15.1.08

Sakit dan Maut

Setiap orang pasti akan sakit dan menghadapi maut. Apakah sakit dan apakah maut itu? Hehehe…ah, saya tidak ingin menggurui anda, hanya sekadar untuk sharing saja.
Fuad Hassan (kini sudah almarhum) menulis sebuah buku yang menarik, sehingg saya membacanaya berulangkali. Judulnya Berkenalan Dengan Eksistensialisme. Dalam buku ini, Fuad menulis tentang lima filsuf eksistensialisme, yaitu Kierkegaard, Nietzsche, Berdyaev, Jaspers dan Sartre.
Karl Jaspers menyebutkan bahwa manusia selalu berada dalam situasionalitas, atau situasi tertentu. Istilahnya situasi batas (grentzsituationen). Saya kutipkan selengkapnya,"Kita bisa menghindarkan  diri dari suatu situasi; kita bisa melarikan diri dari suatu situasi. Akan tetapi ini berarti bahwa kita akan tiba pada situasi lainnya. Kenyataan bahwa kita  ada sebagai manusia adalah selalu ada-dalam-situasi tertentu yang tidak mungkin dihindari oleh manusia. Manusia adalah manusia-dalam situasi." (Fuad Hassan, hal. 103)
Ada beberapa situasi batas, diantaranya penderitaan dan maut. Penderitaan di sini bisa berupa sakit. Penderitaan ini (baca: sakit) adalah sesuatu yang harus ditanggung sendiri dan tidak bisa dipertukarkan dengan orang lain.
Jadi kalau anda sakit, anda cuma bisa menjalaninya dan tak bisa menukarnya dengan orang lain, sekalipun anda punya uang segunung, atau punya pasukan pengamanan yang siap menggantikan. Hehehe…tulisan ini memang terinspirasi dari sakitnya Eyang Soeharto.
Situasi batas yang paling final adalah maut. Fuad menulis,"Maut melekat pada eksistensi sebagai suatu situasi-batas yang tidak bisa dielakkan. Apakah sebenarnya maut itu, kita tidak tahu. Yang pasti ialah bahwa maut akan mengakhiri eksistensi pada suatu saat yang tidak  bisa ditentukan sebelumnya. Mors certa, hora incerta. Bahwa maut itu pasti, tidak akan  mungkin  kita sangkal. Bila maut tiba dan apa sebenarnya maut, itulah  yang pasti tak kkita ketahui. Betapapun  juga, maut adalah batas terakhir eksistensi. " (Fuad Hassan, hal. 104 – 105)
Sebagai pembanding, saya berikan juga pandangan Jean-Paul Sartre tentang maut ini. Bagi Sartre, maut adalah sesuatu yang absurd. Maut tidak bisa ditunggu saat tibanya, sekalipun bisa dipastikan akan tiba. (Fuad Hassan, hal. 130)
Ditambahkan oleh Sartre, bahwa maut juga tidak mempunyai makna apa-apa bagi eksistensi sebab begitu maut tiba, eksistensi pun selesailah; dengan tibanya maut eksistensi menjadi esensi. Dengan perkataan lain,  bagi Sartre,  maut adalah sesuatu yang berada di luar eksistensi. (Fuad Hassan, hal. 131)
Soal maut ini, ada satu pertanyaan yang selalu menggantung dalam pikiran saya. Kita  sebagai manusia selalu datang dengan cara yang sama, melalui rahim ibu setelah dikandung selama 9 bulan 10 hari. Tetapi mengapa kita selalu pergi dengan cara yang berbeda-beda?
 
Ada yang  meninggal dengan damai dan tenang di atas ranjangnya dalam keadaaan tidur, ada yang setelah shalat, ada yang  setelah bermain tennis, tetapi ada juga yang mati ketabrak bus, terkena ledakan bom, terkena peluru nyasar, mati di medan perang, dan lain-lain. Kenapa kita harus pergi dengan cara yang berbeda-beda?
Saya sempat mendapat sebuah jawaban dari seorang pemerhati masalah-masalah metafisika, Ibu Sita Soedjono yang tinggal di Ciawi, Bogor. Tetapi jawaban tersebut, mungkin lebi baik disimpan saja untuk saya sendiri, saat ini.
Selebihnya kita hanya bisa percaya  bahwa lahir, jodoh, rezeki dan mati ada di tangan Tuhan. Walau kita juga tidak tahu, di tangan kiri atau di tangan kanan-Nya. ***
 
 
16 Januari 2008, Urip Herdiman Kambali
 
 
 

Sphere: Related Content

No comments: