10.1.08

NERAKA REZIM SUHARTO (UNTOLD STORY)

 
----- Original Message -----
From: Umar Said
Sent: Thursday, January 10, 2008 9:28 PM
Subject: [kkn-watch] NERAKA REZIM SUHARTO (UNTOLD STORY)

 

Berhubung dengan banyaknya berita tentang perlunya ada ma'af bagi segala kesalahan atau dosa-dosa Suharto, atau tuntutan supaya proses hukum terhadapnya dibekukan atau di-deponir, atau segala macam gugatan terhadapnya dibatalkan atau dihentikan mengingat jasa-jasanya kepada bangsa dan negara, maka untuk bisa mengkaji persoalan Suharto ini dengan agak menyeluruh perlu disajikan juga segi-segi negatifnya. Selama ini terlalu banyak berita atau pendapat yang hanya memuja dan memuji Suharto yang dikeluarkan oleh para pembesar atau "tokoh" masyarakat, sedangkan  segi-segi negatifnya kurang dikemukakan dalam media massa.

Karena itu, supaya umum mendapat gambaran yang lebih jelas tentang Suharto dengan berbagai masalahnya, termasuk kesalahan dan dosa-dosanya selama memimpin Orde Baru dan Golkar,  website   http://kontak.club.fr/index.htm  menyediakan rubrik-rubrik khusus yang berkaitan dengan berbagai kesalahan Suharto ini.

Dengan tujuan ini, berikut di bawah ini disajikan tulisan Harsutedjo  yang berjudul Neraka Rezim Suharto, sekadar untuk mengingatkan kembali tentang pelanggaran perikemanusiaan secara besar-besaran yang terjadi di zaman Orde Baru dan Golkar yang dipimpin oleh Suharto.

Berita atau tulisan-tulisan lainnya tentang persoalan Suharto dapat disimak dalam kumpulan berita "Tentang Suharto sakit keras dan berbagai masalahnya"

A. Umar Said

***

                        NERAKA REZIM SUHARTO (UNTOLD STORY)

                                                                            Oleh: Harsutejo

Judul di atas bukanlan bikinan saya, tetapi judul sebuah buku tipis (156 + xi halaman) yang kemudian diikuti sub-judul "Misteri Tempat Penyiksaan Orde Baru" susunan Margiyono dan Kurniawan Tri Yunanto, Spasi & VHRBook, Jakarta, 2007.

Bagi yang mengenal kekejaman rezim Orba, apalagi bagi mereka yang pernah menjadi tapol Orba, dari sebagian daftar isinya dapat membayangkan apa kira-kira kisah di dalamnya: Bab I Rumah Setan di Gunung Sahari; Bab II Rumah Hantu di Menteng Atas; Bab III Kekejaman di Kremlin [Kramat Lima]; Bab IV Jeritan di Rumah Meester Cornelis; Bab V Horor di Gang Buntu; dst. Kedua penulis muda ini tidak sedang bercerita tentang kisah horor yang banyak muncul di televisi belakangan ini, tapi tentang kekejaman yang dialami para tapol, para terculik yang dilakukan rezim militer Orba Suharto sejak 1965 sampai 1998, bagian dari sejarah kelam horor.

Rumah Setan di Gunung Sahari terletak di Gunungsahari III, sebuah rumah besar milik seorang Tionghoa yang dirampas dan dijadikan markas Operasi Kalong setelah tragedi 1 Oktober 1965. Operasi di bawah Mayor Suroso ini pula yang berhasil menangkap orang keempat PKI Sudisman karena pengkhianatan kawan dekat dan pembantunya. Algojo yang bernama Letnan Bob tersohor kekejamannya, setiap tapol di Jakarta gemetar jika dibon olehnya ke markas Kalong. Alat penyiksa standar berupa pentungan kayu dan karet, buntut ikan pari yang dipasangi paku kecil, kabel dengan lempeng-lempeng yang dialiri listrik. Setiap tapol baru dikejutkan dan dihancurkan mentalnya dengan siksaan alat-alat tersebut, apapun yang diakuinya. Sengatan listrik merupakan ujung kekuatan seorang pesakitan berakhir. Setiap tapol perempuan diperiksa dengan telanjang bulat, demikian juga dengan interogatornya.

Di Kalong tersohor pula legenda seorang aktivis Gerwani bernama Sri Ambar yang tetap bungkam meski telah disiksa dengan gebukan, setruman, kemudian digantung telanjang bulat di pohon mangga. Bokongnya kemudian ditusuk bayonet oleh seorang tentara penyiksa. Siksaan berlanjut dengan didatangkannya ibu dan dua orang anaknya yang masih kecil (ketiganya juga ditahan) untuk menyaksikannya.

Seorang pemuda tapol yang kuat badannya berumur sekitar 30 tahun disiksa habis-habisan dengan gebukan dan sengatan listrik di markas Zinpur 8. Ia juga digantung selama seminggu di Lenteng Agung, banyak bagian badannya mengucurkan darah karena diiris silet. Luka itu kemudian disiram bensin. Ia pun menjadi sasaran latihan lemparan pisau komando. Pada suatu malam badannya ditembus tiga peluru, karena keterangannya masih diperlukan, ia dibawa ke RSPAD Gatot Subroto dan mendapatkan transfusi darah sebanyak 10 liter. Dalam keadaan masih sakit, ia berkali-kali diinterogasi, bahkan dengan disetrum. Ia kemudian dilemparkan ke sel Kodim 0505 Jatinegara, salah satu tempat penyiksaan tapol. Dalam sel 5x6 meter itu ia berjubel bersama 200 tapol lainnya

 

Di bagian akhir terdapat kesaksian sejumlah aktivis muda dan mahasiswa, di antaranya dari PRD. Seperti kita ketahui sejumlah aktivis diculik rezim Suharto pada pertengahan pertama 1998 sebelum diktator militer itu jatuh. Sejumlah aktivis setelah diculik, semula berada di instansi militer resmi seperti Kodim Jakarta Timur, disiksa dan diinterogasi di instansi militer [rahasia] dalam keadaan mata terus ditutup. Tiba-tiba mereka sudah dibawa ke Polda Metro Jaya. Sejumlah aktivis kemudia n dibebaskan dalam bulan Juni 1998 setelah tumbangnya sang diktator.

Seperti kita ketahui masih ada 13 orang aktivis yang diculik oleh instansi yang sama di masa itu tidak pernah kembali, di antaranya aktivis buruh sekaligus penyair, Wiji Thukul dengan seruannya yang tersohor: HANYA ADA SATU KATA: LAWAN! Ketika itu seorang petinggi militer, Jenderal Syarwan Hamid yang amat ditakuti karena jabatannya, menyatakan bahwa Wiji Thukul telah menantang pemerintah. Rupanya rezim militer yang perkasa itu takut juga dengan seorang penyair miskin kerempeng.

Instansi militer penculik [rahasia] yang terang identitasnya di mata beberapa Kodim dan Polda Metro Jaya sampai saat ini belum diusut. Di mana 13 pemuda bibit bangsa itu telah dibunuh dan dikubur? Adakah HAM hanya untuk kaum koruptor dan tersangka koruptor serta Jenderal Besar (Purn) Suharto, dan tidak untuk para [bekas] tapol dan aktivis yang melawan kediktatoran rezim militer Orba?

Bekasi, 9 Januari 2008

* * *

Catatan : Untuk memperkaya kumpulan bahan tentang pelanggaran HAM di zaman rezim Suharto ini juga disajikan dalam website http://kontak.club.fr/index.htm tulisan Alexander Tjaniago, mengenai pembantaian di Pesisir Selatan (Sumatera Barat).

 

Di samping itu, ada buku yang sangat menarik dan penting, yang ditulis oleh Y.S. Taher (sekarang bermukim di Australia) yang berjudul "Riau Berdarah" tentang pembunuhan besar-besaran dan penahanan sewenang-wenang terhadap banyak oirang di Riau.

Bahan-bahan semacam ini sangat berguna bagi semua orang yang ingin menilai secara objektif, tepat, dan adil, siapa dan bagaimana sebenarnya  Suharto dengan rezim Orde Barunya dan Golkar. Oleh karena itu, bahan-bahan yang dikumpulkan  oleh LPR-KROB, Pakorba, YPKP, LPKP dan berbagai organisasi yang bergerak di bidang HAM sangatlah  penting untuk di siarkan kembali pada saat ini.

 

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Ads on Yahoo!

Learn more now.

Reach customers

searching for you.

Moderator Central

Get answers to

your questions about

running Y! Groups.

Featured Y! Groups

and category pages.

There is something

for everyone.

.

__,_._,___


No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.0/1216 - Release Date: 09/01/2008 10:16

Sphere: Related Content

No comments: