13.1.08

Pak Harto, saya terkoyak!

Pak Harto

Saya terkoyak
dalam dua pihak yang menghujat dan menyayang Pak Harto. Pelan-pelan saya
beringsut ke pinggir, meyakinkan diri bahwa kehidupan sungguh hanya soal peran.
Dan peran sungguh hanya soal ketetapan Tuhan.

Terbayang wajah Bung Karno yang mati
sepi sendiri. Semua kejayaannya hanyut dalam gelora yang dikayuhnya sendiri.
Tapi toh dia manusia yang di bawah bayang-bayang takdir Tuhan. Seperti Saddam
yang tetap berteriak lantang menjelang kematiannya juga di bawah bayang-bayang
takdir Tuhan.

Waktu Pak Harto didorong dalam
keadaan terbaring di Rumah Sakit itu, saya jadi terhenyak sendiri, betapa pada
akhirnya manusia begitu tak berdaya. Dia boleh jago sepanjang hidupnya. Tapi
begitu maut itu sampai, ia tak lebih dari anak-anak atau balita.

Wajah Pak Harto begitu tak berdaya.
Lain benar saat ia berkuasa dan sering menggunakan kata-kata "saya gebuk" atau
semacamnya. Di rumah sakit itu, saat didorong-dorong oleh orang-orang banyak
itu, tiba-tiba bayang-bayang takdir Tuhan itu datang lagi. Tiba-tiba semua
kesalahan itu seolah pergi. Inilah sosok dari manusia yang akan meninggalkan
dunia. Seperti saya juga kelak akan meninggal dunia. Terbaring tanpa daya.

Lalu kita bisa apa? Benar di tiap
jengkal republik ini ada yang mati. Yang sama sedih dan pilunya seperti
kematian yang akan menjelang Pak Harto. Mungkin lebih. Dan harusnya kita semua
berdoa sama kuatnya seperti untuk Pak Harto. Juga bertindak sama kuatnya seperti
untuk Pak Harto. Tapi kita bisa apa? Gerak sejarah masih berupa anasir yang
bebal. Tolak-menolak tidak pernah jadi sapu lidi. Memaksakan hukum? Orangnya
tak berdaya. Memaksakan hukum pada keluarganya? Akan melingkar tanpa ada jalan
keluar. Melingkar lagi pada kita sendiri. Melingkar lagi pada orang-orang yang
akan datang nanti.

Ada ruang yang tak hendak saya
katakan. Tapi ruang yang paling masuk akal. Toh hidup berjalan terus. Toh
sebuah keadaan yang melingkar bukanlah sebuah jalan. Malah memacetkan. Menjadi
labirin. Seperti labirin yang kita tempuh saat ini. Maka kalau ruang itu terpaksa
juga saya ungkapkan, maafkan saya. Karena saya ingin damai di negeri sendiri.
Bukankah ini adalah negeri kita sendiri. Bukankah kita adalah bersaudara. Maka
sesama saudara, saya kira kita bisa saling mengedipkan mata.

Kedipan mata untuk saling memaafkan
jauh lebih mungkin menjadi jalan. Kata orang dari mata turun ke hati. Maka tak
perduli siapa menganiaya dan siapa yang teraniaya, kini saling memaafkan, dalam
sebuah jabat-tangan kemanusiaan yang bukan politis atau ekonomis. Tetapi
benar-benar jabat-tangan karena kita sebangsa dan terutama karena kita adalah
manusia, yang bisa salah di satu saat dan benar di saat yang lain. Dan lagi karena
pada akhirnya, entah kapan, toh kita semua akan menghilang. Karena itu alangkah
tak enaknya kalau menghilang dengan tetap membawa dendam. Jadi mari kita
berjabat tangan. Mari berpelukan.

Karena kita sesungguhnya berada dalam situasi maju kena mundur kena. Dimakan
ibu mati. Tidak dimakan bapak mati. Inilah simalakama itu: berkutat pada masa
lalu tak bisa tumbuh maju. Sedang tumbuh maju mestilah melupakan masa lalu.

Tapi melupakan kemana?
Tentulah ada formulanya. Yang bisa menyenangkan semua pihak. Biarlah yang "di tangan"
sebagian dilepas dari pada semuanya terbakar atau tetap menjadi soal. Karena akan
terus dikejar-kejar kalau tidak ada penyelesaian. Dari sini baru kita menata
semuanya kembali dan mulai bertindak tegas pada apa yang telah kita sepakati.

Sebab kejar-mengejar seperti itu
tidak akan membawa kita kemana-mana. Seperti yang ditunjukkan oleh novel
Fajdroel Rachman "Bulan Jingga di Atas Kepala", di mana Sang Jenderal terbunuh,
tapi yang membunuhnya pun tak mendapat bahagia.

(hudan hidayat)

Sphere: Related Content

No comments: