28.1.08

Pertanggungjawaban YLBI

Kami menerima banyak tanggapan atas siaran pers yang kami luncurkan
pada Senin, 28 Januari 2008. Siaran pers kami berisi sikap politik
Yayasan LBH Indonesia (YLBHI) atas kematian mantan Presiden Soeharto.
Kami bersikap, pemberitaan terhadap peristiwa meninggalnya Soeharto
terlalu berlebihan. Kami juga berpendapat pemerintah gegabah dan tidak
berdasar ketika menetapkan tujuh hari berkabung dengan mengibarkan
bendera setengah tiang, serta rencana/wacana penyematan gelar pahlawan
kepada Soeharto. Alasannya, Soeharto tak pernah diadili atas
perbuatan masa lalunya. Sehingga tak ada alas hukum yang jelas untuk
menetapkan kepahlawanan Soeharto. Soeharto kami nilai bukanlah
pahlawan.

Reaksi beragam dari berbagai pihak muncul atas sikap politik kami. Ada
yang melalui email, pesan pendek (sms), maupun disampaikan langsung
kepada kami. Kami juga mencermati tanggapan yang muncul di situs-situs
berita.

Kami menganggap reaksi dan tanggapan tersebut, baik yang menunjukkan
kecaman maupun persetujuan, adalah hal yang wajar dan sehat. Dalam
sebuah negara yang demokratis, perbedaan pendapat adalah lumrah bahkan
sangat diharuskan. Tak boleh ada kebenaran tunggal.

Demi keadilan informasi dan untuk memberikan cakrawala pemahaman yang
lebih luas kepada publik, kami tampilkan sejumlah tanggapan tersebut.
Kami menganggap hal ini sangat penting, sebagai salah satu indikator
paling sederhana,

sejauh mana sikap rakyat Indonesia terhadap sosok Soeharto. Kami yakin
segala sesuatu yang terjadi hari-hari belakangan ini akan menjadi
titik pelajaran penting nan bersejarah bagi bangsa Indonesia.
Pelajaran, bahwa demokrasi dan hukum lebih mulia daripada represi dan
kekerasan penguasa.

Salam

Agustinus Edy Kristianto
Direktur Publikasi dan Pendidikan Publik YLBHI
Kontak: 085691614625


_______________________________

SIARAN PERS
NOMOR 003/SP/YLBHI/I/2008

SIKAP POLITIK YAYASAN LBH INDONESIA
Soeharto Bukan Pahlawan

Berita kematian Soeharto pada Minggu,27 Januari 2008 menghiasi media
massa nasional dan internasional. Beberapa media massa menampilkan
dengan sangat berlebihan. Berlebihan, dalam arti mengajak pemirsa
mengenang kembali 'jasa-jasa' penguasa Orde Baru selama 32 tahun itu.
Tayangan tersebut berusaha menyeret simpati publik terhadap sosok
Soeharto.

Sikap politik dan 'keberpihakan' terhadap Soeharto juga ditunjukkan
oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Melalui Menteri Sekretaris
Negara Hatta Radjasa, pemerintah meminta rakyat Indonesia mengibarkan
bendera merah-putih setengah tiang sebagai tanda berkabung selama
tujuh hari berturut-turut. Sikap politik pemerintah terhadap Soeharto
juga ditunjukkan dengan wacana berupa penyematan gelar pahlawan buat
Soeharto.

Yayasan LBH Indonesia (YLBHI) menilai sikap dan proses politik yang
mengiringi kematian Soeharto yang ditunjukkan oleh pemerintah begitu
gegabah dan berlebihan. Pasalnya, kita tahu, pada kematiannya di usia
86 tahun tersebut, Soeharto meninggal tanpa pernah diadili atas
perbuatan-perbuatannya.

YLBHI menilai peringatan tujuh hari berkabung atas kematian Soeharto
tidak patut dilakukan. Memang, sebagai sesama anak manusia dan anak
bangsa, tentu kita patut turut berduka cita kepada siapa pun yang
meninggal dunia, tidak terkecuali
Soeharto. Bahkan, boleh juga kita mendoakannya.

Kendati demikian, kita patut mengerti, bahwa, Soeharto berpulang dalam
kondisinya berlumuran darah atas perbuatan masa lalu di masa Orde
Baru. Kasus pembantaian orang-orang yang dituduh Partai Komunis
Indonesia (PKI) 1965, kasus penembakan misterius (Petrus), kasus
Tanjung Priok, kebijakan daerah operasi militer di Aceh dan Papua,
adalah contoh lumuran darah masa Soeharto.

Selain itu, perbuatan korupsi, kolusi, dan nepotisme, yang dilakukan
oleh Soeharto dan keluarga serta kroni-kroninya, juga telah merusak
mental bangsa Indonesia, selain memporak-porandakan bangunan ekonomi
dan sosial bangsa Indonesia.

Karena itulah, YLBHI bersikap, sangat tidak patut dan layak,
pemerintah memberikan predikat pahlawan kepada Soeharto.

Ketidaklayakan itu didasarkan pada alasan bahwa secara hukum, Soeharto
tidak bisa dikatakan bersalah maupun tidak bersalah, karena proses
hukum atas perbuatannya tidak selesai.

Keputusan pemerintah memberikan predikat pahlawan dan memberikan
penghormatan tujuh hari berkabung merupakan sikap yang gegabah dan
tidak berdasar, bertentangan dengan prinsip proporsionalitas dan alas
hukum yang rasional.

Jakarta, Senin, 28 Januari 2008
Yayasan LBH Indonesia
Badan Pengurus

Patra M. Zen
Ketua

Agustinus Edy Kristianto
Dir. Publikasi dan Pendidikan

_________________________________

Tanggapan atas sikap politik YLBHI

Saya sangat setuju dengan pernyataan sikap YLBHI. "Soeharto bukan
pahlawan." Reformasi di Indonesia mati suri. Saya concern masalah
Aceh, hingga kini belum ada pengadilan HAM, meskipun sudah damai.
Korban DOM menantikan keadilan, banyak yang kecewa, ada yang angkat
bedil lagi- Salam dari korban DOM dan tsunami Aceh di Swedia, Asnawi
Ali- Via sms.

KOMENTAR VIA KOMPAS.COM

frits sitompul @ Senin, 28 Januari 2008 | 23:28 WIB
anda terlalu cepat menghakimi... sudah jelas Suharto pernah diadili
dan ditetapkan sebagai tersangka (walau beliau tidak pernah hadir)...
dan sudah jelas sampai saat ini kasus hukum perdata beliau masih
berjalan. jd anda jgn prnh langsung menghakimi....kita tidak pernah
melupakan catatan kelam Suharto... tetapi supaya bangsa ini maju..
hendaknya tidak melihat hanya kepada "kejahatan" beliau... anda harus
jujur minilai bahwa banyak kebijakan beliau yang patut untuk kita
lanjutkan..

adrian @ Senin, 28 Januari 2008 | 23:04 WIB
coba bagaimana bila, bapakmu, ibumu, nenek dan kakekmu yang jadi
korban pembantaian 1965, tanjung priok, talangsari, DOM aceh, dll. Apa
kamu mau memaafkan orang yang bertanggung jawab telah membunuh,
memenjara tanpa pengadilan bapakmu, apa kamu mau memaafkan orang yang
bertanggung jawab telah memperkosa ibumu didepan matamu ? yang semua
itu telah menjadikanmu hidup dalam kesengsaraan, dan kamu berkata
dalam hati, "Sudahlah maafkan saja, toh dia orang baik". Bisa ?????

YANU @ Senin, 28 Januari 2008 | 17:56 WIB
Sudahlah jangan terlalu diungkit-ungkit masalah ini,pak harto sudah
tiada. Manusia tidak ada yang sempurna,orang boleh saja menilai baik
buruknya seseorang tetapi yang lebih berhak menilai itu cuma ALLAH
SWT.

andi soeharto @ Senin, 28 Januari 2008 | 17:54 WIB
Yes, I am agree with YLBHI

menot @ Senin, 28 Januari 2008 | 17:42 WIB
dasar YLBHI bodoh, pake otak kalo ngomong, kalo tak ada pak harto
kalian tak seperti itu

kehen @ Senin, 28 Januari 2008 | 17:29 WIB
pimpinan punya kekurangan dan kelebihan harus diinformasikan seimbang
supaya rakyat mendapat pelajaran baik dan tidak terulang dimasa
mendatang. menghormati adalah baik tetapi banyak orang memuji dan
memuja walaupun tidak mengetahui informasi jelas dan komplit apalagi
kalau sudah almarhum. mungkin lebih disederhanakan akan lebih hormat
mengingat banyak rakyat menderita dari kebijaksanaan dan melarat
sekarang. banyak pengunjung bukan berarti sudah mewakili semua daerah
dan dua ratus juta rakyat.

Yudhi Astono @ Senin, 28 Januari 2008 | 17:02 WIB
Mungkin lebih baik pro dan kontra dihentikan aja. Biarkan beliau
menghadap sang khalik dengan bekal segala amal perbuatannya serta doa
pengagumnya dan caci maki orang yang pernah didzoliminya. Biarkan
Tuhan yang menentukan akan ditempatkan dimana di alam baqa. Bagi kita
yang terpenting sekarang adalah bagaimana cara meminta kembali harta
warisan berupa uang negara yang
katanya dikorupsi dan disimpan di luar negeri yang menurut PBB
berjumlah sekitar 35 milyard dollar AS (semoga saja ini benar).

lugu @ Senin, 28 Januari 2008 | 16:44 WIB
apa tidak ada isu lain yang lebih menarik, yang bisa membantu kita menghadapi bakal krisis yang sudah di depan mata???

Andrian Panjaitan @ Senin, 28 Januari 2008 | 16:38 WIB
Bung Patra, lihatlah reaksi spontan rakyat pada saat almarhum menuju
Bandara Halim, kemudian lihatlah mereka yang berdiri disepanjang jalan
antara Adisumarmo sampai Astana Giri Bangun, kemudian bandingkan
dengan apa yang sudah YLBHI lakukan untuk rakyat, tidak ada bung!!!
Nol besar!!!! Kami tidak merasakan apa-apa setelah reformasi, dan
jangan bicara dimedia seolah-olah
anda mewakili rakyat.

arifin @ Senin, 28 Januari 2008 | 16:37 WIB
Sebagai Bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat menghargai para
pahlawannya, Dijaman Alm. Presiden Soeharto, boleh ditanya kepada
rakya kecil, petani, nelayan orang dikampung-kampung dll, begitu
tenang menjalani hidup tanpa ada kekacauan dan tdk merasa terbebebani
tapi coba tanya mereka sekarang........... sengsara, miskin dan
pengangguran

sam @ Senin, 28 Januari 2008 | 16:35 WIB
pak Harto jauh lebih berprestasi daripada anda pak Patra M.Zen, beliau
banyak salah karena banyak berbuat untuk bangsa dan negara, sementara
anda tidak berbuat apa-apa untuk bangsa, makanya ga punya salah

hardi @ Senin, 28 Januari 2008 | 16:32 WIB
Lebih baik memperlakukan pak Harto seperti ini, daripada seperti
memperlakukan Bung Karno saat sakit dan wafatnya. Perlakuan terhadap
BK menunjukkan etika bangsa yang rendah. Kalaupun pak Harto dianggap
"kejam" terhadap BK, itu juga tidak lepas dari sikap "pembiaran" atau
ketakutan yang berlebihan. Alhamdulillah, kita saat ini sudah lebih
beradab memperlakukan mantan
pemimpin.

Danu Afrianto @ Senin, 28 Januari 2008 | 16:30 WIB
Jangan campakkan cita2 reformasi yang lahir dari keinginan segenap
Rakyat Indonesia, perlu di ingat Rakyat Sudah bosan dengan ketidak
adilan di negeri ini, jangan memaksa rakyat mengambil tindakan untuk
merebut kembali tampuk kekuasaan saat ini...Rakyat Menuntut Adili
Soeharto dan Orde Baru...

Liana Garcia @ Senin, 28 Januari 2008 | 16:29 WIB
YLBHI = Tong Kosong Nyaring Bunyinya. Rasanya fungsi YLBHI sekarang
sudah makin komersil dan penuh dengan muatan2 orang egois yang tidak
berperikemanusiaan. Hanya bisa cari popularitas tanpa bisa berbuat
sesuatu yang terbaik untuk negara ini. Pak Harto dengan segala
kelemahan dan kekurangannya jelas banyak berbuat untuk negara ini.
Termasuk Anda juga wahai ketua YLBHI
yang menikmatinya. ! Tanpa kerja keras pak Harto, negara ini hanyalah
satu negara di Asia yang tidak ada arti. !!!!!!!
Belajar lah melihat realita dan bercermin atas kejujuran diri, jangan
hanya bisa menghujat dan mencela demi ambisi pribadi mencari
popularitas. Wahai pengurus2 YLBHI yang terhormat, apa nilai-nilai
moral dan etika sopan santun sudah hilang dari dalam diri Anda....?
Belum kering tanah kuburan pak Harto, kalian sudah serta merta
menghujat demi popularitas yang nggak
jelas !!!!!!!!!!!!!. Masih banyak pekerjaan dan masalah yang
terbelangkalai di negara ini....! ketimbang hanya bisa menghujat orang
lain saja.

zerozeroseven @ Senin, 28 Januari 2008 | 16:27 WIB
Seluruh media cetak maupun elektronik yg memberitakan Alm. HM.
Soeharto aja tidak berkeberatan dan merasa rugi karena mereka
mengangkat profil seorang tokoh dan pahlawan bangsa Indonesia. Kenapa
Bapak Patra M Zen yang repot? Sebenarnya siapa yang bpk wakili ketika berbicara demikian?Sebagai orang kecil, saya sangat bersimpati dan turut berdukacita bersama seluruh keluarga

dan bangsa Indonesia. Selamat jalan bapak Bangsa. Moga diterima disisi
yang Kuasa. Amin.

zerozeroseven @ Senin, 28 Januari 2008 | 16:27 WIB
Seluruh media cetak maupun elektronik yg memberitakan Alm. HM.
Soeharto aja tidak berkeberatan dan merasa rugi karena mereka

mengangkat profil seorang tokoh dan pahlawan bangsa Indonesia. Kenapa
Bapak Patra M Zen yang repot? Sebenarnya siapa yang bpk

wakili ketika berbicara demikian?Sebagai orang kecil, saya sagat
bersimpati dan turut berdukacita bersama seluruh keluarga

dan bangsa Indonesia. Selamat jalan bapak Bangsa. Moga diterima disisi
yang Kuasa. Amin.

rini @ Senin, 28 Januari 2008 | 16:27 WIB
qita jangan membohongi hati Nurani apa yang terjadi hari ini dimana
rakyat semua sedih itu adalah tulus artinya Pak Harto

menempati ruang tersendiri dihati rakyat Indonesia dan qta harus jujur
Beliau masih lebih baik.

rini @ Senin, 28 Januari 2008 | 16:27 WIB
qita jangan membohongi hati Nurani apa yang terjadi hari ini dimana
rakyat semua sedih itu adalah tulus artinya Pak Harto

menempati ruang tersendiri dihati rakyat Indonesia dan qta harus jujur
Beliau masih lebih baik.

AGUNG @ Senin, 28 Januari 2008 | 16:26 WIB
menurut pendapat saya, tidaklah berlebihan dalam pemberitaan tentang H
M Suharto ( Alh), sudah sewajrnya kita sebagai warga

negara yang baik yang merasakan atas kepemimipinanya tak diragukan.
Aman, bersatu tidak lapar dan harga stabil serta saling

menghormati. Kalau memang kita akui ada kesalahan yang dilakukan
karena suharto adalah manusia biasa yang tak luput dari dosa

dan salah, tapi jasanya sangat besar untuk bangsa dan negara INDONESIA.

AGUNG @ Senin, 28 Januari 2008 | 16:26 WIB
menurut pendapat saya, tidaklah berlebihan dalam pemberitaan tentang H
M Suharto ( Alh), sudah sewajrnya kita sebagai warga

negara yang baik yang merasakan atas kepemimipinanya tak diragukan.
Aman, bersatu tidak lapar dan harga stabil serta saling

menghormati. Kalau memang kita akui ada kesalahan yang dilakukan
karena suharto adalah manusia biasa yang tak luput dari dosa

dan salah, tapi jasanya sangat besar untuk bangsa dan negara INDONESIA.

Suro Tegel @ Senin, 28 Januari 2008 | 16:25 WIB
Emang bener2 kelewatan bung Patra ini.....!!!!!Komunis ya?????

dewi @ Senin, 28 Januari 2008 | 16:24 WIB
terlepas dari segala tuduhan dan kesalahan yang pernah bliau lakukan
semasa hidupnya, bliau itu tetap mantan presiden bangsa

indonesia,ya wajarlah kalau sampai meninggalnya pun mendapat perlakuan
istimewa...apalagi mengingat jasa2 bliau terhadap

perkembangan indonesia semasa bliau pimpin,kita patut berterima kasih
lah... coba lihat dulu waktu lady di wafat, sluruh

dunia ikut heboh,walaupun lady di sendiri bukan orang yg suci sepenuhnya...

edo @ Senin, 28 Januari 2008 | 16:24 WIB
emang uadah terlalu berlebihan pemberitaan yang ada di medaia massa
terutama di tv.namanya juga untuk komersil.sedangkan

gosip selebritis aja bisa jorjoran.apalagi berita tentang soeharto yg
jelas2 punya nilai jual.kalau masalah pemberitaan yang

bersifat subjektif,itu karena kroni-kroninya seoeharto masih
berkuasa,dan semakin berkuasa.reformasikan cuma namanya saja

reformasi.tapai tidak ada yang berubah.yang berubah hanya dari segi
tertib terkendali ala soeharto ke kacau balau tanpa

rambu-rambu

Ria anak bangsa @ Senin, 28 Januari 2008 | 16:21 WIB
Wajar lah Ketua YLBHI berbicara seperti itu, karena dia merasa sudah
suci dan merasa dirinya paling benar dan tidak dan

proyek di jaman Pak Harto sedikit untuknya jadi susah korupsinya trus
demdam...Belajarlah menghargai Jasa Pahlawan (selamat

Jalan Pak Bangsaku... Kami tetap mencintaimu)

Ria anak bangsa @ Senin, 28 Januari 2008 | 16:21 WIB
Wajar lah Ketua YLBHI berbicara seperti itu, karena dia merasa sudah
suci dan merasa dirinya paling benar dan tidak dan

proyek di jaman Pak Harto sedikit untuknya jadi susah korupsinya trus
demdam...Belajarlah menghargai Jasa Pahlawan (selamat

Jalan Pak Bangsaku... Kami tetap mencintaimu)

oni_want @ Senin, 28 Januari 2008 | 16:21 WIB
he he dunia panggung sandiwara demi duit kita harus bilang tidak suka,
demi duit kadang kita harus bilang suka namun jujur

aja belum ada tokoh nasional sekarang yang sekaliber pak harto dan
mungkin kita masih harus menunggu satrio piningit he he

oni_want @ Senin, 28 Januari 2008 | 16:21 WIB
he he dunia panggung sandiwara demi duit kita harus bilang tidak suka,
demi duit kadang kita harus bilang suka namun jujur

aja belum ada tokoh nasional sekarang yang sekaliber pak harto dan
mungkin kita masih harus menunggu satrio piningit he he

anak kampung @ Senin, 28 Januari 2008 | 16:19 WIB
benar apa yg d blg saudaraku anak bangsa memang bnr, kt hrs
mengghargai org apabila kt mau dihargai, siapa sih ketua YLBHI?

jng sok jd org ah..

anak kampung @ Senin, 28 Januari 2008 | 16:19 WIB
benar apa yg d blg saudaraku anak bangsa memang bnr, kt hrs
mengghargai org apabila kt mau dihargai, siapa sih ketua YLBHI?

jng sok jd org ah..

Lulu @ Senin, 28 Januari 2008 | 16:16 WIB
Bapak Patra M. Zen, yang terhormat. Saya yakin-seyakinnya bahwa
permintaan bapak akan proporsionalitas pemberitaan

meninggalnya seseorang akan sesuai pada saat bapak mengalaminya
sendiri. dan mohon jangan iri dengan Pak Harto bila hal itu

terjadi.

ronny @ Senin, 28 Januari 2008 | 16:15 WIB
Saya bukannya membela Pak Harto, tapi coba kita bayangkan dan lihat
perkembangan negara kita saat beliau msh menjadi Presiden

dulu dan saat ini yg sdh 4 kali ganti Presiden tapi kondisi rakyat
masih memprihatinkan. Biar bgmn juga Beliau banyak jasanya

thdp negara Indonesia ini. wajarlah kalau berbagai media berlomba2
memberitakan kepulangan Beliau, krn kharisma beliau sangat

kuat.

zerozeroseven @ Senin, 28 Januari 2008 | 16:14 WIB
Pertanyaannya, manakah Prinsip proporsionalitas dan alas hukum yg
rasional? Semua orang punya rasio yg menentukan pola pikir

dan tindakannya. Sementara kadar proporsionalitas bagi setiap orang
tidaklah sama dan bersifat subyektif. Jika memang ada

prinsip proporsionalitas dan alas hukum yg rasional, paling tdk
rambu-rambunya saja, tolong tunjukanlah kepada kami yg awam

ini. Dgn satu catatan, hrs bisa diterima oleh semua kalangan secara
obyektif. Jika tidak, jgn cemburu gitu dong Pak..!

dersa @ Senin, 28 Januari 2008 | 16:14 WIB
saya harap kasus pak harto bisa menjadi pembelajaran. semoga bangsa
ini bisa lebih bijak melihatnya. kita jangan terlalu

mengagung2kan dan jangan pula terlalu menghujat beliau. biarkan dosa
beliau itu tanggung jawab beliau kepada yang kuasa.

semoga hari esok bangsa ini menjadi lebih maju dan makmur bagi seluruh
rakyatnya.

wiyana @ Senin, 28 Januari 2008 | 16:11 WIB
Kenapa sih masih membicarakan dan mempermasalahkan orang yang sudah
meninggal ? coba pikirkan gimana memperbaiki kehidupan

masyarakat biar makmur tentram OK kan .

wiyana @ Senin, 28 Januari 2008 | 16:11 WIB
Kenapa sih masih membicarakan dan mempermasalahkan orang yang sudah
meninggal ? coba pikirkan gimana memperbaiki kehidupan

masyarakat biar makmur tentram OK kan .

anak bangsa @ Senin, 28 Januari 2008 | 16:11 WIB
bangsa yang besar bangsa yang menghargai jasa pahlawannya termasuk apa
yang sudah dibuat pak Harto dan saya yain bangsa

Indonesia adalah bangsa yang besar, tapi apa yang dilakukan oleh ketua
YLBHI saya jamin tidak akan pernah diingat oleh

masyarakat indonesiawahai ketua YLBHI yang suci kalau anda mau
dihargai orang coba menghargai orang terlebih dahulusalam anak

bangsa

anak bangsa @ Senin, 28 Januari 2008 | 16:11 WIB
bangsa yang besar bangsa yang menghargai jasa pahlawannya termasuk apa
yang sudah dibuat pak Harto dan saya yain bangsa

Indonesia adalah bangsa yang besar, tapi apa yang dilakukan oleh ketua
YLBHI saya jamin tidak akan pernah diingat oleh

masyarakat indonesiawahai ketua YLBHI yang suci kalau anda mau
dihargai orang coba menghargai orang terlebih dahulusalam anak

bangsa

Justin @ Senin, 28 Januari 2008 | 16:07 WIB
Sebenarnya ada plus minusnya Soharto, beliau sudah wafat tapi buat
saya keadilan harus ditegakkan. dan memang pemberitaan

mengenai kematian soharto terlalu berlebihan, jangan sampai
kroni-kroni soharto bisa leluasa bergerak. tunjukkan bahwa

Indonesia juga negara yang sadar HUKUM

Sphere: Related Content

No comments: