14.1.08

Porsi pers untuk Soeharto terlalu besar

JAKARTA, KOMPAS - Terlalu banyak energi sudah dihabiskan untuk
menyiarkan konsisi mantan Presiden Suharto. Padahal, persoalan
kebangsaan yang dihadapi masyarakat sekarang masih banyak dan
membutuhkan perhatian ekstra.

"Bukan kita tidak menghormati dan tidak menghargai Soeharto, tetapi
kita tidak ingin bangsa ini terlalu mendayu-dayu dalam kesedihan yang
diciptakan media untuk menguras air mata rakyat," ujar Ketua Umum
Perhimpunan Jurnalis Indonesia Ismed Hasan Putro dalam pembukaan
refleksi tiga tahun PJI di Jakarta, Senin (14/1).Hadir pada acara ini
antara lain Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, anggota DPD La Ode Ida, dan
pengamat politik Paramadina Yudi Latif.

Dalam sambutannya, Hidayat mengingatkan, semua kebebasan di negara
Republik Indonesia harus mendasarkan diri pada konstitusi. Itu
sebabnya, proses kebebasan pers yang diperjuangkanpun harus sesuai
dengan konstitusi.

"Tergantung kita semua, dan kalangan pers sendiri, apakah kebebasan
pers itu hanya dihabiskan untuk memberitakan seputar RSPP,
menghadirkan hedonisme, kekerasan dan semua perilaku yang mungkin
bertentangan dengan ide kebebasan pers sendiri," ujarnya.

Wartawan: MAM
Kompas - 14 Januari 2008
 

Sphere: Related Content

No comments: