19.1.08

Roy Suryo Beber Keganjilan Supersemar

Tribun Jabar - Sabtu , 19 Januari 2008 , 20:12:43 wib


Kemal Setia Permana


BANDUNG, TRIBUN - Pegiat telematika dari Yogyakarta KRMT Roy Suryo, Sabtu (19/1) siang di Bandung membeberkan sejumlah dokumen dan keanehan terkait kontroversi Surat Perintah 11 Maret 1966.

Utamanya terkait otentifitas dokumen Supersemar yang beredar, dan aslinya yang tidak ditemukan hingga saat ini. Selebihnya merupakan penegasan bahwa Supersemar bukan surat perintah pemindahan kekuasaan, sebagaimana yang kemudian terjadi.

Bahan yang jadi sumber rujukan Roy Suryo merupakan dokumentasi di Lembaga Arsip Nasional. Pemaparan yang dihadiri sejumlah wartawan ini digelar di Blessing Room Lantai 6 Bandung Trade Centre (BTC) Jalan Djundjunan kemarin siang.

Dalam dokumentasi pidato Bung Karno sebelum dia diberhentikan, pendiri dan proklamator Republik Indonesia itu mengungkapkan kenyataan arti dan tujuan diberikannya Surat Perintah 11 Maret kepada Jenderal Soeharto waktu itu bukanlah untuk memberikan kekuasaan sebagai kepala negara.

Melainkan untuk mengamankan jalannya pemerintahan, termasuk pribadi presiden dan pengamanan hal-hal lainnya. Jika kemudian terjadi pemindahan kekuasaan secara pelan-pelan begitu Supersemar dikuasai Soeharto, kesimpulannya berarti ada penyelewengan.

Menurut Roy Suryo, riset kecil ini dilakukan lebih dari enam bulan. Dan dari riset itu ditemukan beberapa versi Supersemar yang oleh Roy dikategorikan dalam versi A, versi B, Versi C dan Versi D.

"Dari semua versi itu, saya menemukan bahwa versi D- lah yang mendekati asli," tutur Roy Suryo sembari memperlihatkan dokumen di laptopnya. Naskah versi D Supersemar yang diyakini asli itu, didapatkannya di Arsip Nasional.

Naskah itu terekam di sebuah film seluloid lama yang menggambarkan adanya sebuah naskah tahun 1966 yang sempat tersyut kamera video. Dalam film itu terdapat Jenderal Amir Mahmud dan Soeharto.

"Dengan menggunakan pengajian teknologi kita bisa melakukan pengajian usia dari film seluloid ini dan juga pengajian teknik pengambilan gambarnya," jelas Roy kemarin. Dari sinilah, tutur Roy, dia membandingkan naskah itu dengan naskah Supersemar versi lain yang selama ini beredar.

"Kemudian saya melakukan uji sederhana dengan membandingkan keempat naskah itu," ujarnya sambil menandaskan terdapatnya beberapa perbedaan mendasar dari keempat naskah ini.

Roy pun mengaku mencari referensi lain, yaitu sebuah film dokumenter yang memuat pidato kenegaraan Bung Karno pada 17 Agustus 1966. Disebut terakhir kali karena menurut Roy setelah itu kemudian ada sidang MPRS di mana Bung Karno dicopot dari jabatannya sebagai
presiden.

"Dari sidang itu juga saya mendapatkan pidato Bung Karno yang disebut Nawaksara yang dikenal sebagai pidato akhirnya sebagai presiden," tambahnya Dari pidato inilah Bung Karno menyatakan arti sebenarnya dari Supersemar bahwa Supersemar bukan surat perintah
penyerahan kekuasaan.

"Dari sini saya mengajak masyarakat mari kita bersama-sama berani mengatakan yang sebenarnya, bahwa untuk mencari naskah Supersemar yang asli, sebenarnya tidak perlu terlalu repot. Tidak mungkin kalau sebuah naskah penting itu hilang begitu saja," kata Roy.(xna)


Sejumlah Keganjilan

* Ada setidaknya empat versi Surat Perintah 11 Maret yang beredar

* Ada satu versi yang diduga asli karena terdokumentasi film seluloid

* Dari empat versi yang beredar, perbedaan meliputi kop surat dan letak tandatangan

* Di versi yang diduga asli, setiap sub judul digaris bawah, yang tiga versi tidak

* Ada juga perbedaan tata cara atau justifikasi penulisan, spasi dan jarak antar kalimat

Sphere: Related Content

No comments: