Pak Harto.

Hukuman Try Sutrisno

RNW: Tetapi ketika Try Sutrisno tampil sebagai Wakil Presiden itu kan faitakomplinya Harsudiyono Hartas.

SS: Ya, ada faktor itu. Tapi itulah sebabnya mengapa Pak Try Sutrisno itu tidak pernah mendapat kepercayaan dari Pak Harto. Anda masih ingat, Pak Harto pernah sakit tahun berapa itu, ada pertemuan tingkat tinggi ASEAN di Kuala Lumpur. Pak Harto tidak mempercayai pak Try untuk ke sana. Pak Harto malah menunjuk Ali Alatas sebagai Menlu untuk mewakili Presiden.

Di Jakarta waktu itu orang melihat, adalah hukuman pak Harto kepada Try Sutrisno, yang dianggap lebih dekat ke Benny Moerdani, Mabes ABRI waktu itu, dari pada kepada pak Harto sendiri. Padahal sebenarnya karirnya Try Sutrisno itu menonjol, karena pak Harto memproyeksikan dia, dan karena dia pernah jadi ajudan pak Harto.

RNW: Lalu bagaimana bisa dijelaskan tampilnya Habibie.

SS: Begini. Habibie itu pada mulanya harus dilihat sebagai satu dari beberapa anak Pak Harto. Anak Pak Harto itu kan macam-macam kesenangannya. Ada yang senang jalan tol, ada yang seneng pabrik mobil, ada yang seneng televisi. Ada macam-macam. Salah satu anaknya Pak Harto itu adalah Habibie yang seneng kapal terbang.

Kebetulan, Pak Harto pada tingkat itu sudah merasa, sudah sampai tingkat berfikir monumental, ingin meninggalkan sesuatu yang monumental di Indonesia. Dalam rangka itulah beliau melihat Habibie sebagai pelaksana dari impian monumental itu. Ya bentuknya pabrik kapal terbang itu. Begitulah kita harus melihat Habibie.

Nah, Habibie kemudian ditunjuk oleh Pak Harto sebagai wakil presiden. Tetapi ini tidak mengubah pandangan Soeharto bahwa dia itu tidak lebih daripada filler, mengisi sebuah tempat yang harus diisi secara konstitusional, yakni kedudukan wakil presiden, bukan dipersiapkan menggantikan Soeharto.

Nah, siapa yang dipersiapkan menggantikan Soeharto? Menurut pengamatan politik saya waktu itu adalah mbak Tutut, putri tertua beliau yang perlahan-lahan dijadikan ketua Golkar, dijadikan menteri sosial, nanti di Munas Golkar akan jadi ketua umum Golkar, dan kemudian jadi calon presiden dengan alasan, beliau ketua partai terbesar.

Nah rencana ini gagal karena terjadi demo-demo, krisis moneter, dan Pak Harto turun. Tentu anda akan tanya, kenapa Habibie kemudian tidak akur dengan Pak Harto setelah Pak Harto turun. Sampai datang mengunjungi Pak Harto yang sakit pun, Habibie tidak bisa dekat kepada Pak Harto, dan tidak ditemui oleh keluarga Pak Harto. Jawabannya jelas: Pak Harto kecewa kepada Habibie, karena Pak Harto ingin, ketika beliau mundur sebagai presiden, Habibie juga mundur. Habibie berpikir lain. Berpikir konstitusional.

Nah, beliau menurut pasal 8 UUD itu menggantikan presiden yang mundur. Ini yang tidak disenangi oleh Pak Harto. Ini yang tidak disenangi oleh keluarga Pak Harto. Dalam rangka itu, mereka melihat Habibie, yang dianggap anak oleh Soeharto, itu telah mengkhianati Soeharto. Begitulah kira-kira.

Korban Soeharto

RNW: Kembali ke masalah tentara tadi Pak Salim Said. Jadi anda mengatakan bahwa tentara merupakan korban Soeharto, ketika di berkuasa? Dan gelar Jenderal Besar itu tidak ada artinya. Tapi toh sekarang dalam pemakaman itu, tentara berperan besar, karena mereka merasa bahwa ini adalah Jenderal Besar, Jenderal TNI. Bagaimana ini?

SS: Ya mereka berperan besar itu secara protokoler. Artinya ada tidak adanya Jenderal Besar itu, Soeharto kan mantan presiden, seorang pejuang dari tahun 1945, pernah menjadi Panglima Kostrad, pernah jadi KSAD, pernah menjadi Pangab, ya normal-normal saja. Juga pemakaman Pak Nas kan juga begitu dulu. Jadi artinya tidak ada yang istimewa di sini.

RNW:Tapi menurut Pak Salim Said bagaimana? Sampai pada saat-saat terakhir pun peran Soeharto masih besar kayaknya di Indonesia.

SS: Saya kira tidak besar. Dalam pengertian berpengaruh, tapi artinya adanya beliau di situ, membuat banyak orang sungkan, membuat banyak orang tidak berani untuk berbicara yang dianggap merugikan beliau.

Karena beliau ini, banyak orang yang berhutang budi pada beliau. Jangan lupa, ketua DPR kita itu, Pak Agung Laksono yang terakhir ini banyak bicara minta supaya Soeharto dimaafkan, adalah masih menterinya Pak Harto dulu. Dan banyak sekali elit-elit Orde Baru itu, termasuk Akbar Tandjung, itu sekarang menjadi orang berpengaruh. Jadi kita harus melihat ini faktor psikologis.

Zaman Baru

RNW: Tapi toh tidak mendapat sambutan, imbauan-imbauan mereka?

SS: Ya karena di dalam masyarakat sudah tunggu kekuatan dan sikap kritis terhadap Soeharto. Ini satu tanda yang baik bahwa demokrasi mulai berjalan di Indonesia. Orang boleh membela Soeharto. Tetapi juga boleh menyerang Soeharto, menuntut Soeharto untuk diadili. Ini artinya masyarakat Indonesia mulai sehat.

RNW: Di situlah posisi yang saya kira cukup peka dan licin yang dihadapi oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Bagaimana Pak Salim Said menganalisa posisi dan sikap SBY dalam hal ini?

SS: Ya, itulah, Bapak SBY kita ini, seorang yang sangat santun, seorang yang sangat peka terhadap perasaan orang di sekelilingnya, beroperasi, bekerja dalam suasana masyarakat seperti ini. Bahwa dengan masih hidupnya Pak Harto sampai hari Minggu lalu, kita belum seluruhnya selesai melakukan transisi dari Orde Baru ke Orde Reformasi. Oleh sebab itu saya ingin mengatakan yang sangat penting hari ini, sejak meninggalnya Pak Harto, kita sebenarnya memasuki sebuah zaman baru.

Mudah-mudahan zaman ini menyadarkan orang bahwa sesuatu yang baru telah lahir di Indonesia. Kita betul-betul sudah putus hubungan kita dengan masa lalu. Baik masa Orde Baru, maupun masa sebelumnya. Karena orang penting terakhir Indonesia, yang sebenarnya Angkatan 45, dan juga berkuasa selama sekian puluh tahun di Indonesia adalah Pak Harto.

Sekarang pemimpin kita adalah anak-anak muda, dalam pengertian lahir jauh setelah proklamasi kemerdekaan. Jadi Indonesia betul-betul sekarang tidak lagi dibayang-bayangi oleh angkatan founding fathers, tapi betul-betul kita telah memilih sendiri anak-anak yang lahir jauh setelah itu, dan mereka mendapat kekuasaan karena dipilih rakyat, bukan karena mereka orang penting yang karismatik yang berjasa di jaman revolusi.


Kata Kunci: militer, republik ceko, salim said, soeharto, zaman baru

http://www.ranesi.nl

Sphere: Related Content

No comments: