27.1.08

Politisasi kematian Pak Harto harus diwaspadai

Jakarta - Mantan Presiden Soeharto disanjung-sanjung saat meninggal dunia. Bahkan sejumlah media juga menggambarkan jasa-jasa Pak Harto selama menjabat presiden, tanpa ada yang menggambarkan kegagalannya. Opini seperti ini terlalu berlebihan, sehingga perlu diwaspadai.

Demikian yang dirasakan oleh budayawan yang saat ini menjadi Ketua Umum PNBK Indonesia Erros Djarot. Menurut dia, sebagai makhluk sosial budaya, wajar saja bila orang-orang menyampaikan duka cita atas meninggalnya Pak Harto dan mendoakannya.

"Secara pribadi, saya pasti turut berduka cita. Tapi, dalam konteks makhluk sosial budaya, dalam konteks politik, harus ada yang disesuaikan. Jangan sampai berlebihan. Kalau berlebihan seperti ini, saya khawatir politisasi kematian Pak Harto itu cukup kuat," ungkap Erros kepada detikcom, Minggu (27/1/2008) malam.

Erros menyesalkan banyaknya kroni Soeharto yang berkomentar seakan-akan Pak Harto memang luar biasa, sebagai pahlawan tanpa cacat sedikit pun. Begitu juga dengan opini-opini yang beredar di media massa.

"Ini kroni harus diwaspadai. Hati-hati. Sebab, para kroni ini sangat jahat, melakukan ini untuk kepentingan dirinya, bukan untuk kepentingan keluarga Cendana. Padahal, kroni-kroni ini juga mengakibatkan Pak Harto jatuh," kata Erros.

Boleh saja orang menghormati Pak Harto. "Tapi penghormatan yang berlebihan harus diwaspadai. Pihak keluarga harus waspada, karena para para kroni ini hanya berlindung di belakang kharisma Soeharto," jelas Erros.

Bendera Setengah Tiang

Mengenai permintaan pemerintah agar masyarakat mengibarkan bendera setengah tiang sebagai tanda berkabung untuk Pak Harto, Erros punya pendapat berbeda. "Kantor partai saya, taat hukum. Tapi, karena penyelesaian hukum kasus Pak Harto belum selesai, maka bila bendera setengah tiang dikibarkan, maka berarti itu pelecehan terhadap hukum," ujar dia.

Seharusnya kasus hukum Soeharto diperjelas dan diselesaikan terlebih dulu. "Harus adil. Bung Karno juga diperlakukan begitu, meski tidak perlu diungkit-ungkit, tapi perlu untuk memperlakukan Bung Karno dengan Pak Harto secara adil," ujar dia.

( asy / nrl ) detik.com: 28/01/2008 00:55 WIB

Sphere: Related Content

No comments: