6.1.08

Pandangan hidup Soeharto (1)

Bangka Pos.

"Pengertian mistik adalah ilmu kebatinan bukan klenik"

Pandangan Hidup Soeharto (1)
Klenik untuk Kekuatan Badan

edisi: Senin, 07 Januari 2008

MANTAN Presiden Soeharto kini masih
terbaring lemas di Rumah Sakit Pertamina Pusat (RSPP) Jakarta.
Usianya sudah cukup sepuh, 86 tahun. Berbagai macam penyakit hinggap
di tubuhnya, seperti apa yang kini juga dirasakan manusia lain
seusianya. Soeharto, merupakan sosok tokoh fenomenal, dari seorang
anak petani hingga menjadi presiden selama 32 tahun di negeri ini.
Apa dan bagaimana pandangan hidup Soeharto? Berikut ulasan wartawan
Bangka Pos Group Achmad Subechi yang dibedah dari berbagai sumber.

ADALAH Ny Sukirah. Tepat 8 Juni 1921,
seorang bocah keluar dari rahimnya. Tangis Soeharto kecil pecah,
manakala Mbah Kromodiryo -seorang dukun bayi- membantu persalinan Ny
Sukirah. Mbah Kromo masih terhitung kerabat dekat dengan Soeharto.
Pria itu adalah adik kandung kakeknya Soeharto.

Proses kelahiran Soeharto berjalan lancar.
Bocah itu lahir di rumah ibunya di Desa Kemusuk, sebuah dusun
terpencil di daerah Argomulyo, Godean -sebelah Barat Yogjakarta.

"Ayah saya adalah ulu-ulu, petugas desa
pengatur air yang bertani di atas tanah lungguh, tanah jabatan
selama beliau memiliki tugasnya. Beliau yang memberi nama Soeharto
kepada saya," kenangnya.

Soeharto adalah anak ketiga Kertosudiro.
Dari istri yang pertama Kertosudiro mempunyai dua anak. Sebagai
duda, Kertosudiro bertemu dengan Sukirah. "Tetapi hubungan orangtua
saya kurang serasi hingga akhirnya setelah saya dilahirkan, mereka
bercerai," tutur Soeharto.

Beberapa tahun kemudian Ny Sukirah menikah
lagi dengan Atmopawiro. Dari pernikahannya itu ia dikaruniai tujuh
orang anak. "Sementara ayah saya menikah lagi dan mendapatkan empat
anak," ujarnya.

Soeharto kecil belum genap berusia 40 hari.
Sukirah menggendong bayinya ke rumah Mbah Kromodiryo, dengan alasan
dirinya sedang sakit dan tak bisa memberikan air susu ibu. Di rumah
itulah Soeharto
ditimang-timang Mbah Amat Idris. "Mbah Kromo
yang mengajar saya berdiri dan berjalan dan seringkali beliau
membawa saya kemana-mana kalau beliau pergi bertugas keluar rumah.
Kalau Mbah Kromo putri menjalankan prakteknya sebagai dukun bayi dan
saya tidak dibawanya," kenang Soeharto.

Wajar saja kalau Desa Kemusuk, merupakan
desa yang tak bisa dilupakan Soeharto. Di tanah Kemusuk itu pula,
Soeharto masih teringat betapa nikmatnya diajak jalan-jalan oleh
Mbah Kromo ke sawah. Sesekali Soeharto berada di punggung Mbah Kromo
yang sedang menyangkul sawah. Kadang-kadang Soeharto duduk di atas
garu dan memberi isyarat kepada kerbau untuk maju, membelok ke kanan
dan ke kiri.

"Lalu turun ke sawah bermain air bermandikan
lumpur. Maka kalau terasa capek atau kepanasan, saya disuruhnya
menunggu di pinggir, di pematang atau di jalan. Pada kesempatan ikut
dengan Mbah Kromo, saya suka mencari belut yang jadi kesukaan saya
waktu makan," kenangnya. Saat Soeharto kecil berusia empat tahun, ia
diambil kembali oleh ibu kandungnya dan diajak menetap di rumah
Atmoprawiro, ayah tirinya.


***


KEPRIHATINAN hidup yang dialami Soeharto di
masa kanak-kanak, termasuk masalah pendidikan keluarganya --
menjunjung tinggi warisan nenak moyang, pendidikan kebangsaan
sewaktu di sekolah lanjutan rendah, pendidikan agama sewaktu mengaji-
- telah mempengaruhi watak Soeharto.
Selain itu, Soeharto mengaku diajari latihan
spiritual oleh ayah angkatnya. Misalnya, puasa Senin dan Kamis.
"Tidur di tritisan (di bawah ujung atap di
luar rumah). Semua anjurannya saya kerjakan dengan tekun dan penuh
keyakinan. Ada anjuran yang belum saya kerjakan, yaitu tidur di
pawuhan, di tempat bekas bakaran sampah," kenang Soeharto dalam
otobiografinya.

Pada masa itu, Soeharto mengaku ditempa
untuk mengenal dan menyerap budi pekerti dan filsafat hidup. "Pada
masa itulah saya mengenal ajaran tiga `aja'. `Aja kagetan, aja
gumunan, aja dumeh (jagan kagetan, jangan heran, jangan mentang-
mentang) yang kelak jadi pegangan hidup saya dan jadi penegak diri
saya dalam menghadapi soal-soal yang bisa menguncangkan diri saya.
Saya ingat terus ajaran leluhur, hormat kalawan gusti, guru, ratu
dan wong tuwo karo (hormat kepada Tuhan Yang Maha Esa, guru
pemerintah dan kedua orangtua)," paparnya.
Suatu hari Soeharto pernah menjelaskan soal mistik. Katanya,
pengertian mistik adalah ilmu kebatinan, bukan klenik. Tujuan ilmu
kebatinan ialah mendekatkan batin dengan pencipta - Tuhan Yang Maha
Kuasa.

"Sesuai dengan peninggalan nenek moyang
kita, ilmu kebathinan itu adalah untuk mendekatkan batin kita kepada-
Nya. Itu antara lain berdasarkan ilmu kasunyatan, ilmu sangkan
paraning dumadi dan ilmu kasampurnaning hurip (kesempurnaan hidup).
Itulah kebatinan yang sebenarnya," kata Soeharto, suatu hari seperti
dalam otobiografinya.

Bahkan, Soeharto menilai masyarakat kadang
salah kaprah karena mengira ilmu kebatinan itu adalah ilmu
klenik. "Ajaran agama juga sebetulnya sama saja. Agama itu
mengajarkan supaya kita dekat kepada Tuhan. Percaya kepada Tuhan,
takwa berarti tunduk, patuh kepada perintah Tuhan dan menjauhi
larangan-larangan-Nya," tambah Soeharto.

Soeharto mengakui bahwa Tuhan itu ada
sekalipun tidak berwujud. "Jadi ini soal keyakinan. Tidak hanya
orang beragama saja yang percaya, berdasarkan iman bahwa Tuhan itu
ada. Orang yang mengolah kebatinan pun menyadari kehidupan itu
demikian halnya, percaya bahwa Tuhan itu ada," jelas Soeharto.

Soeharto mengingatkan, kalau ingin
memperdalam kebatinan, ingin mendekatkan diri kepada Tuhan, manusia
harus bisa mengendalikan dua sifat yang bertentangan pada manusia.

"Ilmu klenik adalah ilmu kanuragan, ilmu
untuk mencari kesempurnaan hidup, tetapi batinnya bukan didekatkan
kepada Tuhan, melainkan hanya untuk kandel tipising kulit. Fisik
saja. Jadi kebal senjata," paparnya, sambil menambahkan untuk
mempunyai kekuatan semacam itu bisa diperoleh melalui ilmu
klenik. "Ini juga ilmu. Tetapi hanya untuk kekuatan badan, bukan
untuk kekuatan batin."

Sphere: Related Content

No comments: