12.1.08

Saat Generasi MTV Meliput Pak Harto

REPUBLIKA

Rabu, 09 Januari 2008


Mereka datang laksana air bah ke Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP),
begitu mengetahui Soeharto terbaring di sana sejak Jumat (4/1) pukul 14.15
WIB. Ada tokoh pemerintah, tokoh politik, artis, mantan pejabat, hingga
wartawan. Hari pertama Pak Harto menempati Presidential Suite, lantai 5,
kamar 536, pengunjung belum banyak.

Yang terlihat hanya orang dekat seperti Wismoyo Arismunandar, Prabowo
Subianto, dan Moerdiono. Tapi, Sabtu (5/1) siang hingga malam, lobi Gedung
A RSPP tak henti-hentinya kedatangan mobil mewah. Hari itu, memang
terbetik kabar bahwa kondisi kesehatan Pak Harto menurun, bahkan sempat
kritis.

Karangan bunga juga terus berdatangan. Jumat, karangan bunga langsung
diantar ke lantai lima. Sabtu, sudah memenuhi lobi seluas dua kali
lapangan bulu tangkis. Selasa (8/1) siang, karangan bunga itu dilokalisasi
di lorong menuju lift Gedung A. Sebagian besar terlihat sudah layu. Sejak
Jumat malam, wartawan media cetak dan elektronik tumplek blek di RSPP.
Pada Jumat, Sabtu, dan Ahad, jumlahnya 70-an orang. Kemarin, saat kondisi
Pak Harto dikabarkan drop kembali, jumlahnya mencapai di atas 100.

Mereka bukan cuma menunggu di lobi Gedung A. Mereka juga nongkrong dekat
kamar jenazah, kantin samping Gedung A, hingga ruang UGD. Berharap ada
tokoh atau dokter yang datang atau pulang lewat jalan belakang.
Mencegatnya, untuk mendapatkan informasi eksklusif.

Camelia Malik, Bustanul Arifin, Moerdiono, dan Hayono Isman, yang saban
hari datang, punya pola berbeda. Camelia Malik selalu datang lewat pintu
depan, pulang lewat pintu belakang. Moerdiono dan anak-anak Soeharto,
datang dan pulang lewat belakang, dekat kamar jenazah. Hayono Isman dan
Bustanul Arifin yang selalu lewat depan. Kemarin, Halimah juga lewat
belakang, dekat kantin.

Sejak Jumat, tunggu-menunggu di Lobi Gedung A RSPP tak kunjung surut.
Maklum, jumpa pers kondisi kesehatan Pak Harto, hanya dilakukan pagi. Tak
ada penjelasan pada siang, sore, dan malam hari. Padahal, laporan harus
selalu disetor. Alhasil, setiap tokoh yang ingin atau sudah menjenguk Pak
Harto, setiap mobil yang berhenti di depan lobi, langsung diserbu. Bagi
yang wajahnya sudah familiar, tentu mudah dimintai keterangan. Lain soal
kalau tak dikenal.

Masalah kenal-mengenal ini ada cerita tersendiri. Peliput kebanyakan
wartawan muda, generasi MTV yang lahir akhir 1970-an atau awal 1980-an.
Sementara pengunjung rata-rata menjadi pejabat saat para wartawan masih
berseragam merah putih atau putih biru. Di situlah serunya. Sabtu sore,
dari mobil mewah berwarna gelap, seseorang bertampang pejabat berhenti di
depan lobi Gedung A. Sontak, wartawan bergerak merubungnya. Kamera siap
merekam dan menjepret, reporter sudah menyorongkan mic dan alat perekam
lain, rentetan pertanyaan sudah disiapkan.

Tapi, begitu sang pejabat keluar dari mobil, jreeengggg, tak seorang pun
mengenalinya. Sunyi sejenak. Para wartawan melongo, menoleh ke kiri dan
kanan.
''Sapa tuh?''
''Siapa ya?'' Celetukan itu bertaburan.
''Kenal gak?''
''Nggak tuh. Menteri kali?''
Tapi, dengan kadar kecuekan tingkat tinggi, para reporter langsung
memberondongnya, ''Pak, namanya siapa?''
''Mau jenguk Pak Harto, ya?''
''Pak, dulu jabatannya apa?''
Mulanya, dia kaget. Tapi kemudian senyam-senyum. Begitu pula wartawan yang
sampai akhir tak berhasil mengorek identitasnya.
Tebak-tebakan pun muncul. ''Kayaknya mantan menteri pertambangan dulu deh.
Wajahnya sih mirip Pak Sadli.''
''Heh, menteri tahun berapa tuh?'' tanya wartawan lain.
''Ah, bukan tuh. Wajahnya mirip Bustanul Arifin, mantan menteri koperasi.''
Wartawan lain, dengan wajah bingung, bertanya, '''Hah? Bustanul siapa?''

Sampai Senin (7/1), peristiwa serupa masih terulang, saat seseorang turun
dari Volvo di depan lobi Gedung A. ''Mau jenguk Pak Harto, Pak?'' Dia
menjawab, ''Iya.'' Tapi, usai wawancara, para wartawan kembali saling
pandang, ''Siapa tadi ya?''
Mengorek informasi dari karangan bunga, juga punya kisah unik. Biasanya,
begitu karangan bunga masuk lobi, para wartawan langsung merubung kurir.
Suatu ketika, melihat kartu nama bertulis Anthony terselip di karangan
bunga lili, seorang wartawan bergumam, ''Wah, jangan-jangan dari Anthony
Salim.''

Kendati belum pasti, seorang wartawan yang mendengarnya langsung membuat
pengumuman: ''Eh, ada karangan bunga dari Anthony Salim.'' Tapi, sambil
melongo, sebagian wartawan malah bertanya, ''Siapa tuh Anthony Salim?''

Ada lagi yang aneh bin ajaib. Jumat lalu, melihat kurir susah payah
mengangkat pot besar, seorang wartawan televisi bertanya, ''Karangan bunga
dari siapa, Pak?'' Sang kurir menjawab sekenanya, ''Tidak tahu, Mas.
Katanya sih dari Fuad Hassan.''
Dan, si wartawan langsung menyebarkannya. ''Fuad Hassan ngirim karangan
bunga, tuh.''
Terang saja protes muncul. ''Mana mungkin?! Salah kali lu.''
Tapi dia ngotot. ''Gimana salah? Kurirnya yang bilang sendiri.'
' Dengan kesal, wartawan lain meledek. ''Woi! Fuad Hassan udah
meninggal. Gimana bisa ngirim karangan bunga?''
Masih ada lagi. Melihat Sudwikatmono yang punya ikatan darah dengan Pak
Harto tiba di lobi, dia langsung diserbu dan diberondong pertanyaan.
''Bagaimana kondisi Pak Harto, Pak?''
''Sudah bisa berkomunikasi?''
''Selang di tubuhnya ada berapa, Pak?''
''Anak-anaknya lengkap Pak?''
''Ada Tommy, Pak?''
Mulut pengusaha yang berjalan tertatih dipapah ajudannya itu sempat
bergumam, tapi tak sepatah kata pun keluar. Tapi, berondongan pertanyaan
tak berhenti, sampai dia naik mobil. Seorang polisi geleng-geleng kepala
melihat kejadian itu. ''Busyet dah, wartawan. Tega bener. Udah liat jalan
gitu masih aja ditanya. Untung gak pingsan,'' katanya, sambil tersenyum.
Ya, namanya juga wartawan, Pak. evy
( )

Sphere: Related Content

No comments: