14.1.08

Pengunjung Astana Giribangun meningkat

Karanganyar, Kompas - Jumlah pengunjung di Astana Giribangun, Kabupatan Karanganyar, Jawa Tengah, terus meningkat, Minggu (13/1). Mereka mendatangi kompleks pemakaman, tempat Ny Tien Soeharto disemayamkan, untuk mendoakan kesehatan Soeharto atau sekadar memenuhi rasa penasaran terhadap lokasi yang tengah menjadi sorotan publik ini.

Namun, pengunjung terpaksa kecewa karena sejak Sabtu siang pagar Astana Giribangun ditutup. Baru Minggu siang pagar dibuka dan pengunjung diperbolehkan masuk sebatas Cungkup Argotuwuh, yang merupakan bagian terluar dari kompleks makam.

Warga Kecamatan Pasar Kliwon, Solo, Diah (31), terpaksa hanya bisa berkeliling karena tak bisa memasuki makam Ny Tien Soeharto. Padahal, ia datang bersama suami dan anaknya karena prihatin dengan kondisi mantan Presiden Soeharto yang kritis.

Totok (40), warga Laweyan, Solo, juga datang bersama empat saudaranya yang berasal dari Semarang. Ia mengajak mengunjungi tempat yang berhubungan dengan Soeharto. "Saya mengajak mereka ke Kalitan (kediaman keluarga Soeharto). Sekarang giliran ke Astana Giribangun," ujarnya lagi.

Meski hanya bisa memasuki bagian terluar kompleks Astana Giribangun, ia tak kecewa karena tetap bisa mendoakan Soeharto. "Kalau memang sudah kehendak Tuhan dan Pak Harto dipanggil menghadap-Nya, saya bisa langsung berdoa di sini," katanya.

Selain Astana Giribangun, warga juga mendatangi Ndalem Kalitan. Meski kediaman keluarga Soeharto di Solo itu ditutup untuk umum, hal itu tidak menyurutkan minat masyarakat untuk mengunjunginya, Minggu.

Salah seorang pengunjung adalah Sudi, warga Malang, Jawa Timur. Ia datang bersama istrinya sambil mengunjungi anaknya yang bersekolah di Solo.

Yuyun, warga Sukoharjo, Jawa Tengah, juga datang untuk melihat-lihat Ndalem Kalitan bersama suami, anak, dan keponakannya. "Kami penasaran, bukan soal rumahnya, tetapi suasananya seperti apa. Karena kalau melihat di televisi, kasihan sekali Pak Harto. Semoga Pak Harto cepat sembuh. Dari saya kecil sampai jadi ibu, presidennya Beliau. Jadi, rasanya ada kedekatan," ungkap dia lagi.

Seorang jurnalis dari Belanda, Frank Vermeulen dari harian Niewe Rotterdame Courant Handelsblad, yang sebenarnya hendak menetap beberapa waktu di Jakarta untuk menulis serba-serbi tentang Indonesia, juga menyempatkan diri mengunjungi Ndalem Kalitan dan Astana Giribangun. "Sepuluh tahun lalu saya pernah bertugas di Indonesia. Waktu Soeharto lengser, saya bertugas di istana sehingga rasanya ada ikatan dengan masalah ini," jelasnya.

Menurut Vermeulen, kebanyakan warga Belanda masih mengenal Soeharto, tetapi tidak tahu banyak soal dugaan korupsi, kolusi, dan nepotisme yang melibatkannya. "Kalau sekarang dia sakit, orang memberi simpati untuk Indonesia karena mantan presidennya sedang sakit," katanya.

Sebaliknya, kediaman Soeharto di Jalan Cendana, Jakarta, tetap senyap. Namun, Minggu, situasi Jalan Cendana kembali diramaikan wartawan setelah tim dokter di Rumah Sakit Pusat Pertamina menyatakan presiden kedua Indonesia itu dalam kondisi sangat kritis. Sepanjang jalan itu polisi juga tampak berjaga-jaga.

Wakil Kepala Polrestro Jakarta Pusat Ajun Komisaris Besar Herri Wibowo mengatakan, satu kompi polisi diturunkan untuk mengamankan Jalan Cendana. Dalam kondisi Soeharto tidak kritis, penjagaan dilakukan polisi dari Polsektro Menteng.

Polisi dan sejumlah orang berpakaian batik juga berada di pos penjagaan di rumah Soeharto, di Jalan Cendana Nomor 6. Beberapa orang berseragam loreng hijau dengan tulisan FKPPI juga bergerombol di dekat rumah Soeharto. Di rumah itu tampak pula karangan bunga bertuliskan
"Semoga Lekas Sembuh" dari PII. Beberapa orang dari Gereja Mega Glori Ministri juga juga datang ke rumah itu.

Gubernur memantau

Selain di Ndalem Kalitan dan Astana Giribangun, kesibukan terkait kondisi kesehatan Soeharto juga terjadi di jajaran Pemerintah Provinsi Jateng. Gubernur Jateng Ali Mufiz meminta pemimpin daerah di wilayah Surakarta agar bersiap-siap jika terjadi sesuatu dengan Soeharto.

"Kami juga berkoordinasi dengan militer dan polisi untuk melakukan berbagai persiapan apabila terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan pada Pak Harto," ujar Ali Mufiz, Sabtu malam.

Menurut Ali Mufiz, persiapan itu dilakukan karena ada konfirmasi tidak hanya pejabat negara yang akan datang ke Solo, tetapi juga tamu negara asing, jika keadaan Soeharto kian memburuk. Pemprov Jateng juga terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat, menyiapkan segala kemungkinan.
(GAL/EKI/IDR/SON)

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0801/14/utama/4165219.htm


Sphere: Related Content

No comments: