15.1.08

Para Kroni Bersuka-ria Kalau Kasus Soeharto Dibekukan

http://www.berpolitik.com/news.pl?n_id=9683&c_id=3&param=Q9jDniokuZMxIMdr5jyM

(berpolitik.com): Gencarnya berbagai pihak mendesak agar ada kata maaf buat Soeharto, termasuk membekukan semua perkara hukumnya, tak ayal menerbitkan tanya. Apalagi, desakan itu begitu menggebu, serupa koor setuju yang biasa dilafalkan anggota MPR semasa Soeharto berkuasa. Dari mulai dalih hukum, politik hingga agama dipergunakan untuk membenarkan.

Mulanya, hanya motif ekonomi yang diduga sebagai dasarnya. Ya, mereka ditengarai hendak mencari muka dihadapan keluarga besar Cendana. Harapannya,putra-putri Soeharto mau mengguyurkan pundi-pundinya kepada mereka. Apalagi, pemilu sudah dekat.

Tapi, belakangan, ada yang menduga motifnya tak sekadar fulus. "Coba perhatikan. Sebagian besar yang bilang Soeharto harus dimaafkan itu adalah orang-oraang yang juga punya andil dalam kebangkrutan politik, sosial dan ekonomi di negeri ini. Sepertinya mereka berharap, kalau kasus Soeharto dibekukan, pun dengan mereka," seru ekonom Faisal Basri kepada berpolitik.com Senin sore (14/1).

Yang dimaksud Faisal tak lain para kroni Soeharto. Selain anak-anaknya, ada banyak politikus dan pengusaha yang menghamba pada diri penguasa orde baru selama 32 tahun lebih ini. Tingkah polah Soeharto selama berkuasa tentu saja tak dinikmati oleh dirinya sendiri. Para kroninya tak sekejap meluangkan kesempatan. Bahkan, yang tak mungkin bisa dijadikan mungkin.

Para Kroni

Selain putra-putri dan kerabatnya (Sudwikatmono, Probosutedjo), dari kalangan pengusaha, nama Liem Sioe Liong alias Sudono Salim ada dalam urutan teratas sebagai kroninya. Kerjasamanya bersama Soehartolah yang membuatnya menjadi salah satu pengusaha terkaya di Asia. Yang paling sering disebut, Liem berjaya berkat konsesi penggilingan gandum yang diberikan Soeharto kepada dirinya. Konsesi itu membuat dirinya bisa membeli murah gandum yang diimpor Bulog (dibawah harga pembelian alias diberi subsidi) dan kemudian menjualnya lagi ke Bulog dengan harga pasar dan sekaligus memakainya sendiri untuk membangun kerajaan makanannya.

Yang juga selalu disebut bagaimana kebijakan Soeharto begitu ramah terhadap bisnis Om Liem adalah momen ketika Indocemen Tungal Perkasa Oleng. Pemerintah tak sungkan memompakan duit untuk membantunya! Lantas bagaimana kabar Liem saat ini? Saat Soeharto menuai badai kecaman, Liem sudah tertirah dengan tenang di Singapura. Berseberangan dengan nasib Liem, kroni terdekat lainnya, Bob Hasan, justru sudah pernah meringkuk di Nusakambangan.

Dari kalangan politisi, namanya cukup berderet. Pada generasi awal, ada nama Ali Murtopo yang berjasa membersihkan setiap kekuatan demokratik yang mempersoalkan lagam kekuasaan Soeharto. Lantas, setelah itu, ada Sudomo selaku Kopkamptib yang punya peran serupa dengan Ali Murtopo, meski kekuasaannya tak lagi sebesar Ali Murtopo. Tak boleh dilupakan Harmoko yang selalu mendahului kalimatnya dengan ungkapan, "Menurut petunjuk Bapak Presiden..." . Harmoko patut disebut sebagai arsitek breidel gaya baru yang melindas semua media massa yang berkisah miring mengenai Soeharto dan keluarganya.

Ini belum menyangkut nama-nama seperti Benny Moerdani, Moerdiono, Sudharmono hingga yang masih mentas: Wiranto, SBY hingga Ginandjar Kartasasmita. Dari Ginandjar, beranak-pinak sejumlah pengusaha pribumi yang besar berkat kontrak-kontrak di dunia pertambangan yang diberikan olehnya. Salah satunya yang kini berkibar adalah Aburizal Bakrie (Menko Kesra).

Secara institusional, tak pelak ada Golkar. Meski sudah melantunkan maaf, Golkar secara konsisten tak pernah secara terbuka mengecam Soeharto, apalagi meminta bekas bos besarnya ini diadili. Meski begitu, Golkar secara konsisten selalu menyebut bahwa di masa lalu mereka hanyalah alat dari penguasa. Dengan kata lain, Golkar membuang salah kepada Soeharto. Padahal, banyak dari mereka yang turut menikamati buah kekuasaan itu, termasuk melakukan manuver-manuver pribadi untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya sendiri.

Ini baru nama-nama yang masih tampil di ruang publik. Masih berderet nama-nama pengusaha, politisi, birokrat yang turut andil dalam kebringasan dan kerakusan rejim orde baru. Merekalah semua yang bakal belega hati kalau kasus Suharto ditutup. Jika kasus ditutup mereka berharap begitu pula adanya dengan kasus mereka, baik yang sedang diusut atau belum sempat diusut. Dari mulai kejahatan ekonomi hingga kejahatan terhadap kemanusiaan.

Sekurang-kurangnya, kalau kepepet, mereka bisa buang badan dengan bilang: semua atas petunjuk dan perintah Soeharto. Pada saat itu, Soeharto besar kemungkinan sudah di liang kubur, hingga tak mungkinlah jaksa atau aparat KPK menyambanginya.

Tapi, apakah dengan begitu, mesti surut menyeret para kroni Soeharto?

Sphere: Related Content

No comments: