15.1.08

Pengamat Asing: Menyesatkan, Sebutan Soeharto "Mantan Diktator"

15/01/08 12:21


Brisbane (ANTARA News) - Indonesianis kondang Universitas Nasional
Australia (ANU), Greg Fealy, berpendapat pemberian gelar "mantan
diktator" kepada Presiden RI kedua, Soeharto, dalam pemberitaan
banyak media massa Barat merupakan tindakan yang menyesatkan publik
pemirsa dan pembaca.

"Saya kira menyesatkan pemberian atribusi (gelar, red) seperti itu
kepada Soeharto karena Soeharto tidak memegang kekuasaan negara
sendirian. Dia selalu menyeimbangkan kekuatan lain dalam masyarakat
dan militer. Dia tidak bisa memaksakan kemauan dia di atas sistim
politik dan negara," katanya.

Kepada ANTARA News yang menghubunginya dari Brisbane, Selasa pagi,
dosen dan peneliti senior pada Sekolah Riset Studi-Studi Pasifik dan
Asia (RSPAS) ANU itu mengatakan, pemberian gelar atau
sebutan "mantan diktator" kepada Soeharto tidak mencerminkan kondisi
yang ada dalam sistem kenegaraan Indonesia selama 32 tahun ia
berkuasa.

Karena itu, Indonesianis yang merampungkan pendidikan doktoralnya di
Universitas Monash dengan disertasi tentang studi partai Islam
tradisionalis Nahdlatul Ulama (NU) itu menilai pemberian atribusi
mantan diktator kepada Soeharto menyesatkan karena dia "belum pada
tingkat diktator" seperti halnya mantan pemimpin Uganda, Idi Amien,
Pol Pot (Kamboja) atau pun Stalin (Rusia).

"Soeharto belum pada tingkat diktator seperti kalau kita
membandingkan dirinya dengan Idi Amien, Pol Pot atau pun
Stalin ...," kata editor buku "Voices of Islam in Southeast Asia: A
Contemporary Sourcebook" bersama Virginia Hooker (2006) itu.

Sejak penguasa Orde Baru itu kembali dirawat di Rumah Sakit Pusat
Pertamina (RSPP) Jakarta 4 Januari lalu, media massa Barat, termasuk
Australia, menjadikannya obyek pemberitaan mereka.

Di antara media massa Australia yang memberikan perhatian besar
terhadap mantan presiden RI yang disebut Robert Edward Elson,
penulis buku " Soeharto, Political Biography (Oktober 2001)",
sebagai "tokoh yang sangat penting selama abad ke-20 di Asia" itu
adalah Surat kabar "The Australian", Stasiun TV "Channel Seven" dan
ABC.

Ketiga media arus utama Australia tersebut terus mengikuti
perkembangan kondisi kesehatan Soeharto dan implikasinya terhadap
penyelesaian kasus dugaan korupsi yang dituduhkan kepadanya oleh
pemerintah RI.

Hanya saja, selain melekatkan istilah netral untuk menyebut Soeharto
sebagai "mantan presiden RI" maupun "jenderal bintang lima",
ketiganya juga memberikan atribusi "mantan diktator" kepadanya.

Dalam berita "The Australian" edisi akhir pekan (12-13 Januari 2008)
bertajuk "Family Rush to Suharto`s Bed" halaman 13 misalnya, surat
kabar milik konglomerat media global, Rupert Murdoch" itu sampai dua
kali menyebut Soeharto sebagai "mantan diktator Indonesia".

Soeharto kembali menghuni ruang "president suite" Nomor 536 di
lantai lima gedung RSPP pada 4 Januari 2008 sekitar pukul 14.15 WIB
setelah tim dokter menemukan adanya penurunan kadar hemoglobin darah
dan tekanan darah turun serta terjadinya penimbunan cairan (oedema).

Sejak lengser dari jabatan presiden pada 21 Mei 1998, pemimpin yang
lahir di Kemusuk, Argomulyo, Yogyakarta, 8 Juni 1921 ini telah
beberapa kali dirawat di rumah sakit karena beragam penyakit,
seperti pendarahan usus, jantung, dan paru-paru.

Dia pernah dirawat di RSPP pada 20 Juli 1999 karena stroke ringan.
Setelah itu, ia kembali masuk rumah sakit yang sama pada tahun 2000,
2001, 2002, 2004, 2005, 2006 dan 2008.(*)

http://www.antara.co.id/arc/2008/1/15/pengamat-asing-menyesatkan-sebutan-soeharto-mantan-diktator/

Sphere: Related Content

No comments: