15.1.08

Pak Harto

Bangka Pos.

                        
                        edisi: Minggu, 13 Januari 2008 WIB

                         Setiap orang begitu takut pada kematian,
                        Tetapi sufi sejati hanya tertawa;
                        tak satu pun menguasai hati mereka.
                        Apa yang menghancurkan kulit tiram
                        tidak merusak sang mutiara
                        (Rumi dalam Matsnawi I:3495-6)

                        Setiap orang begitu takut pada kematian,
                        Tetapi sufi sejati hanya tertawa;
                        tak satu pun menguasai hati mereka.
                        Apa yang menghancurkan kulit tiram
                        tidak merusak sang mutiara
                        (Rumi dalam Matsnawi I:3495-6)


                        INDONESIA, Jumat (11/1) malam dikejutkan
oleh berita mantan Presiden Soeharto. Mata publik masyarakat
Indonesia tak berkedip menatap sequel-sequel rekaman peristiwa di
Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta Pusat, tempat Soeharto
terbaring sakit. Kerinduan terhadap Pak Harto sebagai pemimpin
bangsa ini seolah menyergap bangsa Indonesia.

                        Suasana mencengkam terus merambat pada Jumat
malam itu. Liputan media massa secara real time dan serentak itu
menularkan ketegangan seluruh bangsa yang secara kemanusiaan amat
tersentuh oleh momen-momen yang beraura `dekat dengan kematian' itu.

                        Napas Soeharto bahkan sempat terhenti.
Beberapa skenario bila Soeharto wafat malam itu pun telah
dikemukakan ke publik. Hampir bisa dipastikan, Astana Giribangun,
Karanganyar Solo, Jawa Tengah akan menjadi peristirahatan abadi
penguasa Orde Baru itu.

                        Kita teringat pula oleh kutipan, "Tuhan
memberimu kehidupan dan memberkatimu dengan sifat-sifatNya, pada
akhirnya engkau akan kembali kepadaNya." (Matsnawi III:4182)

                        Reformasi pasca Orde Baru memang mengubah
banyak sisi kehidupan, termasuk di dalamnya cara bersikap terhadap
pribadi yang berada di ujung kematian sekali pun. Solidaritas
Jaringan Keluarga Korban Pelanggaran HAM semasa Orde Baru misalnya
juga membesuk Soeharto di RSPP.

                        Mereka mendesak pemerintah melakukan proses
hukum terhadap Soeharto namun secara kemanusiaan mereka bersimpati
dan mendoakan agar Soeharto cepat sembuh. Rasa keadilan, kata Adnan
Buyung Nasution, terpenuhi tatkala Soeharto diadili secara in
absentia. "Dan itu bisa," kata Buyung Nasution.
                        ***


                        PERISTIWA dramatik Soeharto dalam
pembaringan karena sakit itu membawa hikmah tersendiri yang bermakna
bagi kita semua termasuk para penguasa republik ini. Selain
pengadilan abadi yang menjadi hak Tuhan, pengadilan di bumi pun
ternyata tak terkecuali.

                        Dalam Matsnawi V:174-6 dilukiskan demikian.
Dunia ini seperti sebuah pengadilan, dan Tuhan sebagai hakim kita.
Kita diminta memenuhi perjanjian dengan Tuhan, yang
bertanya, "Bukankah aku Tuhanmu?" Yang kepadaNya kita menjawab, "Ya."

                        Dan karena di muka bumi ini, kata Rumi, kita
sedang menghadapi pengadilan; setiap kata dan perbuatan membentuk
kesaksian dan bukti atas persetujuan itu.

                        Pak Harto sesudah lengser keprabon tentunya
memiliki demikian banyak waktu untuk membijaksanai setiap jejak
kepemimpinan yang ditapakkan dalam perjalanan bangsa ini dan
mengolahnya dalam pergulatan batinnya.

                        Dalam perspektif budaya Jawa, kepemimpinan
Soeharto diperoleh melalui proses turunnya wahyu, pulung atau ndaru.
Dalam pewayangan pulung kepemimpinan itu dengan sangat pas
dilukiskan dengan memperoleh wahyu cakraningrat. Untuk menggenggam
wahyu cakraningrat seorang pemimpin harus lulus dalam berbagai
cobaan.
                        Prabu Parikesit oleh para pemimpin Jawa
sering dijadikan pola kepemimpinan karena kepemimpinannya berwibawa
dan disegani baik kawan maupun lawan. Sedangkan masyarakat yang
diperintah mengakui eksistensi kepemimpinannya.

                        Keyakinan bahwa wahyu hanya melekat pada
satu orang dan tidak terbagi-bagi bisa membuat seorang pemimpin
tidak mempunyai kewajiban moral untuk mengadakan distribusi
wewenang. Kepemimpinan yang terbagi-bagi bisa diyakini mengganggu
harmoni alam.

                        Dalam perspektif yang lebih jauh,
kepemimpinan yang otoriter diperkenankan asal tetap pada landasan
ambeg adil paramarto, memayu hayuning bawana. Nilai kesetiaan yang
tinggi terhadap negara itu kadang membuat orang atau pemimpin harus
menentukan keputusan yang kontroversial.

                        Dalam lakon pewayangan Sumantri Ngenger,
Sumantri dihadapkan pada dua pilihan; mengabdi negara atau
mengorbankan adiknya. Sumantri memilih berpihak pada kepentingan
negara meskipun harus kehilangan adiknya. Urusan negara lebih
penting ketimbang urusan keluarga.

                        Pergulatan-pergulatan kepemimpinan dalam
perspektif kultur Jawa bagi Pak Harto sudah usai. Konsep Astabrata
pun telah dioptimalkan semasa ia memimpin bangsa ini. Dan ada jarak
bernama waktu sejak lengser keprabon bagi Soeharto untuk menentukan
sikap akhir bersama TuhanNya, Tuhan Semesta Alam, Sang Pemimpin
Agung.

                        Keluarga Cendana telah ikhlas. Kita semua
berharap di akhir kehidupan siapa pun; kulit tiram memang bisa
hancur, tetapi mutiara tiada rusak di hadapan Penciptanya. Semoga!

Sphere: Related Content

No comments: